BALIEXPRESS.ID - Bagi sebagian besar masyarakat, seks masih menjadi topik tabu yang jarang dibicarakan secara terbuka. Stigma negatif seolah menutup ruang untuk mendiskusikan ataupun memberikan edukasi tentang hal tersebut.
Namun, di balik pandangan umum ini, Tantra, salah satu ajaran Hindu memiliki sudut pandang yang berbeda.
Dalam ajaran Tantra, seks justru dianggap sebagai jalan menuju penyatuan dengan Tuhan. Bagaimana seks dapat berhubungan dengan spiritualitas dalam ajaran ini?
Dalam Tantra, seks dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan spiritual, sebuah cara untuk menyatu dengan Shiva Shakti, atau energi purusa dan prakerti.
Hal ini diungkapkan oleh DR. I Gede Suwantana, M.Ag, Dosen Fakultas Brahma Widya, UHN Sugriwa Denpasar.
Ia menjelaskan bahwa dalam ajaran Tattwa Siwa, seks adalah proses spiritual yang dianggap suci.
"Seks merupakan perilaku suci karena melalui penyatuan ini, kita kembali kepada Shiva Shakti, yaitu purusa dan prakerti," paparnya.
Seks Setara dengan Kesucian Pratima di Pura
Lebih lanjut, dalam teks Tantra seperti Vijnanabhairava, hubungan suami istri atau seks dianggap setara dengan kesucian pratima yang ada di pura.
"Mengapa seks dianggap setara dengan kesucian pratima? Karena dalam Tantra, seks adalah penyatuan purusa dan prakerti yang melambangkan Shiva Shakti. Dengan cinta dan kasih sayang, penyatuan ini melahirkan kehidupan baru, yang membuat perilaku seksual dianggap suci," jelas Suwantana.
Namun, meski dianggap suci, hubungan seksual menurut Tantra tidak boleh dilakukan sembarangan.
Hubungan ini harus melalui ikatan pernikahan yang disucikan oleh rangkaian upacara khusus.
Jika dilakukan di luar pernikahan, perilaku tersebut dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap ajaran Shiva Shakti.
Rahasia di Balik Kesucian Hubungan Seksual dalam Tantra
Suwantana mengutip teks Rsi Sembina yang menjelaskan bahwa ketika seorang istri mengalami orgasme, delapan dewa suci bersemayam dalam tubuhnya, di antaranya Dewa Brahma, Wisnu, Indra, hingga Iswara.
"Karena adanya kehadiran kedelapan dewa suci ini, hubungan seksual dalam Tantra dianggap sangat sakral dan suci," tuturnya.
Selain itu, Tantra juga menggunakan simbol-simbol seksual dalam menggambarkan aspek-aspek Ketuhanan.
Salah satu simbol kuno yang paling dikenal adalah Lingga Yoni, bentuk pemujaan terhadap kesuburan yang tersebar hampir di seluruh dunia sejak zaman purba.
Konsep ini menegaskan bahwa penyatuan antara aspek maskulin dan feminin adalah esensial dalam kehidupan.
Chinnamasta: Dewi Pengendali Energi Seksual
Dalam Tantra, hubungan seksual juga dianggap sebagai cara untuk merasakan kesatuan dengan Ilahi melalui pengendalian energi seksual.
Hal ini tercermin dalam figur Dewi Chinnamasta, yang digambarkan berdiri di atas sepasang manusia yang sedang bercumbu.
Ia memotong kepalanya sendiri dan dari sana mengalir tiga pancuran darah yang diminum oleh kepalanya.
"Ini melambangkan pengendalian diri atas dorongan seksual dan pertumbuhan energi seksual yang terkendali," ungkap Suwantana.
Dengan pandangan yang unik ini, Tantra tidak hanya melihat seks sebagai kebutuhan jasmani, tetapi sebagai cara untuk mencapai penyatuan spiritual dengan Tuhan.
Apakah ajaran Tantra ini bisa meruntuhkan stigma tabu di masyarakat? Atau justru memperkaya pemahaman spiritual tentang seks? Mari kita terus telusuri rahasia di balik ajaran Tantra yang menarik ini!
Berikut adalah beberapa fakta penting yang dapat diambil dari pembahasan tentang hubungan antara seks dan spiritualitas dalam ajaran Tantra:
-
Seks dalam Tantra Dianggap Suci
- Dalam ajaran Tantra, seks tidak dianggap sebagai sesuatu yang tabu, melainkan sebagai proses spiritual yang suci. Hubungan seksual dianggap sebagai cara untuk menyatukan diri dengan Shiva Shakti, simbol dari energi maskulin (purusa) dan feminin (prakerti).
-
Kesucian Seks Setara dengan Pratima di Pura
- Dalam teks Vijnanabhairava, hubungan seks disetarakan dengan kesucian pratima (simbol sakral) yang ada di pura. Seks dilihat sebagai pertemuan spiritual yang penuh cinta, melambangkan penciptaan kehidupan baru.
-
Seks Harus Dilakukan dalam Pernikahan
- Tantra mengajarkan bahwa seks hanya boleh dilakukan dalam ikatan pernikahan yang disucikan oleh upacara ritual. Hubungan seksual di luar pernikahan dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap Shiva Shakti.
-
Delapan Dewa Suci Bersemayam saat Orgasme
- Menurut Rsi Sembina, ketika seorang istri mencapai orgasme dalam hubungan suami istri, delapan dewa suci, termasuk Dewa Brahma, Wisnu, dan Indra, bersemayam dalam tubuhnya. Ini yang membuat hubungan seksual dalam Tantra dianggap sangat sakral.
-
Simbol Seksual dalam Pemujaan
- Tantra menggunakan simbol Lingga Yoni sebagai lambang penyatuan energi maskulin dan feminin. Pemujaan Pallus (Lingga) merupakan permohonan untuk kesuburan dan merupakan bentuk pemujaan kuno yang tersebar di seluruh dunia sejak zaman purba.
-
Chinnamasta: Simbol Pengendalian Energi Seksual
- Dewi Chinnamasta dalam Tantra digambarkan sebagai simbol pengendalian diri dan pertumbuhan energi seksual. Hubungan seksual dalam ajaran ini dianggap sebagai sarana untuk mencapai kesatuan spiritual dengan Ilahi melalui pengendalian dan transformasi energi seksual.
-
Tantra dan Aspek Ketuhanan
- Beberapa teks Tantra menggunakan simbol-simbol seksual untuk menggambarkan aspek Ketuhanan, menegaskan bahwa seks bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi juga bagian dari perjalanan spiritual untuk mencapai pencerahan dan kesatuan dengan Tuhan.
Fakta-fakta ini menekankan bahwa ajaran Tantra memberikan pandangan yang mendalam tentang seks sebagai bagian penting dari kehidupan spiritual, yang sangat berbeda dari pandangan umum masyarakat yang menganggapnya tabu. ***
Editor : I Putu Suyatra