Pada hari kedua, pementasan dilakukan setelah upacara penek banten balun yang disebut wayon, sedangkan pada hari ketiga atau hari penutup yang disebut pamuput. Pementasan tari-tarian, termasuk Tari Rejang dilakukan setelah selesai kegiatan penyuduran banten balun, yaitu pada urutan acara keenam
Dosen Seni STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Luh Putu Cita Ardiyani, M.Sn yang sempat melakukan riset terkait Tari Rejang pada upacara Saba Malunin memaparkan, Tari rejang yang dipentaskan pada saat wayon berjumlah 4 tarian.
Urutan pementasan Tari Rejang diawali oleh Kebayaan Daa yang berjumlah 1-2 orang dengan menarikan Tari Rejang Akilukan. Adapun urutan pementasan Tari Rejang pada Saba Malunin di Desa Pedawa
Tari Rejang Akilukan ditarikan oleh Kebayan Daa, dengan gerakan terdiri dari 2 gerakan pokok yakni pertama gerak kiri.
“Tari Rejang Akilukan memiliki ciri jika gerakan kiri ini dimulai dengan gerakan mengayunkan tangan dari kanan kemudian akan berakhir dengan agem kiri sambil menggelengkan kepala. Gerak kiri ini dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan,” sebutnya.
Gerak ke kiri 3 kali pengulangan. Kedua adalah gerak kanan yang merupakan kebalikan dari gerak kiri, dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali.
Kemudian Tari Rejang Beneh/Biasa ditarikan oleh seluruh daa desa yang hadir di hari itu dengan menggunakan busana Tari Rejang. Tari Rejang Beneh/Biasa ini dilakukan melingkar sebanyak 5 kali.
Setelah menarikan Tari Rejang Beneh/Biasa selanjutnya daa desa boleh memilih tari apa yang akan ditarikan sesuai kesepakatan bersama seperti Tari Rejang Depa, Tari Rejang Lilit Penyalin, Tari Rejang Sirig Kesamping, Tari Galuh, Tari Rejang Puser Gantung, Tari Rejang Renteng, Tari Rejang Kepet, Tari Pengecek Galuh atau Tari Rejang Kebo Anyar.
“Contohnya Rejang Sirig Kesamping, Tari Rejang ini dilakukan oleh seluruh daa desa sebanyak 1 kali putaran. Gerakan Tari Rejang ini terdiri dari 2 gerakan pokok yakni gerak kanan dan gerak kiri,” paparnya.
Selanjutnya, pementasan Tari Rejang Lelegongan ini adalah Tari Rejang terakhir yang dipentaskan pada saat wayon. Tari Rejang ini dilakukan oleh seluruh daa desa sebanyak 1 kali putaran.
Setelah pementasan tari-tarian diatas kegiatan selanjutnya adalah persembahyangan bersama sekaligus sebagai tanda berakhirnya upacara wayon, kemudian Saba Malunin akan dilanjutkan keesokan harinya yakni pada hari pamuput.
pementasan Tari Rejang pada saat hari pamuput adalah diawali dengan Tari Rejang Akilukan yang ditarikan oleh 1-2 orang Kebayan Daa
Selanjutnya Tari Rejang Lelangkaran ini ditarikan oleh semua daa desa dan dilakukan sebanyak 11 kali putaran mengelilingi pura.
Hal yang membuat Tari Rejang ini berbeda dari yang lain adalah iringan nyanyian (kidung) khas Pedawa.
Setelah melakukan 7 kali putaran, biji botor (kacang polong) dan tuak (nira) akan dilemparkan ke hadapan Pura Patokan dan disertai sorakan masyarakat yang menandakan kebahagiaan dan rasa syukur masyarakat akan perayaan Saba Malunin.
“Tari Rejang Lelangkaran ini menjadi tari yang khusus dipentaskan pada Saba Malunin dan tidak dipentaskan pada Saba lainnya,” ungkapnya.
Proses pementasan berlanjut dengan menarikan Tari Rejang Tali Gayung. Tarian ini dilakukan sebanyak 1 kali putaran mengelilingi pura.
Tari Rejang Tali Gayung dilakukan oleh semua daa desa. Gerakan Tari Rejang ini terdiri dari 2 gerakan pokok yakni gerak kanan dan gerak kiri.
Tari Rejang Ngelaisang ini dilakukan sebanyak 1 kali putaran mengelilingi pura. Tari Rejang Tali Gayung dilakukan oleh semua daa desa. Gerakan Tari Rejang ini terdiri dari 2 gerakan pokok yakni gerak kanan dan gerak kiri.
Tari Rejang Ngelaisang ini merupakan tari terakhir sekaligus sebagai tari penutup. Penari melakukan gerakan tari ini hingga ke jaba Pura dan setelah memasuki pintu keluar penari harus langsung pulang ke rumah tidak boleh lagi masuk ke pura dengan menggunakan busana Tari Rejang.
Hal ini diyakini oleh masyarakat sebagai upaya untuk menjaga kesakralan Tari Rejang ini.
Karena apabila penari tidak langsung pulang ke rumah untuk berganti busana masyarakat khawatir apabila penari melakukan hal-hal yang dapat mengurangi kesucian tari ini. Hal ini disampaikan oleh Ketua Daa yakni Merning sebagai berikut.
“Setelah pementasan tari terakhir yakni tari ngelaisang, penari akan terus menari sampai pada jaba pura hingga keluar pura.
Setelah itu penari harus langsung pulang ke rumah. Makanya harus ada orang-orang yang siap di luar pura untuk menghantarkan penari ke rumah.
Tujuannya adalah supaya penari tidak berkeliaran menggunakan busana tari karena tari ini sangat sakral.
Berbeda dengan tari rejang pada umumnya, biasanya penari tidak langsung pulang ke rumah.
Banyak penari yang masih berkeliaran di pura melakukan kegiatan-kegiatan seperti biasa, kalau di Pedawa ini dilarang karena takut mengurangi kesucian Tari Rejang ini
Ia menambahkan, Tari Rejang Desa Pedawa sangat dijaga kesakralannya. Selain tidak boleh dipentaskan pada waktu dan sembarang tempat, ternyata busana tari ini juga tidak boleh digunakan sembarangan.
Maka dari itu para penari diharuskan pulang untuk berganti pakaian dahulu dengan pakaian adat ke pura apabila ingin kembali lagi ke pura.
Apabila para penari ingin berfoto atau mengabadikan waktu ngayahnya dapat dilakukan sebelum dilakukannya nunas pakuluh oleh Ketua Daa.
“Karena dengan adanya nunas pakuluh menandakan bahwa para penari sudah memohon ijin kepada Bhatara-Bhatari yang ada di pura itu dan sudah mempersiapkan diri untuk siap merejang,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika