BALIEXPRESS.ID - Umat Hindu Bali mengenal otonan atau hari kelahiran dalam kalender Bali. Ini mungkin seringkali dipandang sebelah mata dan kerap dilewatkan begitu saja.
Padahal, ritual ini bukan hanya sekedar ‘ulang tahun’ biasa yang datang setiap enam bulan.
Otonan memiliki filosofi mendalam yang ditandai dengan rangkaian banten khusus serta doa yang sarat makna, menjadi momen penting untuk merayakan kelahiran dalam konteks spiritual yang berbeda.
Jika di luar Bali banyak dari kita merayakan ulang tahun setiap tanggal lahir, dalam budaya Bali, Otonan justru dirayakan setiap 210 hari sekali sesuai perhitungan kalender Bali.
Ida Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa, seorang sulinggih dari Mengwi, menjelaskan bahwa ritual Otonan didasari oleh tradisi Hindu Bali yang telah turun-temurun disebut dalam Lontar Jyotisha dan Pawacakan.
Dalam ritual ini, setiap orang diajak bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan hidup baru bagi sang jiwa yang bereinkarnasi.
“Otonan berasal dari bahasa Jawa kuno, kata ‘weton’ yang berubah menjadi ‘oton’ dan berarti lahir atau menjelma,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) baru-baru ini.
Menghitung Hari Otonan: Tidak Sembarang Tanggal
Menentukan hari Otonan ternyata tidak semudah menentukan ulang tahun biasa.
Dalam tradisi Hindu Bali, perhitungan Otonan melibatkan sistem sapta wara, panca wara, dan wuku, yang diyakini mampu memengaruhi perilaku dan perjalanan hidup seseorang.
“Setiap elemen tersebut berperan besar, sehingga penetapan hari Otonan harus benar-benar cermat,” jelasnya.
Secara etimologis, Otonan adalah perayaan kelahiran dalam budaya Bali yang bermakna syukur dan berkah.
“Pada Otonan, kita diberikan kesempatan untuk melanjutkan kehidupan sebagai bagian dari pembayaran karma masa lalu,” lanjutnya.
Pada prosesi Otonan, byakala atau prayascita menjadi inti ritual untuk membersihkan diri dari kotoran batin, menjauhkan dari gangguan Bhutakala, dan mendoakan kebersihan jiwa.
Catur Sanak: Mengingat dan Berbagi dengan Saudara Gaib
Selain rasa syukur, Otonan juga menjadi momen untuk mengingat catur sanak atau empat saudara gaib yang lahir bersama kita—darah, ketuban, plasenta, dan ari-ari.
Lewat Otonan, seseorang mempersembahkan doa dan persembahan sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih.
“Upacara ini mengajak kita berbagi rasa syukur atas hidup yang telah Tuhan berikan, bersama keempat saudara kita,” ungkap Ida Pandita.
Dalam Otonan, beberapa perlengkapan upakara yang wajib digunakan adalah banten pajati, banten dapetan, sesayut pawetuan, dan segehan.
“Banten pajati dipersembahkan kepada Bhatara Guru di rong telu, sesayut pawetuan dipersembahkan kepada jiwa yang telah lahir, sedangkan segehan ditujukan kepada Bhutakala sebagai bentuk pembersihan diri,” lanjutnya.
Mantra dan Doa dalam Prosesi Otonan
Setiap tahapan dalam Otonan diiringi dengan mantra sakral, seperti Mantram Mabyakala untuk menghilangkan segala kotoran dan gangguan dalam diri:
-
Mantram Mabyakala atau Byakaon
“Om shang bhuta nampik lara sang bhuta nampik rogha, sang bhuta nampik mala, undurakna lara roga wighnanya manusanya. Om sidhirastu Yanama Swaha.” -
Sesayut Bayu Rauh Sai:
“Om sanghyang jagat wisesa, metu sira maring bayu, alungguh maring bungkahing adnyana sandi, Om Om sri paduka guru ya namah.” -
Mantram Matebus Benang:
“Om angge busi bayu premana maring angge sarire.” -
Mantram Masesarik untuk membersihkan bagian tubuh:
- Kening: “Om sri sri ya nama swaha.”
- Bahu kanan: “Om anengenaken phala bhoga ya nama swaha.”
- Bahu kiri: “Om angiwangaken pansa bhaya bala rogha ya nama swaha.”
- Telapak tangan: “Om ananggapaken phala bhoga ya nama swaha.”
Otonan menjadi lebih dari sekadar hari ulang tahun biasa, tetapi sebuah ritual syukur penuh makna yang mengajak kita untuk merawat jiwa, menyucikan diri, dan menghormati asal mula kehidupan. ***