Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Catat! Tak Melakukan Yadnya Sesa Usai Memasak sama dengan Maling

I Putu Mardika • Minggu, 27 Oktober 2024 | 19:45 WIB

Nasi untuk dipersembahkan sebagai Yadnya Sesa usai memasak atau sebelum makan
Nasi untuk dipersembahkan sebagai Yadnya Sesa usai memasak atau sebelum makan
BALIEXPRESS.ID-Umat Hindu Bali senantiasa melaksanakan ritual Yadnya Sesa setiap hari setelah memasak. Ritual Yadnya Sesa yang juga disebut Mesaiban ini menjadi sebuah kewajiban sebagai simbol Syukur atas kesejahteraan yang diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Yadnya Sesa merupakan dilakukan setiap hari oleh setiap umat Hindu setelah memasak dan sebelum makan. Yadnya Sesa atau juga saiban atau juga disebut ngejot.

Tradisi yadnya sesa ini pada dasarnya ungkapan rasa syukur atas karunia Ida Hyang Widhi Wasa dalam praktik, bahwa semua yang ada karena Tuhan dan karena itu sebelum menikmatinya, maka terlebih dahulu harus dipersembahan kepada-Nya.

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Gianyar, Ketut Winta Naya menjelaskan Jika tidak mempersembahkannya, maka sesungguhnya ia tidak bedanya dengan maling. Yadnya sesa bagian dari Bhuta Yadnya yang dilakukan setiap hari (nitya karma).

Yadnya sesa adalah perwujudan kasih sayang terhadap semua makhluk hidup di alam, itu sebabnya praktik yadnya sesa merupakan perwujudan dari kasih sayang terhadap semua makhluk yang dalam bahasa Bali disebut sarwa prani.

“Yadnya sesa merupakan aktivitas persembahan yang paling kecil dan sederhana, tetapi dilakukan setiap hari,” jelasnya.

Yadnya sesa biasanya dilakukan minimal di lima tempat penting. Diantaranya Pertiwi (tanah) dibiasanya ditempatkan pada pintu keluar-masuk rumah; Apah (air) ditempatkan di sumur atau tempat menyimpan air;

Kemudian Yadnya Sesai dilakukan pada tempat Teja (api) ditempatkan di dapur atau secara spesifik di tungku atau kompor; Bayu ditempatkan pada beras bisa juga ditempatkan pada nasi yang telah dimasak; dan Akasa, ditempatkan pada tempat sembahyang, bisa pelinggih meraja atau plangkiran.

Ia menjelaskan, tata cara membuat yadnya sesa diawali dengan mengambil daun pisang, atau kertas, lalu potong-potong kecil atau dapat juga menggunakan cawan kecil.

Cuci agar bersih, lalu daun, kertas, cawan dipergunakan untuk tempat manuruh sejumput nasi hasil memasak pagi hari itu, diisi lauk-pauk yang juga dimasak hari itu, lalu persembahkan.

Lalu, bagaimana jika tidak memasak lauk, maka yang dipersembahkan cukup nasi dengan garam saja?

Dikatakan Ketut Winta, pelaksanaan Yadnya sesa mengacu pada perintah Tuhan sebagaimana termuat dalam kitab Manawa Dharma Sastra Adhiyaya III, Sloka 69 dan 75 yang menyatakan bahwa “Dosa-Dosa yang kita lakukan saat mempersiapkan hidangan sehari-hari itu bisa dihapus dengan melakukan yadnya sesa”.

Artinya, jika kita ingin hidup ini terbebas dari dosa, salah satunya dapat dilakukan dengan melaksanakan persembahan harian dan terkecil. Jika kita menginginkan hidup Bahagia dan Sejahtera lahir batin, maka kita harus melaksanakan yadnya sesa.

Dalam sumber lainnya, dalam kitab Bhagawadgita III. 12-13 menyatakan bahwa: “Sesungguhnya untuk mendapatkan kesenangan telah diberikan kepadamu oleh para Dewa karena Yadnyamu, sedangkan ia yang telah memperoleh kesenangan tanpa memberi yadnya, sesungguhnya adalah pencuri.

Ia yang memakan sisa yadnya akan terlepas dari segala dosa, tetap ia yang memasak makanan hanya bagi dirinya sendiri, sesungguhnya makan dosa. Penegasan ini penting untuk menekankan betapa yadnya atau persembahan sebelum makan itu penting, agar terhindar dari predikat pencuri.

“Tuhan sebagai pencipta semua isi alam, dan ketika manusia memakan hasil ciptaannya tanpa melakukan persembahan sebelumnya, maka pencurilah dia dan berdosalah mereka,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #teja #Bayu #pertiwi #Yadnya Sesa #maling #hindu #ngejot #Mesaiban #saiban