Pura ini memiliki keunikan yakni di Utama Mandala terdapat bangunan yang disucikan dan dipuja oleh penduduk sekitar yang berbentuk stupa yang merupakan tempat suci bagi umat Budha yang berdampingan dengan tempat suci atau palinggih yang berasal dari Agama Hindu
Bahkan, pada masa lalu pernah berdiri bangunan suci Agama Budha. Bangunan tersebut telah dipugar dan kini berupa stupa, yang sekarang dapat dijumpai pada halaman utama atau utama mandala dari Pura Pegulingan.
Pura ini memiliki sejarah yang berkaitan erat dengan masa kejayaan Kerajaan Bali Kuno, sekitar abad ke-10 hingga ke-12 Masehi.
Pada masa tersebut, Bali berada di bawah pengaruh agama Buddha Mahayana dan Hindu, yang tercermin dalam beberapa artefak arkeologis yang ditemukan di area pura, seperti stupa dan prasasti-prasasti kuno.
Penemuan ini menunjukkan adanya akulturasi dua agama besar, yang hidup berdampingan dan saling memengaruhi praktik keagamaan di Bali.
Pura Pegulingan memiliki nama yang berasal dari kata "guling," yang dalam Bahasa Bali berarti "berbaring". Nama ini sering dihubungkan dengan penemuan arca Buddha dalam posisi berbaring di area tersebut.
Posisi arca tersebut menggambarkan Parinirvana Buddha, atau Buddha dalam keadaan tidur menuju pencapaian nirvana, yang merupakan representasi kedamaian dan pelepasan dari siklus reinkarnasi.
Dalam penggalian arkeologis di situs ini, juga ditemukan struktur bangunan yang diyakini sebagai sisa-sisa vihara atau tempat meditasi bagi para bhiksu Buddha pada masa lalu.
Pada halaman dalam atau jeroan Pura Pegulingan terdapat sebuah bangunan kuno, oleh masyarakat bangunan itu disebut Padmasana Agung yang keadaannya telah rusak.
Bahkan, pada tanggal 19 Januari 1983 dilakukan penelitian pendahuluan oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala yang sekarang disebut Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).
Pada saat itu ditemukan arca Budha, arca singa, arca perwujudan dan lingga di reruntuhan bangunan itu.
Setelah dilakukan ekskavasi oleh BPCB, ditemukan pondasi bangunan candi yang berbentuk segi delapan, kotak peripih, yang berisi materai tanah liat dan mangkuk perunggu, lempengan logam (emas dan perunggu) dan berbagai artefak lainnya
Arca Budha yang ada di Pura Pegulingan diperkirakan lima buah, terbuat dari batu padas, akan tetapi pada saat dilakukan penggalian hanya ditemukan empat buah dalam kondisi yang rusak.
Arca 1, diperkirakan dengan sikap tangan dharmacakramudra, yang dimiliki oleh Dhyani Budha Wairocana yang menempati bagian tengah.
Begitu juga Arca 2, diperkirakan dengan sikap tangan bhumisaparsamudra, yang dimiliki oleh Dhyani Budha Aksobhya yang menguasai arah timur.
Selanjutnya Arca 3, diperkirakan dengan sikap tangan abhayamudra yang dimiliki oleh Dhyani Budha Amoghasidhi, yang menguasai arah utara.
Kemuidan Arca 4, dengan tangan kiri digambarkan dengan sikap dyana, dan bagian lain tidak dapat diketahui karena rusak.
Pura Pagulingan merupakan Pura umum, para pengelola atau pengemponnya adalah umat Hindu di Desa Pakraman Basangambu, Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar.
Menurut Jero Mangku Made Sudana struktur Pura Pagulingan terdiri atas tiga halaman, yakni jaba sisi (nista mandala), jaba tengah (madya mandala) dan jeroan (utama mandala). Setiap mandala terdapat beberapa palinggih sebagai pemujaan.
Pura Pagulingan juga memiliki laba pura atau tanah di sekitar wilayah Pura. Pada areal jaba pura ini banyak ditumbuhi pohon-pohon yang besar dan rindang sehingga terlihat seperti hutan belantara.
“Kami sangat mensakralkan, bahkan ada keyakinan sangat mengkeramatkan wilayah tersebut, dan melarang warga menebang pohon di tempat tersebut,” katanya.
Palinggih-palinggih yang ada di utama mandala Pura Pagulingan seperti Bale Paselang, yaitu linggih Ida Bhatara-Bhatari pada saat Upacara Karya Mapeselang. Pangaruman, yaitu Palinggih Ida Bhatara turun kabeh, Ista Dewata. Meru Tumpang Lima, yaitu palinggih Bhatara Mahajaya Gunung Agung.
Gedong Sari, palinggih Bhatara Dewi Danuh dan Bhatara Sri, Pengaruman Agung, yaitu Palinggih Ida Bhatara turun kabeh, Ista Dewata. Gedong Limas, yaitu palinggih Bhatara Manik Gunawang ring Ulu Watu, Gedong Catu, yaitu palinggih Sang Hyang Limas Catu /Gunung Bangsul Tabanan, Gunung Watu Karu.
Gedong Sineb, yaitu Gedong pasimpenan Bhatara ring Lempuyang Luhur, Bhatara Hyang Gnijaya, Gedong Sineb, yaitu Palinggih Pasimpangan Bhatara Sami dan Stupa Pagulingan, yaitu palinggih Ida Bhatara Śiwa Buddha.
Meskipun di pura tersebut terdapat unsur pemujaan dengan keyakinan yang sedikit berbeda yaitu antara keyakinan Hindu yang bermasab Śiwa dengan Keyakinan Budha, namun masyarakat tetap meyakini bahwa Sang Hyang Widhi adalah tunggal.
“Jadi masyarakat tidak mempermasalahkan apakah Dewa Siwa atau Dewa Budha, sebab pada kenyataannya antara Siwa dengan Budha diyakini masyarakat pada hakikatnya adalah satu dalam wujud tertingginya, dalam kepercayaan masyarakat Bali disebut sebagai Sang Hyang Tunggal, atau Acintya,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika