Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

8 Fakta Penting Ulap-Ulap di Bangunan Hindu Bali: Mengapa Harus Memanggil Kekuatan Dewata?

I Putu Suyatra • Selasa, 29 Oktober 2024 | 23:03 WIB
Ulap ulap bangunan Hindu Bali
Ulap ulap bangunan Hindu Bali

BALIEXPRESS.ID - Setiap kali masyarakat Hindu Bali melaksanakan upacara mlaspas bangunan, ada elemen unik yang selalu disiapkan: secarik kain kasa putih bergambar atau bertuliskan aksara tertentu, yang kemudian ditempel pada bagian-bagian penting bangunan.

Kain ini, dikenal dengan sebutan ulap-ulap, ditempatkan di area tertentu seperti di depan palinggih, di atas pintu, hingga pada candi bentar. Tapi, apa sebenarnya fungsi dari ulap-ulap ini?

Ternyata, ulap-ulap bukan sekadar kain biasa. Menurut akademisi dari Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, Dr. I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag., M. Fil. H., ulap-ulap adalah simbol panggilan kekuatan dewa.

“Ulap-ulap berasal dari kata ‘ulap’ yang berarti memanggil. Kain ini merupakan simbol pemanggilan kekuatan dewata tertentu untuk distanakan di bangunan yang diplaspas,” jelasnya.

Lebih dalam, Dr. Made Adi, yang juga dikenal sebagai Jro Dalang Nabe Roby, memaparkan bahwa ulap-ulap menjadi penanda spiritual bahwa bangunan tersebut telah disucikan atau dipasupati, sehingga tak boleh diperlakukan sembarangan.

"Secara magis, bangunan yang telah dipasupati dianggap memiliki jiwa," ungkapnya.

Selain itu, berbagai simbol di ulap-ulap, mulai dari aksara suci modre hingga gambar senjata dewata nawa sanga, memiliki makna tersendiri.

Pada proses pemasangan ulap-ulap, waktu dan kondisinya harus diperhatikan. Untuk bangunan baru, ulap-ulap biasanya disertakan saat prosesi mlaspas.

Sedangkan jika hanya mengganti ulap-ulap lama, prosesi pasupati dilakukan terlebih dahulu, biasanya bersamaan dengan upacara piodalan di pura terkait.

Namun, pembuatan ulap-ulap tak sembarangan.

"Pembuatnya harus bersih lahir batin dan diwinten terlebih dahulu," ujar Dr. Made Adi.

Dengan ritual mawinten, meskipun tak harus menjadi pemangku, pembuat ulap-ulap menjaga kesucian dirinya.

Bahkan, mereka harus memohon restu dari Sang Hyang Aji Saraswati dan Ganapati agar setiap aksara yang dituliskan memancarkan energi positif.

Dalam proses sakral ini, Dr. Made Adi menekankan pentingnya persiapan mulai dari kain hingga spidol yang digunakan, yang harus bersih dan layak.

Jadi, ulap-ulap tidak hanya menjadi hiasan, melainkan juga elemen magis yang diyakini membawa kekuatan dewata ke bangunan yang disucikan.

8 Fakta Penting tentang Ulap-Ulap dalam Upacara Mlaspas Bangunan Hindu di Bali
  1. Makna Simbolis Ulap-Ulap
    Ulap-ulap berasal dari kata "ulap" yang berarti "memanggil." Dalam konteks ini, kain tersebut digunakan sebagai simbol pemanggilan kekuatan dewata untuk bersemayam di bangunan yang diplaspas, menandai bahwa bangunan telah disucikan.

  2. Berfungsi Sebagai Penanda Kesucian Bangunan
    Bangunan yang telah dipasangi ulap-ulap dianggap suci dan memiliki jiwa, sehingga tak boleh diperlakukan sembarangan. Secara magis, masyarakat Hindu di Bali percaya bahwa benda atau bangunan yang dipasupati telah diberkahi dan dijaga oleh kekuatan tertentu.

  3. Jenis dan Gambar pada Ulap-Ulap Berbeda untuk Setiap Bagian Bangunan
    Terdapat berbagai jenis ulap-ulap yang masing-masing memiliki bentuk, gambar, atau aksara berbeda. Sebagai contoh, ulap-ulap yang ditempelkan di palinggih cenderung menggunakan aksara suci modre, sementara bagian lain mungkin dihiasi gambar senjata atau simbol lain yang mewakili Dewata Nawa Sanga.

  4. Proses Pasupati yang Mengiringi Pemasangan
    Ulap-ulap dipasang bersamaan dengan upacara mlaspas bangunan. Jika hanya mengganti ulap-ulap lama, maka diperlukan prosesi pasupati ulang agar ulap-ulap tersebut tetap disucikan sebelum ditempelkan ke bangunan.

  5. Pembuat Ulap-Ulap Harus Bersih Lahir Batin
    Pembuatan ulap-ulap tak bisa sembarangan. Pembuatnya diwajibkan untuk menjaga kebersihan lahir dan batin serta menjalani ritual mawinten. Hal ini bertujuan agar pembuat ulap-ulap memiliki energi positif dan kesucian, yang dipercaya mempengaruhi hasil karya mereka secara spiritual.

  6. Dibuat dengan Memohon Tuntunan Dewata
    Sebelum membuat ulap-ulap, pembuatnya umumnya memohon bimbingan Sang Hyang Aji Saraswati dan Ganapati agar pikiran dan energi positif mereka dapat mengalir ke dalam setiap aksara yang dituliskan.

  7. Persiapan Bahan yang Harus Bersih dan Layak
    Selain persiapan diri, bahan yang digunakan seperti kain kasa putih dan spidol juga harus bersih. Ini menjadi syarat utama agar ulap-ulap memiliki kekuatan magis yang penuh taksa atau energi spiritual.

  8. Seringkali Disertai dengan Banten Pejati
    Dalam pembuatan ulap-ulap, biasanya juga diiringi dengan banten pejati sebagai persembahan, guna menghormati dan menambah kesakralan proses pembuatan ulap-ulap tersebut.

Dengan pemahaman mendalam tentang ulap-ulap, umat Hindu di Bali semakin dapat menjaga makna sakral dan nilai magis yang terkandung dalam setiap upacara mlaspas serta pemeliharaan bangunan suci. *** 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #bangunan