Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sakralnya Bungkak Nyuh Gading, Miliki Cerita Mitologis, Jadi Sarana Penting dalam Ritual di Bali

I Putu Mardika • Kamis, 31 Oktober 2024 | 02:39 WIB

Bungkak Nyuh Gading menjadi sarana ritual yang sarat makna mitologis
Bungkak Nyuh Gading menjadi sarana ritual yang sarat makna mitologis
BALIEXPRESS.ID-Penggunaan Bungkak Nyuh Gading atau kelapa kuning sebagai sarana upacara Hindu di Bali memiliki makna mendalam dalam sistem ritual.

Menurut Ida Bagus Made Baskara, penekun sastra dari Geriya Gunung Kawi Manuaba, Tampak Siring, kelapa gading tidak hanya berfungsi sebagai simbol penyucian, tetapi juga sebagai representasi dari berbagai konsep filosofis dalam agama Hindu Bali.

Ida Bagus Made Baskara menjelaskan bahwa pemahaman mengenai peran filosofis kelapa dapat dilihat dari beberapa teks lontar utama.

Dalam Lontar Rajah Pangereka Bungkak, misalnya, kelapa gading dijelaskan sebagai media untuk mengguratkan aksara suci yang digunakan dalam ritus keagamaan dan magis.

Lontar ini juga menguraikan aturan khusus dalam menggunakan kelapa gading sebagai media sakral, termasuk sarana pendukung yang diperlukan, serta sejarah kelapa itu sendiri.

Sementara itu, Lontar Kelapa Tattwa menceritakan asal-usul pohon kelapa sebagai berkah dari Bhagawan Wraspati atas permintaan Dewa Siwa.

Diceritakan bahwa kala itu, kekuatan jahat yang disebut Kala menginfeksi tumbuhan dan menyebabkan wabah yang mematikan di bumi.

Menyadari hal ini, Dewa Siwa mengutus Bhagawan Wraspati untuk menyeimbangkan kembali alam.

Wraspati kemudian melakukan yoga dan menurunkan energi kehidupan berupa tirta amerta yang dipercikkan ke seluruh bumi. Dari percikan tersebut, tumbuhlah pohon kelapa sebagai simbol kehidupan dan keseimbangan.

“Sebagian dari tirta amerta itu menetes ke tanah, menciptakan kelapa bulan berwarna putih dari percikan Ida Bhatara Iswara. Sementara tirta dari Dewa Mahadewa, yang mengarah ke barat, menjelma menjadi kelapa gading berwarna kuning,” ungkapnya.

Menurut Lontar Raja Bungkak, keberagaman warna kelapa yang ada saat ini merupakan wujud dari tirta suci Dewata Nawa Sanga, dewa-dewa pelindung di setiap arah.

Nyuh Gading, dengan warna khasnya, menjadi simbol dari esensi kehidupan yang terus dirawat dalam tradisi upacara Hindu di Bali.

Bungkak Nyuh Gading atau kelapa kuning ternyata memiliki peran sakral dalam berbagai upacara Hindu di Bali.

Ida Bagus Made Baskara, penekun sastra dari Geriya Gunung Kawi Manuaba, menjelaskan bahwa penggunaannya terbagi dalam empat fungsi utama.

Pertama, Bungkak Nyuh Gading difungsikan sebagai nyasa atau simbol kesucian.

Dalam upacara manusa yadnya seperti megedong-gedongan atau samskara wardana, nyuh gading dirajah menyerupai bentuk bayi atau manik, melambangkan embrio yang suci dan ditempatkan pada banten megedong-gedongan sebagai simbol rahim.

Selain itu, kelapa kuning ini juga digunakan dalam ritual dewa yadnya, khususnya pada banten padudusan Manawaratna yang merupakan sarana melukat atau meruwat arca pralingga.

Pada ritual ini, sembilan jenis bungkak disusun dalam arah tertentu, dengan Bungkak Nyuh Gading ditempatkan di arah barat sebagai simbol amerta atau energi suci dari Bhatara Mahadewa.

Bungkak Nyuh Gading juga digunakan dalam fungsi pralina, yaitu mengembalikan unsur-unsur ke sumbernya.

Misalnya, pada upacara potong gigi, sisa-sisa gigi dimasukkan ke dalam bungkak dan dikubur.

Demikian pula pada upacara pitra yadnya, sisa tulang setelah kremasi dimasukkan ke dalam kelapa kuning ini untuk dilarung di laut atau sungai sebagai simbol pelepasan.

Fungsi keempat dari Bungkak Nyuh Gading adalah sebagai sarana pembersihan atau sauca. Kelapa kuning ini, bahkan tanpa tambahan mantram atau rajah, dipercaya dapat digunakan sebagai media penyucian.

Menurut Lontar Rajah Pangereka Bungkak, nyuh gading juga memiliki peran dalam ritus magis untuk membangkitkan ilmu kebatinan.

Disebut sebagai “air langit” karena kesucian air di dalamnya, bungkak nyuh gading bahkan dapat dipakai dalam upacara memohon cuaca cerah.

Dengan begitu banyak peran, Bungkak Nyuh Gading terus dilestarikan dalam ritual keagamaan di Bali sebagai simbol suci dengan makna filosofis yang dalam. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#lontar #kelapa #air #bungkak #Nyuh Gading