Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Aguron-Guron Kepanditaan Siwa Paksa di Bali, Begini Syarat Sisia dan Nabe dalam Tradisi Diksa Pariksa

I Putu Mardika • Jumat, 1 November 2024 | 04:57 WIB

 

Prosesi diksa pariksa seorang dwijati setelah melewati tahapan aguron-guron
Prosesi diksa pariksa seorang dwijati setelah melewati tahapan aguron-guron
BALIEXPRESS.ID-Dalam tradisi Hindu Bali dikenal adanya tradisi aguron-guron, tradisi mendidik calon Pandita oleh seorang Guru spiritual.

Jika dibandingkan dengan Pendidikan pada institusi formal, seperti sekolah dan kampus, tradisi aguron-guron memiliki cara dan substansial yang berbeda.

Tradisi aguron-guron memiliki prinsip sangat selektif, hubungan personal dan dapat terjadi dalam jangka relatif panjang.

Istilah Aguron-guron berasal dari kata guru yang berarti pengajar atau pembimbing, aguron yang berarti belajar atau berguru.

Cendikiawan Hindu, Dr. Ida Bagus Gede Wiradnyana menjelaskan Aguron-guron berarti proses pembelajaran atau berguru sang Sisya (calon pandita) kepada Nabe-nya. Sementara kata Siwa Paksa merujuk pada salah satu aliran yang berfokus pada ajaran Siwa. “Siwa Siddhanta di Bali”.

“Jadi Aguron-guron itu adalah Tata cara berguru bagi para calon diksita kepada Nabenya yang menganut ajaran Siwa Paksa yang di Bali disebut Siwa Sidhanta,” katanya.

Dalam proses aguron-guron, seorang calon Pandita (sisya) mengikuti pembelajaran mendalam di bawah bimbingan Sang Nabe, yang telah terlebih dahulu mendalami ajaran Siwa.

Menurutnya, ada sebuah komitmen yang harus dipegang dalam proses berguru. Sebab, ada konkuensi logis yang harus dipertanggungjawabkan pada kehidupan ini baik secara sekala dan niskala.

Baca Juga: ABDI Siap Gerakkan Program Simakrama dan Peningkatan Keamanan di Setiap Desa

Dari tata cara inilah akan ditentukan syarat calon nabe dan calon sisia. Menurutnya, ada beberapa esensi yang diidam-idamkan oleh seorang sisia dalam mencari calon nabe.

Seorang Nabe memiliki syarat sebagaimana dinyatakan dalam Siwa Sesana, yaitu Werdha Yusa, matang usianya, Werdha Jnana (matang pengetahuannya), dan Weda Paraga, trampil dan matang pengetahuan ajaran Weda.

“Werdha Yusa itu artinya umur cukup, memiliki bekal pengalaman hidup yang memadai” Paparnya. Sedangkan Werdha Janan itu bisa diperoleh melalui Pendidikan akademik dan non akademik. Sedangkana Weda Paraga inilah menjadi kesadaran mutlak. Karena itu berkaitan tata laku kepanditaaan,” sebutnya.

Sementara itu, syarat sisya adalah Swami Bhaktya atau Guru Bhakti (berbakti pada guru); Dharmawasista (teguh pada ajaran Dharma); Sadhu (berbudi luhur); Satya wak (jujur pada ucapan), dan Punya jatma (sosial).

“Satya itu jujur dengan perkataan, perilaku dan pikirian. Selain itu, seorang calon sulinggih wajib memiliki jiwa empati sosial sebagai bagian dari Punya Jatma” sebutnya.

Lalu bagaimana sisya memilih Nabe (guru spiritual)? Pertama, calon Sisya harus memilih Nabe atau seorang guru yang memiliki pengetahuan mendalam tentang ajaran Siwa, telah menjalani proses spiritual yang benar, dan mampu membimbing Sisya secara baik dan benar.

Hubungan antara Nabe dan Sisya bersifat sangat personal, penuh hormat. Sisya harus memiliki rasa percaya dan hormat yang tinggi kepada Nabe-nya, karena Nabe akan menjadi pembimbing dirinya dalam menapaki tangga spiritualnya.

Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Maut! Penumpang Sepeda Motor Tewas Dilindas Truk

Kedua, Nunas Panugrahan dan Asrama. Proses belajar dimulai dengan upacara nunas panugrahan, yaitu permohonan restu dan izin dari Nabe untuk belajar padanya. Ini adalah bentuk kesungguhan hati Sisya dalam mengikuti bimbingan Nabe.

Asrama merupakan tempat khusus yang ditentukan Nabe, sebagai tempat untuk belajar. Asrama ini bisa berupa tempat tinggal Nabe, atau tempat khusus yng ditentukan oleh Nabe. Di sinilah Sisya akan melakukan proses belajar, berlatih, berbagai hal dari Sang Nabe.

Ketiga, Belajar Teks “Pustaka Suci” dan Mantra, salah satu aspek penting dalam Aguron-guron adalah belajar teks “pustaka suci” serta mantra yang berhubungan dengan ajaran Kepanditaan. Sisya harus mempelajari dan menghafalkan mantra-mantra secara baik dan benar terkait dengan lakon kapanditaan di bawah bimbingan Nabe.

Keempat, Dyana (kontemplasi) dan Ritual, Dalam Aguron-guron Sisya akan diajarkan dhyana (kontemplasi). Sisya juga dilatih untuk mendalami berbagai bentuk Ritual.

Kelima, Melatih Disiplin dan Pengendalian Diri, disiplin diri, menjaga sikap dan prilaku, menjalani yama dan niyama (mengendalikan nafsu).

Baca Juga: ABDI Siap Wujudkan Pendidikan Adil di Denpasar, Beasiswa hingga Perguruan Tinggi untuk Siswa Berprestasi

Pengendalian diri dengan menjalankan brata (pantangan), dan mengamalkan dharma sebagai sebuah kewajiban. Keenam, Penyucian diri (Inisiasi atau Diksa). Setelah melalui proses belajar yang panjang, Sisya yang dinilai sudah siap secara spiritual dan mental, akan menjalani upacara diksa atau inisiasi oleh Nabe.

Upacara ini melibatkan ritual-ritual tertentu untuk mengukuhkan Sisya sebagai pandita. “Ada tiga hal yang harus dikedepankan oleh sang Sisya dalam proses aguron-guron, yaitu Srawanam (belajar mendengar), wakakene talinganta angrenge. Mananam (merenung/ meresapi) dan Nidi-diasanam (mempraktekan),” tutupnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#diksa pariksa #sisya #pandita #Aguron guron