BALIEXPRESS.ID - Di balik megahnya Pura Gunung Kawi di Banjar Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali, tersimpan keyakinan Hindu Bali unik yang masih dipegang teguh masyarakat setempat.
Salah satu palebahan pura yang terdapat di kompleks ini, yaitu Pura Puncak, dipercaya memiliki energi sakral yang melarang perempuan untuk memasukinya.
Kepercayaan ini membedakan Pura Puncak dari empat pura lainnya yang ada di Gunung Kawi.
Menurut Jero Mangku Gede Gunung Kawi, pemangku Pura Gunung Kawi, pantangan ini berlaku untuk semua perempuan, baik masyarakat setempat maupun wisatawan.
"Pura Puncak memang berbeda. Hanya Pura Puncak saja yang pantang dimasuki perempuan, apakah itu krama ataupun wisatawan," ujarnya kepada Bali Express.
Uniknya, larangan tersebut tidak hanya berlaku bagi perempuan yang sedang datang bulan, tetapi untuk semua perempuan tanpa terkecuali.
Keyakinan ini sudah ada secara turun-temurun, meskipun alasan pastinya masih menjadi misteri.
"Hanya saya dan jero mangku istri saja yang boleh memasuki areal pura," tambahnya.
Selain Pura Puncak, Pura Sada Gua yang juga berada di kompleks Pura Gunung Kawi memiliki pantangan tersendiri.
Siapa pun yang ingin masuk ke Pura Sada Gua harus bertelanjang kaki, bahkan sang pemangku sekalipun.
Pantangan ini sudah menjadi bagian dari kearifan lokal yang dijaga dengan baik oleh masyarakat setempat.
Menariknya, meski ramai dikunjungi wisatawan setiap hari, sejauh ini belum ada pelanggaran terhadap larangan-larangan tersebut.
“Dengan adanya tanda larangan serta rasa hormat yang tinggi, para wisatawan bisa menghargai keyakinan ini,” ungkap Jero Mangku.
Tradisi dan keyakinan di Pura Gunung Kawi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan atmosfer sakral tempat ini.
Pantangan-pantangan tersebut menambah kesan mistis sekaligus menggugah rasa penasaran akan asal-usul yang masih menjadi misteri hingga kini. ***
Editor : I Putu Suyatra