BALIEXPRESS.ID - Hindu Bali, yang dikenal kaya akan pura dan situs patirtan kuno, menyimpan banyak tempat sakral yang unik dan memikat. Salah satunya adalah Pura dan Patirtan Telaga Dhwaja di Tegallalang, Ubud, Gianyar yang keberadaannya sudah diakui sejak lebih dari seribu tahun lalu.
Apa yang membuat tempat ini begitu istimewa?
Pura Telaga Dhwaja, yang berada di Banjar Kapitu, Desa Kendran, Gianyar, tidak hanya sekadar pura.
Dihiasi suasana Hindu-Buddha, patirtan di sini terkenal dengan sebelas pancorannya yang bisa saling bertukar fungsi.
Berdasarkan teks klasik Nagarakertagama karya Mpu Prapanca dari abad ke-13, patirtan ini diyakini sebagai tempat pertapaan suci para biksu Buddha Kasogatan yang berfungsi sebagai pusat spiritual.
Menurut Jro Mangku I Wayan Suaja, sang pemangku pura, Pura Telaga Dhwaja telah menjadi situs pertapaan penting sejak abad ke-13.
Tidak hanya tercatat dalam Nagarakertagama, tempat ini juga disinggung dalam prasasti Bulian dan lontar Dharma Yoga Samadhi.
Di prasasti tersebut disebutkan bahwa mandi di patirtan Telaga Dhwaja dipercaya bisa menyembuhkan penyakit, menyehatkan pikiran, dan membawa kesejahteraan.
Legenda Ritual Pembersihan di Patirtan Suci
Lontar Dharma Yoga Samadhi menyebutkan sebuah petunjuk penting bagi pamedek untuk melakukan mandi malukat sebanyak tujuh kali di patirtan Telaga Dhwaja.
Diyakini, siapa saja yang melakukannya dapat membersihkan "mala" atau kekotoran diri, membuka jalan pencerahan yang lebih luas.
Tempat ini diyakini memiliki ikatan kuat dengan Hindu-Buddha yang pernah digunakan para biksu untuk mencari pencerahan spiritual.
Akses Menuju Pura yang Penuh Pesona Alam
Untuk mencapai Pura dan Patirtan Telaga Dhwaja, dari Ubud, wisatawan bisa mengarah ke perempatan patung Arjuna di Peliatan, lalu mengikuti Jalan Andong ke utara.
Dari Bale Banjar Kapitu, pengunjung harus menelusuri jalan setapak yang dihiasi pemandangan sawah dan suara aliran Sungai Kendra yang jernih.
Pengalaman Mistik di Kawasan Pura
Menariknya, Pura Telaga Dhwaja dijaga oleh seekor naga yang melindungi area suci ini. Pengunjung yang "leteh" atau dalam kondisi kotor kerap mengalami kejadian tak terduga, seperti terhalang saat mencoba memasuki wilayah pura.
Jembatan di depan palinggih menjadi batas wilayah niskala yang tidak bisa dilanggar begitu saja.
Di area patirtan, terdapat sebelas pancoran yang mengalirkan air suci yang diyakini memiliki kekuatan spiritual khusus, mulai dari pembersihan karma buruk hingga penyembuhan penyakit.
Uniknya, fungsi tiap pancoran dapat berganti-ganti.
Pamedek disarankan malukat di semua pancoran secara berurutan agar memperoleh khasiat sempurna dari setiap pancoran tersebut.
Dresta dan Pantangan Ketat di Pura Suci
Di Pura Telaga Dhwaja, terdapat beberapa larangan yang harus ditaati, seperti tidak boleh naik ke kolam suci tanpa izin jro mangku, tidak boleh masuk dalam keadaan leteh, dan tidak diperkenankan menggunakan sabun atau sampo saat malukat.
Selain itu, upacara yang digelar di pura ini tidak diperkenankan dipuput oleh sulinggih melainkan harus oleh pemangku pura atau Jan Banggul Pura Telaga Dhwaja.
Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama dan terhubung dengan aliran Hindu yang cenderung kepada ajaran Tantra.
Keberadaan Makhluk Mistis yang Menjaga Kesucian Pura
Selain adanya naga penjaga, pura ini juga memiliki makhluk yang disebut Be Julit—seekor belut besar yang diyakini sebagai penanda ketika upacara berjalan lancar.
Kehadirannya dipercaya sebagai restu dari Ida Bhatara yang berstana di sana.
Bagi mereka yang tertarik mendalami dunia spiritual, Pura Telaga Dhwaja menawarkan dimensi mistis yang mencakup tiga alam, yaitu alam bawah, alam suci, dan alam kemoksaan.
Dengan suasana yang penuh ketenangan dan aura spiritual tinggi, pura ini telah menjadi tujuan bagi banyak praktisi spiritual yang ingin mendapatkan pencerahan dan kebijaksanaan.
Pura dan Patirtan Telaga Dhwaja bukan sekadar tempat sembahyang; melainkan sebuah pusat kekuatan spiritual yang menyimpan banyak misteri dan tradisi kuno yang masih terjaga hingga kini.
Jadi, apakah Anda tertarik untuk berkunjung dan merasakan energi mistis yang kental di Pura Telaga Dhwaja? ***
Editor : I Putu Suyatra