Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dikenal Sentra Penghasil Gong hingga Pisau, Pengrajin Pande Besi di Desa Sawan masih Lestari, Begini Alasannya

I Putu Mardika • Senin, 4 November 2024 | 04:46 WIB

 

Tradisi Pande Besi di Desa Sawan, Kecamatan Sawan, Buleleng
Tradisi Pande Besi di Desa Sawan, Kecamatan Sawan, Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Desa Sawan, Kecamatan Sawan, Buleleng dikenal dengan penduduknya yang dominan menggeluti usaha pande gong dan pande besi. Para Pengrajin pande besi di desa ini jumlahnya bahkan hampir 46 Industri kecil.

Tercatat sekitar 3 pande gong dan 43 pande besi. Hasil produksi Pande besi di Desa Sawan banyak menghasilkan peralatan pertanian dan rumah tangga diantaranya adalah sabit kecil dan sabit besar, pisau dan lainnya. Di beberapa industri pande besi terdapat 3 orang pekerja yang mampu menghasilkan 25-30 sabit.

Hasil produksi pande besi biasanya dijual ke daerah lain seperti Badung, Gianyar, Tabanan dan tentunya Desa Sawan ini sendiri yang memiliki banyak pedagang.

Tidak hanya di daerah tersebut saja sebenarnya, hasil produksi usaha pande besi ini juga dikirim ke daerah-daerah lainnya seperti luar pulau bali seperti Sulawesi, Sumatra, Jawa, dan Kalimantan.

Salah seorang pande besi, Made Putra menjelaskan peluang sebagai pengerajin pande besi oleh masyarakat soroh pande yang ada di Desa Sawan dipengaruhi oleh produksi yang sudah hidup dari masa ke masa.

Baca Juga: Debat Kedua Pilkada Bangli, KPU Tambah Kuota Pendukung Paslon

Produk yang dibuat sudah memiliki kualitas sehingga selalu ada pengepul yang datang untuk mencari produk buatan pengerajin pande Di Desa Sawan. Selain itu, didukung juga dengan masih mudah mendapatkan bahan baku dalam pembuatan senjata.

“Karena sudah banyak ada penjual bahan baku yang berada di Desa Sawan, sudah dari zaman dahulu pengrajin yang ada di Desa Sawan ini memenuhi permintaan pasar dalam jumlah besar pada akhirnya menghasilkan keuntungan bagi masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan,” jelasnya.

Para buruh yang menekuni krajinan pande besi ini setelah merasa mampu dengan skill yang mereka dapatkan mereka akan membuka usaha dirumahnya. Sehingga pengrajin yang ada di Desa Sawan kian bertambah.

Dikatakan Made Putra, dalam menjalani kehidupan menjadi soroh pande ada konsep keseimbangan dimana secara kehidupan nyata dan badan kasar terpenuhi dengan menekuni kerajinan ini.

Secara spiritualitas kebanggan itu tercipta tanpa disadari sehingga proses regenerasi keturunan pande yang ada di Desa.

Baca Juga: Tampilkan 'Bara Sangging', SMPN 1 Semarapura Raih Juara 1 Lomba Baleganjur AKSIKU 2024

Menurutnya, menjadi pengerajin pande terbentuk secara alami itulah yang mendasari pengerajin yang ada di Desa sawan sangat bangga menjadi orang pande.

“Walaupun pekerjaan memande sangat berat tapi disaat mampu menempa dan menghasilkan produk disitulah letak kebanggaan yang luar biasa,” jelasnya.

Kebanggan menjadi seorang warga pande sebagai wujud rasa bhakti diwujudkan dengan dua cara yaitu dengan kegiatan fisik dan simbolik. Kegiatan fisik yaitu berupa pekerjaan, tempat berkerja dan benda.

Sedangkan simbolik berupa nama, warna dan tradisi. Bagi sebagian soroh pande yang tidak memande mereka membuat prapen yang tidak fungsional sebagai simbol dan sebagai wujud rasa bhakti kepada leluhur. Kebanggan soroh pande yaitu, Nama.

Soroh pande mempunyai nama depan “pande” yang membedakan dengan soroh lain. Kebanggan soroh pande juga berupa benda dimana pada hari Raya Tumpek Landep warga pande melaksanakan persembahyangan untuk menyucikan benda-benda pusaka leluhur seperti keris, tombak, golok, pisau dan alat-alat yang digunakan untuk memande.

“Pada hari Raya Tumpek Landep kami menghias prapen dengan wastra/kain merah yang merupakan lambang/simbol Dewa Brahma dan soroh pande,” imbuhnya.

Baca Juga: Tudingan Sepihak Pada Mardani H Maming, Kuasa Hukum Laporkan Inilah.com dan Tempo.co ke Dewan Pers

Ia menambahkan, pewarisan di lingkungan keluarga orang tua mengajarkan ke pada anaknya keterampilan memande sejak dini agar warisan leluhur ini tetap terjaga.

Selain itu diajarkan melalui pelaksanaan ritual dengan melakukan persembahyangan pada rahinan Tumpek Landep untuk selalu ingat nyungsung Ida Bhatara Kawitan di Besakih.

Persembahyangan pada prapen tempat berstananya Hyang Pasupati dan Bhatara Brahma.

Hal ini  bertujuan untuk menegakkan tradisi-tradisi yang kuat untuk mempertahankan kerajinan ini dimana soroh pande di sawan sangat meyakini Tattwa kepandean yaitu dimana leluhur yang menjadi landasan keyakinan seorang soroh pande untuk tetap mrapen.

Leluhur pande yang sepatutnya dapat dijadikan sebagai pedoman/tuntunan bagi umat/warga pande, sebagai pasuluh hidup untuk memperkuat jati diri.

Untuk proses pewarisan dalam melajutkan usaha ini keluarga pande besi di Desa Sawan memiliki strategi yaitu melibatkan anak dalam proses produksi pande besi.

"Anak pande besi dididik dari kecil agar menjadi seorang pande besi untuk meneruskan usaha keluarga kelak, proses pewarisan ditularkan lewat obrolan-obrolan yang bisa dibilang yang tidak akan bocor keorang lain, rahasia itulah yang dipegang generasi berikutnya," ungkapnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Pande #pisau #Pande Besi #sawan #besi #Sabit #buleleng