BALIEXPRESS.ID - Ketua Yayasan Gases Bali, Dr. Komang Indra Wirawan,S.sn menyebutkan, Bade umumnya memiliki tumpang.
Jumlah atap tumpangnya dibuat menyesuaikan kasta orang yang akan melaksanakan upacara pangabenan.
Indra memaparkan, bahwa tiap bagian dari Bade memiliki arti dan filosofi khusus.
Dia menyebut, dalam Lontar Dharma Laksana dijelaskan, bade umumnya dibagi menjadi tiga, yaitu bagian kepala, badan, dan kaki.
Bade memiliki ornament paling lengkap. Biasanya menggunakan boma, angsa, Bedawang Nala, Garuda, dan tumpang,” ujar pria yang akrab disapa Komang Gases ini.
Dikatakannya, penggunaan Bade umumnya memiliki aturan khusus.
Bade biasanya ada beberapa jenis, ada yang tumpang sembilan, tumpang solas (sebelas), tumpang pitu (tujuh), tumpang lima dan seterusnya.
Nah masing – masing tumpang sudah ditentukan kasta apa yang dapat menggunakannya.
Contohnya keturunan Dalem, biasanya diperbolehkan menggunakan Bade tumpang sebelas (11) lengkap dengan Naga Banda dan kelengkapan upakara lainnya.
Dalam Bade ada simbol Bedawang Nala. Wa dalam Bedawang Nala artinya tanah pertiwi.
“Jika ditilik dari makna filosofinya, Bedawang Nala merupakan simbolisasi dari rwabhineda, yang artinya manusia harus dapat memilah mana yang baik dan buruk dalam hidup,” ujarnya.
Selain itu, ada juga ornamen Naga. Ornamen ini, bisa diartikan sebagai simbol 'Kamerta pangurip jagat'.
Naga identik dengan niat rakus atau momo. Simbol ini menggambarkan, manusia diikat oleh rasa tamasika.
"Diletakkannya simbol naga pada Bade diharapkan sifat tamasika orang yang meninggal akan dilebur dan tidak terbawa ke alam sunia. Naga ini merupakan simbolisasi dari Naga Basuki.
Selanjutnya ada juga ornamen yang disebut Boma. Boma merupakan gambaran kepala raksasa yang memiliki caling (taring) dengan mulut terbuka.
Kemudian ada juga Angsa yang dinilai simbol istimewa. Sebab, Angsa berarti kembalinya sang atman pada yang kuasa.
“Nah sampai di alam sunia, yang bisa dipertanggungjawabkan adalah karma,” pungkasnya
Editor : Nyoman Suarna