BALIEXPRESS.ID - Pada abad XI, Bali dikenal dengan kepercayaan animisme yang kuat. Agama Tirta, atau yang dikenal dengan Bali Mula, menjadi ajaran utama yang berkembang pesat pada masa pemerintahan Dinasti Warmadewa di Bali.
Bukti keberadaan agama ini tercatat dalam Prasasti Penempahan, yang bahkan tercipta jauh sebelum Majapahit memasuki Bali.
Namun, bukan hanya agama Tirta yang tumbuh pada era tersebut.
Beragam sekte lain juga muncul, seperti Ciwa-Sidhanttha, Pacupata, Bodha, Bhairawa, Brahmana, Wesnawa, Rsi, Sora, dan Ganeca.
Bukti peninggalan sekte-sekte ini masih dapat ditemukan di situs-situs cagar budaya berupa pura sepanjang Sungai Pakerisan dan Sungai Petanu di kawasan Tampaksiring, Bali.
Sejarawan dan pengamat budaya, I Gede Arya Danu Palguna, menjelaskan bahwa selain Prasasti Penempahan, beberapa peninggalan bersejarah lainnya juga memperlihatkan jejak agama Tirta, di antaranya arca Ganesha dan Siwa yang ditemukan di Pulau Panaitan yang diperkirakan berasal dari abad pertama setelah Masehi.
Penemuan lain termasuk tujuh yupa dari Kutai, Kalimantan Timur, yang diperkirakan dari sekitar tahun 400 Masehi.
Di Bali sendiri, arca Siwa di Bedulu, Gianyar, menjadi peninggalan kuno yang serupa dengan arca Siwa dari abad ke-8 di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah.
“Ketika Bali dikenal sebagai Bali Mula, agama Hindu disebut Agama Dharma atau Agama Tirta, di mana air menjadi elemen vital dalam setiap praktiknya. Air dianggap sebagai sumber kehidupan yang tak tergantikan,” ungkap Palguna.
Agama Tirta di Bali berkembang sebagai agama suci yang merangkul sinkretisme antara ajaran Hindu Siwa, Waisnawa, dan Brahma dengan kepercayaan lokal khas Bali.
Masing-masing sekte semula berdiri sendiri hingga akhirnya terjadi perpecahan yang memicu pertemuan penting di Pura Samuan Tiga.
Pertemuan ini, yang dikenal sebagai "Paruman Bata Anyar," dipimpin oleh Empu Kuturan, bertujuan untuk menyatukan sekte-sekte yang ada.
Palguna mengungkapkan, “Paruman ini menjadi titik awal lahirnya tatanan beragama dan kehidupan di Bali, yang kemudian melahirkan konsep Tri Hita Karana sebagai dasar keharmonisan hidup masyarakat Bali.”
Bagi para pencinta sejarah, kisah perjalanan agama Tirta ini menawarkan wawasan mendalam tentang kekayaan spiritual Bali dan upaya penyatuan yang terjadi ribuan tahun lalu. ***
Editor : I Putu Suyatra