BALIEXPRESS.ID - Dalam pelaksanaan persembahyangan di akhir nunas wangsuhpada, dan sudah biasa mendapatkan bija.
Bija atau wija dalam bahasa Sanskerta disebut gandaksata yang berasal dari dua kata yaitu ganda dan aksata yang artinya biji padi-padian yang utuh serta berbahu wangi.
Penyuluh Agama Hindu, Ida Bagus Putu Wiadnyana Manuaba, mengungkapkan makna bija adalah lambang kumara yaitu Putra atau Wija Bhatara Siwa.
Mawija mengandung makna menumbuhkembangkan benih ke - Siwa - an itu dalam diri orang. Benih itu akan bisa tumbuh dan berkembang.
“Maka dari itu mawija dilakukan setelah matirtha yaitu pertama dipercikan tiga kali,” papar Ida Bagus Manu.
Bija memiliki beberapa makna filisofis yang dikaitkan dengan spiritual, pertama kita lihat dari asal katanya, bija berasal dari Bahasa Jawa Kuno yang diadopsi dari kata VIJA ( Sanskrit).
Vija dikaitkan dengan kata Pranawa OM sebagai nama utama dari Tuhan.
“OM juga disebut VIJAKSARA, sebagai aksara Brahman yang tertinggi. Memakai bija di kening berarti memuja Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud Omkara,” tegasnya.
Hal ini juga berarti konsentrasi pikiran menuju kesrmpurnaan Tuhan. Orang yang memakai bija, diharapkan dapat mewujudkan perilaku satwika, pengasih dan bijaksana.
Bija terbuat dari beras yang bentuknya sempurna melambangkan Lingga, stana Siwa Mahadewa, melambangkan alam semesta yang juga berbentuk bulan.
Bija adalah benih padi yang berwarna putih yang bermakna hendaknya kita menumbuhkan benih-benih kesucian dalam kehidupan.
Dijelaskan juga bija memiliki makna kesungguhan dan kesadaran.
Karena seseorang yang memakai bija berarti orang yang seharusnya memiliki keyakinan dan kesadaran akan kewajibannya untuk mendekatkan diri kehadapan Ida Sang Hyang Widhi atau Tuhan.
“Orang yang memakai bija akan merasakan bahwa Tuhan berstana dalam dirinya sebagai paratman dan merasa terlindungi, akan merasakan bahwa Tuhan berada dalam setiap makhluk hidup,” pungkasnya. *
Editor : Putu Agus Adegrantika