Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menguak Sejarah Sakral dan 9 Fakta Menarik Pura Yeh Ketipat di Bali: Sumber Air Ajaib dan Jejak Ki Barak Panji Sakti

I Putu Mardika • Jumat, 8 November 2024 | 15:21 WIB
Pura Yeh Ketipat
Pura Yeh Ketipat

BALIEXPRESS.ID - Bagi para pelintas jalur Singaraja-Denpasar, nama Pura Yeh Ketipat mungkin sudah tidak asing. Berlokasi di Dusun Yeh Ketipat, Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Buleleng, tempat suci Hindu Bali ini sering dikunjungi oleh pengendara yang ingin bersembahyang, memohon keselamatan saat melintasi perjalanan yang menantang.

Namun, apa sebenarnya yang melatarbelakangi berdirinya pura ini?

Pada suatu pagi yang dingin, di tengah suasana tenang di Pura Yeh Ketipat, terlihat para pengendara berhenti, membeli canang sari di seberang jalan dan menghaturkannya di pelinggih sebagai persembahan.

Ritual sederhana ini dilayani oleh Jero Mangku Ketut Lanus, pemangku pura yang telah menjaga kesakralan tempat ini sejak lama.

Menurut Mangku Lanus, tidak banyak catatan tertulis mengenai sejarah Pura Yeh Ketipat, namun legenda tentang pura ini masih hidup di kalangan warga Dusun Yeh Ketipat dan Desa Pegayaman.

Konon, pura ini memiliki kaitan erat dengan perjalanan Ki Barak Panji Sakti dan keluarganya dari Gelgel menuju Den Bukit pada tahun 1568.

Pada suatu titik perjalanan, rombongan Ki Barak Panji Sakti berhenti untuk beristirahat dan bersembahyang. Mereka membawa ketupat sebagai bekal, namun beberapa pengikutnya mengalami cegukan karena kehabisan air.

Melihat kesulitan ini, Ki Barak Panji Sakti menancapkan keris pusaka ke tanah, dan secara ajaib, mata air pun memancar, menyelamatkan pengikutnya dari cegukan.

Keajaiban tersebut meninggalkan jejak hingga kini, dengan mata air suci yang masih mengalir di sebelah selatan Pura Yeh Ketipat, hanya 15 meter dari pura.

Mata air ini bukan hanya digunakan dalam upacara di Pura Yeh Ketipat, tetapi juga dimanfaatkan oleh pura-pura lain di Buleleng sebagai sumber tirta saat pujawali.

Bahkan, beberapa orang datang untuk memohon kesembuhan.

Pura Yeh Ketipat dibangun dengan konsep tri mandala, mencakup nista, madya, dan utama. Beberapa pelinggih di pura ini meliputi Padmasana, Gedong Sesuunan Pucak Luhur Yeh Ketipat, dan Meru Tumpang Pitu yang mewakili sejarah Ki Barak Panji Sakti.

Pura ini juga menjadi titik awal bagi napak tilas perjuangan Ki Barak Panji Sakti dalam peringatan Hari Ulang Tahun Kota Singaraja, mengingat sejarah Kota Singaraja erat terkait dengan perjuangan beliau.

Pura Yeh Ketipat bukan hanya sekadar tempat pemujaan, namun menyimpan jejak sejarah dan nilai sakral yang terus hidup dalam keseharian masyarakat Bali.

Letak yang strategis serta keberadaan mata air ajaib menjadikan pura ini tidak hanya tempat bersembahyang, tetapi juga simbol kekuatan alam dan spiritual yang mengiringi perjalanan mereka yang melintas.

9 Fakta Menarik di Balik Pura Yeh Ketipat, Buleleng: Jejak Ki Barak Panji Sakti dan Mata Air Ajaib

  1. Legenda Ki Barak Panji Sakti
    Pura Yeh Ketipat memiliki sejarah yang diyakini berkaitan dengan perjalanan Ki Barak Panji Sakti, sosok legendaris dari Bali Utara. Bersama rombongannya, Ki Barak Panji Sakti berhenti di lokasi pura ini dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan menuju Den Bukit.

  2. Kisah Mata Air Ajaib
    Dalam cerita turun-temurun, disebutkan bahwa saat berhenti, pengikut Ki Barak mengalami cegukan karena kehabisan air. Ki Barak Panji Sakti kemudian menancapkan keris pusaka ke tanah, dan secara ajaib memancarlah mata air yang mampu menghilangkan cegukan para pengikutnya. Hingga kini, mata air ini masih ada dan dianggap suci.

  3. Simbol Perlindungan Bagi Pelintas
    Terletak di tepi jalan utama Singaraja-Denpasar, Pura Yeh Ketipat kerap menjadi tempat perhentian bagi pengendara yang hendak memohon keselamatan. Banyak yang singgah untuk berdoa sebelum melanjutkan perjalanan panjang dan berkelok di jalur ini.

  4. Makna Tersembunyi di Balik Nama “Ketipat”
    Nama "Yeh Ketipat" diyakini berasal dari kejadian cegukan (ketipat dalam bahasa Bali) yang dialami para pengikut Ki Barak saat makan ketupat. Momen unik ini akhirnya diabadikan dalam nama pura, memperkuat nilai historis dan spiritualnya.

  5. Keberadaan Mata Air yang Sakral
    Selain sebagai sumber air suci, mata air Yeh Ketipat dianggap memiliki kekuatan penyembuhan. Masyarakat sering datang ke pura ini untuk memohon kesehatan dan kesembuhan dari berbagai penyakit.

  6. Konsep Tri Mandala
    Pura ini mengusung konsep tri mandala: nista, madya, dan utama, dengan pelinggih-pelinggih utama yang dihormati, seperti Padmasana, Meru Tumpang Pitu, dan Gedong Sesuunan. Setiap bagian pura dirancang dengan simbolisme khusus, menggambarkan tata ruang suci yang mengandung nilai-nilai spiritual Hindu Bali.

  7. Ritual Pembersihan Saat Pujawali
    Setiap perayaan pujawali pada Tumpek Landep, pralingga di pura ini disucikan menggunakan mata air Yeh Ketipat, memperkuat koneksi sakral antara pura dan alam sekitarnya. Ritual ini dianggap sebagai bentuk penghormatan pada leluhur dan memohon keselamatan.

  8. Pusat Napak Tilas Peringatan HUT Singaraja
    Pura Yeh Ketipat juga menjadi titik awal bagi para pelajar dalam napak tilas mengenang perjuangan Ki Barak Panji Sakti. Kegiatan ini biasa dilakukan dalam rangka HUT Kota Singaraja, sebagai cara untuk meneladani perjuangan dan ketangguhan pahlawan Bali Utara tersebut.

  9. Panorama Eksotis dengan Suasana Mistis
    Terletak di ketinggian dengan pepohonan rimbun di sekelilingnya, suasana di Pura Yeh Ketipat terasa tenang dan sejuk, seolah membawa para pengunjung ke suasana masa lalu yang penuh kedamaian. Meski di pinggir jalan, suasananya tetap sakral dan jauh dari keramaian.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Pura Yeh Ketipat #Ki Barak Panji Sakti #hindu #sejarah #buleleng