Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Unik!Prosesi Panjang Tradisi Ngangkid di Desa Pedawa Diawali Mepiuning, Jalani Tahapan Nganggur ke Rumah Balian

I Putu Mardika • Senin, 11 November 2024 | 05:00 WIB

Tradisi Ngangkid di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng
Tradisi Ngangkid di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Upacara ngangkid merupakan upacara kematian yang rutin dilaksanakan oleh seluruh masyarakat Hindu di Desa pedawa yang memiliki keluarga atau kerabat yang sudah meninggal.

Ngangkid merupakan jenis upacara kematian yang dalam praktiknya tidak ada jenazah dan hanya menggunakan simbol.

Dalam kepercayaan masyarakat Pedawa rohlah yang mereka upacarai sedangkan jenazahnya dikuburkan tepat setelah orang itu meninggal.

Biasanya masyarakat melakukan upacara ngangkid baik gabungan dengan dadya atau massal di desa Ngangkid dilaksanakan ketika semua rangkaian upacara dewa yadnya atau sabha sudah selesai.

Tokoh adat Pedawa, Wayan Sukrata menjelaskan, Upacara ngangkid diawali dengan tradisi mepiuning.

Tradisi mepiuning adalah tradisi pemberitahuan dan minta izin kepada Tuhan karena akan menggelar suatu upacara keagamaan.

Baca Juga: Kerugian Besar KFC Indonesia di Kuartal III-2024: Boikot dan Pandemi Picu Penutupan 47 Gerai & PHK Massal

Masyarakat yang akan melaksanakan upacara ngangkid umumnya mepiuning pertama di plangkiran yang berada di atas tempat tidur masing-masing.

“Mepiuning pertama ini rata-rata dilaksanakan dua bulan sebelum upacara ngangkid dan akan terus dilakukan sampai upacara ngangkid berakhir,” katanya.

Usai mepiuning dilanjutkan dengan Mejantos. Bagi masyarakat yang sudah akan menginjak tradisi mejantos, sebelum mepiuning mereka rapat untuk membicarakan tentang siapa balian yang dipilih selaku pemimpin pelaksana upacara ngangkid.

Saat keputusan tersebut sudah disepakati barulah menghubungi balian yang dipilih secara langsung maupun via media sosial, yang bertujuan memberitahu bahwa akan ada utusan kelompok ngangkid yang datang ke rumah balian.

Kelompok ngangkid yang datang ke rumah balian inilah yang disebut mejantos. Hal-hal yang dilakukan oleh kelompok ngangkid saat mejantos ke rumah balian adalah memberitahu tentang upacara ngangkid yang akan segera mereka langsungkan.

Baca Juga: Akses Jalan Batusesa-Batang-Angsoka, Karangasem Bali Rusak Lagi, Baru Sebulan Selesai Diperbaiki!

“Selain itu ada hal yang paling penting yang harus mereka bicarakan yaitu apakah balian yang mereka tuju siap digunakan sebagai sarana muput upacara ngangkid,” sebutnya.

Tahapan selanjutnya adalah prosesi Nganggur. Jika dalam bahasa Indonesia berarti berkunjung ke rumah seseorang yang ingin dikunjungi.

Proses upacara ini umumnya dilaksanakan dalam kurun waktu yang telah ditentukan oleh balian sesudah utusan datang ke rumah balian untuk pertama kalinya (mejantos).

 Upacara nganggur pertama kalinya ditandai dengan kedatangan rombongan kelompok ngangkid ke rumah balian. Rombongan terdiri dari ketua panitia, seksi-seksi pelaksana rangkaian proses upacara ngangkid, krama, dan lainnya.

Sesampainya mereka di rumah balian, selaku ketua panitia atau anggota panitia lainnya menyampaikan kembali tentang maksud dan tujuan mereka datang yaitu ingin menjadikan balian sebagai sarana untuk melaksanakan ritual ngangkid.

“Ciri khas dari nganggur adalah kelompok ngangkid membawa pabuan sebagai sarana upacara untuk diserahkan kepada balian. Umumnya dalam kurun waktu 3 hari sekali kelompok ngangkid nganggur ke rumah balian,” paparnya.

Baca Juga: Nyoman Ayu Carmenita Mendadak Viral di Korea Selatan, Disebut Bakal Jadi Rising Star di Negeri Ginseng!

Setelah semua proses awal upacara ngangkid di lewati, maka dilakukan tradisi lain. Dikenal sebagai negem dewasa, tradisi tersebut merupakan tradisi penentuan dan menyepakati tanggal pada hari baik upacara mepegat dan ngangkid.

Balian akan memberikan petunjuk di mana baiknya melaksanakan ritual ini. Kemudian upacara setelah tradisi negem dewasa adalah ritual nyilih tongos atau nyilih karang.

Nyilih tongos adalah istilah dari meminjam tempat oleh kelompok ngangkid secara niskala dengan mengadakan pecaruan untuk keberlangsungan upacara ngangkid.

Di awal sebelum memulai membuat tempat-tempat yang akan digunakan pada saat ngangkid, masyarakat di Desa Pedawa memiliki tradisi yang di sebut dengan ngerecah tiing.

“Ngerecah artinya belah dan tiing dalam bahasa Indonesia artinya bambu. Bambu yang diperlukan biasanya dibeli maupun dicari ke hutan milik desa,” ungkapnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#kematian #desa pedawa #bali #Banjar #roh #ngangkid #buleleng