BALIEXPRESS.ID - Bali selalu menjadi magnet bagi wisatawan, tak terkecuali pura-pura Hindu Bali kuno yang menyimpan sejarah panjang serta nilai-nilai sakral yang tak ternilai.
Salah satunya adalah kompleks Pura Kahyangan Tiga di Desa Batuan, Gianyar, yang terdiri dari Pura Puseh, Pura Desa, dan Pura Dalem.
Pura ini bukan sekadar tempat sembahyang, tetapi juga saksi sejarah perkembangan agama dan budaya Bali yang berusia lebih dari seribu tahun.
Mengapa pura yang dibangun pada tahun 944 Saka (1022 Masehi) ini begitu memikat?
Warisan Religius dari Mpu Kuturan
Kehadiran pura ini tak lepas dari peran Mpu Kuturan, tokoh penting yang datang ke Bali pada tahun 1001 Masehi.
Beliau mencetuskan konsep Tri Kahyangan, yaitu pemujaan kepada Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa—manifestasi dari Tuhan dalam Tri Murti Tatwa.
Melalui serangkaian paruman atau musyawarah dengan tokoh-tokoh Bali pada masa itu, Mpu Kuturan berhasil menyatukan berbagai sekte di Bali untuk bersama-sama bersembahyang kepada ketiga dewa tersebut.
Pura Kahyangan Tiga di Desa Batuan menjadi salah satu peninggalan hasil dari persatuan ini, berdiri sebagai simbol harmonisasi dan keberagaman.
Arsitekturnya yang unik dan kuno menjadi daya tarik tersendiri, sehingga wisatawan kerap mengunjungi pura ini, baik secara individu maupun berkelompok.
Kejayaan Kerajaan Warmadewa dan Evolusi Pura Batuan
Sejarah Pura Kahyangan Tiga Desa Batuan erat kaitannya dengan era kejayaan Kerajaan Warmadewa, khususnya masa pemerintahan Sri Aji Udayana Darma Warmadewa dan permaisurinya, Gunapria Darmapatni dari Jawa Timur.
Di bawah pemerintahan Warmadewa, Bali mengalami kemajuan pesat dalam aspek budaya dan agama, termasuk penetapan Tri Purusa—konsep religius yang akhirnya mewujud dalam pembangunan pura-pura pemujaan di Desa Batuan.
Bukti sejarah yang ditemukan pada prasasti di Pura Puseh menyebutkan bahwa Desa Batuan dulunya dikenal sebagai Desa Batuaran, berasal dari kata “Batu” karena daerahnya yang berbatu-batu.
Prasasti ini juga mencatat keputusan penting, termasuk pembebasan penduduk dari kewajiban ngayah atau bekerja rodi, setelah masyarakat desa mengajukan permohonan kepada raja.
Tradisi Sakral yang Tetap Lestari
Tak hanya sekadar situs bersejarah, Pura Kahyangan Tiga Desa Batuan juga menyimpan tradisi sakral yang terus dijaga, seperti Tabuh Rah atau ritual persembahan yang melibatkan sabung ayam.
Di Pura Puseh, terdapat arca yang dikenal sebagai Ida Ratu Saung atau Dewa Tabuh Rah, yang diyakini berkaitan dengan ritual sabung ayam sebagai bagian dari persembahan, bukan sebagai perjudian.
Selain itu, ada Tari Rejang Sutri yang dipentaskan pada sasih kalima hingga ngembak geni di sasih kadasa, menambah nilai spiritual pura ini.
Mengintip Keunikan Arsitektur Pura Batuan
Dari pintu masuk, para pengunjung akan disambut oleh gapura candi bentar yang khas, menuju kori agung yang melambangkan tempat keluar-masuknya para dewa.
Di halaman tengah pura terdapat Bale Agung, Bale Kulkul, serta gamelan tradisional yang kerap digunakan saat upacara.
Di bagian utama atau Utama Mandala, berdiri megah bangunan Padmasana dan Meru, serta berbagai palinggih lain sebagai tempat persembahan.
Tokoh Adat Desa Batuan, Made Djabur, menyatakan bahwa meskipun banyak dikunjungi wisatawan, kesucian pura tetap dijaga dengan baik.
Dengan usia yang sudah mencapai ribuan tahun, Pura Kahyangan Tiga Desa Batuan menjadi salah satu pura tertua di Bali dan sekaligus menjadi simbol dari evolusi kepercayaan serta tradisi masyarakat Bali dari masa ke masa.
Pesona yang Mengundang Rasa Penasaran
Pura Kahyangan Tiga Batuan bukan hanya tujuan wisata, tetapi juga tempat untuk merasakan kedalaman sejarah dan spiritualitas Bali.
Dengan arsitektur kuno yang khas, berbagai prasasti peninggalan, serta ritual tradisional yang terjaga, pura ini menyuguhkan pengalaman yang mendalam bagi setiap pengunjung.
Tidak heran, setiap tahunnya pura ini menjadi saksi bisu kerumunan wisatawan yang hilir mudik, terpesona akan kisah dan misteri yang terkandung di balik dinding-dinding tuanya.
Berikut adalah 10 fakta menarik tentang Pura Kahyangan Tiga Desa Batuan yang dapat menarik minat pembaca:
-
Usia Lebih dari 1.000 Tahun
Pura Kahyangan Tiga Batuan dibangun pada tahun 944 Saka atau 1022 Masehi. Ini menjadikannya salah satu pura tertua di Bali, dengan usia lebih dari satu milenium! -
Warisan Konsep Tri Kahyangan dari Mpu Kuturan
Pura ini merupakan bagian dari konsep Tri Kahyangan yang diperkenalkan oleh Mpu Kuturan pada tahun 1001 Masehi. Tujuan dari konsep ini adalah menyatukan sekte-sekte di Bali dengan tempat pemujaan untuk Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa. -
Saksi Sejarah Kerajaan Warmadewa
Berdasarkan prasasti, Pura Kahyangan Tiga di Desa Batuan berhubungan dengan masa kejayaan Raja Sri Aji Udayana Warmadewa dan Ratu Gunapria Darmapatni dari Dinasti Warmadewa, yang memimpin Bali pada abad ke-10 hingga 11. -
Arsitektur Unik dan Berbeda dari Pura Lain
Arsitektur Pura Kahyangan Tiga Batuan tidak sepenuhnya mengikuti konsep Tri Loka dan Kosala Kosali seperti pura lainnya di Bali. Pura ini memiliki struktur halaman (mandala) yang unik dengan beberapa bangunan bersejarah yang masih terjaga hingga kini. -
Pusat Tradisi Tabuh Rah
Pura Puseh Batuan dikenal sebagai pusat tradisi Tabuh Rah (sabungan ayam) yang memiliki makna khusus dalam upacara. Di sini terdapat arca Ida Ratu Saung, yang dipercaya sebagai simbolisasi Dewa Tabuh Rah, menggambarkan nilai spiritual yang mendalam, bukan hanya sekadar sabung ayam. -
Ritual Tari Rejang Sutri
Pada bulan-bulan tertentu, Pura ini menyelenggarakan Tari Rejang Sutri yang digelar dari sasih kalima hingga ngembak geni di sasih kadasa. Ritual ini menjadi daya tarik budaya yang unik dan mendalam bagi wisatawan dan masyarakat lokal. -
Wisata Religi yang Populer di Gianyar
Pura Kahyangan Tiga di Desa Batuan menjadi destinasi wisata religi yang populer di Gianyar. Setiap harinya, bus-bus wisatawan dari berbagai penjuru datang berkunjung, menunjukkan daya tarik budaya dan spiritual pura ini bagi masyarakat luas. -
Prasasti Bersejarah di Pura Puseh
Terdapat prasasti berangka tahun 944 Saka yang masih tersimpan di Pura Puseh Batuan. Prasasti ini mengabadikan kebijakan raja dalam membebaskan masyarakat dari kewajiban pajak dan ngayah rodi di pura, sebuah bukti sejarah tentang toleransi dan keadilan sosial di masa lampau. -
Simbol Tri Murti yang Sakral
Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem di Desa Batuan masing-masing dipersembahkan untuk Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa, sebagai manifestasi Tri Murti Tatwa yang menjadi landasan agama Hindu di Bali. Hal ini menunjukkan nilai sakral dan filosofi mendalam di balik keberadaan pura ini. -
Pura dengan Nilai Historis Tinggi
Pura Kahyangan Tiga ini bukan hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga situs sejarah yang mencerminkan perjalanan panjang spiritualitas dan kebudayaan Bali, dari masa kerajaan hingga kini.
Fakta-fakta ini membuat Pura Kahyangan Tiga di Desa Batuan tak hanya sebagai tempat suci, tetapi juga sebagai saksi sejarah dan warisan budaya yang mendalam, yang kini semakin menarik perhatian wisatawan lokal dan mancanegara. ***
Editor : I Putu Suyatra