Griya Kongco Dwipayana berdampingan dengan Pura Candi Narmada, Tanah Kilap. Bangunan Kongco secara keseluruhan memiliki luas sekitar 900 meter.
Griya ini berada di bawah naungan, bimbingan keanggotaan perhimpunan tempat ibadah Tri dharma atau TITD. Kongco ini dibangun sebagai tempat bhakti kepada Ida Ratu Niang Lingsir dan Dewa-Dewi pelindung Kongco lainnya.
Menurut Ketua Griya Kongco Dwipayana, Ida Bagus Adnyana atau yang akrab disapa Atu, keberadaan tempat ini berawal dari ditemukannya prasasti batu bertuliskan nama Dewa Ong Tay Jen yang berasal dari era Dinasti Qing, sekitar 400 tahun lalu.
Atu menemukan prasasti ini pada tahun 1987 bersama rembesan air di sekitarnya, yang kemudian menginspirasinya untuk membangun tempat peribadatan Kongco pada tahun 1990.
Proses pembangunan ini rampung pada 9 September 1999, dan ia mengaku nama tempat ibadah tersebut diperoleh melalui "wahyu dari alam atas."
Griya Kongco Dwipayana tidak hanya menjadi tempat ibadah umat Tionghoa, tetapi juga mengintegrasikan unsur budaya lokal Bali.
Selain terdapat altar Dewa Ong Tay Jen, di tempat ini juga terdapat ruang peribadatan Dewa Bali yang dipercaya sebagai simbol penyatuan antara ajaran Siwa dan Budha. Di area lain, terdapat tempat pemujaan 7 Bidadari yang diyakini membawa cinta kasih dan spiritualitas.
Atu menjelaskan bahwa akulturasi budaya juga tercermin melalui Sanggar Mutiara Naga, sanggar kesenian di Griya Kongco Dwipayana yang didirikan sejak tahun 1999.
Sanggar ini menjadi pelopor pementasan barongsai di Bali dan melatih generasi muda dua kali seminggu sebagai upaya pelestarian budaya.
Griya Kongco Dwipayana yang luasnya mencapai 14 are ini berdekatan dengan Pura Candi Narmada, sehingga sering juga menjadi tempat persembahyangan umat Hindu di Bali.
“Alat persembahyangan hampir sama dengan umat Hindu, seperti canang dan buah-buahan,” ujar Atu.
Lokasinya yang dekat dengan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai juga menarik perhatian delegasi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada 2022 yang memuji Bali atas toleransi beragamanya.
Sebagai tempat yang terbuka bagi umum, Griya Kongco Dwipayana menyambut kunjungan dari semua kalangan di luar umat Tionghoa, meski tetap menghormati pantangan seperti larangan bagi perempuan yang sedang haid atau pengunjung yang tengah berduka.
Pihak Griya juga menyediakan selendang dan sarung untuk memastikan kesopanan dalam berpakaian bagi semua pengunjung.
"Kami terbuka untuk kunjungan dari luar keyakinan kami sebagai wujud kebersamaan dan toleransi," pungkas Atu. (dik)
Editor : I Putu Mardika