Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah dan 10 Fakta Unik Tempat Suci Hindu Bali, Pura Sakti di Tengah Hutan Pejarakan: Dari Pawisik hingga Tempat Pengobatan Gaib

I Putu Suyatra • Rabu, 13 November 2024 | 03:06 WIB
Pura Sakti, Desa Pejarakan di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali
Pura Sakti, Desa Pejarakan di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali

BALIEXPRES.ID - Desa Pejarakan di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, menyimpan sebuah kisah unik tentang berdirinya salah satu tempat suci Hindu Bali, Pura Sakti.

Sebelum berubah menjadi tempat suci yang tertata indah, kawasan ini dulunya adalah hutan belantara, tempat penggembala membawa ternaknya.

Siapa sangka, sejarah keberadaan pura ini bermula dari sebuah pawisik (bisikan gaib) yang diterima oleh empat penekun spiritual saat bersemedi di Pura Mpu Baradah, Kediri, Jawa Timur, pada tahun 2006.

Seperti apa kisah di balik pawisik tersebut?

Pura Sakti kini berdiri anggun di tengah rimbunnya hutan, sekitar 200 meter di utara jalan raya Singaraja-Gilimanuk.

Keberadaannya yang tersembunyi memberikan kesan asri dan sejuk bagi para pemedek yang berkunjung.

Namun, di balik keindahan ini, tersimpan cerita mistis yang dimulai dari pengalaman spiritual Jro Nyoman Suartha, salah satu dari empat penekun yang mendapat pawisik untuk mendirikan pura di lokasi ini.

Pada malam Purnama Sasih Kalima, November 2006, Jro Nyoman Suartha bersama tiga rekannya dari Yayasan Bali Pulina Dharma menerima pesan gaib saat bermeditasi di Kediri.

Dalam pawisik tersebut, mereka diperintahkan untuk mencari lokasi sumur gaib di tengah hutan wilayah Gerokgak.

Mereka kembali ke Bali, namun menemukan lokasi tersebut bukanlah tugas mudah. Setelah tiga tahun mencari dan berkonsultasi dengan sejumlah pemangku, petunjuk baru datang pada hari Kajeng Kliwon Enyitan, Februari 2009.

Takdir membawa mereka bertemu seorang lelaki misterius di pinggir hutan. Lelaki itu memberi petunjuk tentang sebuah sumur di bawah pohon besar yang konon sering digunakan untuk pengobatan.

Dengan tekad bulat, Jro Nyoman Suartha dan rekan-rekannya bergegas menuju lokasi dan menemukan sumur tua di bawah pohon Kroya.

Sumur ini dianggap unik karena kedalamannya tak terukur, meski menggunakan alat modern sekalipun.

Tak berhenti di situ, mereka menyaksikan fenomena mistis sehari setelah Purnama Jyeshta pada Mei 2009.

Terlihat angin puting beliung dan penampakan wong samar di sekitar lokasi tersebut.

Momen ini menjadi awal dari pembangunan Pura Sakti secara bertahap, didukung oleh dana dari para donatur dan pemedek yang datang setiap hari.

Jro Nyoman Suartha juga mengungkapkan keyakinannya bahwa Pura Sakti merupakan petilasan Dang Hyang Nirartha, tokoh suci dalam lontar Dwijendra Tattwa.

Dalam catatan lontar, disebutkan bahwa Dang Hyang Nirartha melakukan perjalanan spiritualnya dari Rambut Siwi ke Bali Utara, ditemani anak dan istrinya serta diiringi oleh seekor monyet dan burung.

Sesampainya di utara Bali, Beliau dikabarkan masuk ke dalam sumur purba dan tubuhnya dikelilingi cahaya setelah keluar.

Menariknya, sumur purba di Pura Sakti ini dipercaya sebagai "sumbu bumi," yang konon berhubungan dengan energi kundalini.

Para pemedek yang tangkil ke pura ini, selain bersembahyang, juga sering melakukan prosesi panglukatan untuk memohon kesembuhan, terutama dari penyakit yang diyakini terkait dengan ilmu hitam atau energi negatif.

Sumur gaib di areal Pura Sakti diyakini memiliki khasiat pengobatan ampuh, dan pemedek yang terkena pengaruh magic akan merasakan reaksi kuat saat proses panglukatan dilakukan di sini.

Berikut adalah beberapa fakta unik tentang Pura Sakti di Desa Pejarakan, Gerokgak, Buleleng:

  1. Bermula dari Pawisik (Bisikan Gaib)
    Pura Sakti dibangun setelah empat penekun spiritual menerima pawisik di Pura Mpu Baradah, Kediri, Jawa Timur, pada tahun 2006. Pawisik tersebut berisi petunjuk untuk mendirikan pura di tengah hutan di Kecamatan Gerokgak, di lokasi yang terdapat sumur gaib di bawah pohon besar.

  2. Lokasi di Tengah Hutan
    Terletak di tengah hutan belantara yang asri dan sejuk, pura ini menyuguhkan suasana tenang dan alami, cocok untuk meditasi. Jaraknya sekitar 200 meter dari jalan utama Singaraja-Gilimanuk, dan area ini sebelumnya sering digunakan sebagai tempat penggembalaan sapi oleh warga setempat.

  3. Sumur Gaib yang Tak Terukur Kedalamannya
    Sumur di area Pura Sakti ini dianggap istimewa karena kedalamannya tak bisa diukur, bahkan dengan alat modern. Sumur ini terletak di bawah pangkal pohon Kroya dan dianggap sebagai pusat energi spiritual yang memiliki khasiat pengobatan.

  4. Dibangun setelah Penampakan Mistis
    Fenomena mistis berupa angin puting beliung dan penampakan wong samar terjadi sehari setelah Purnama Jyeshta pada Mei 2009. Kejadian ini dipercaya sebagai tanda dimulainya pembangunan Pura Sakti.

  5. Dipercaya sebagai Petilasan Dang Hyang Nirartha
    Pura Sakti diyakini merupakan petilasan dari Dang Hyang Nirartha, tokoh suci yang dalam lontar Dwijendra Tattwa digambarkan berkelana ke Bali Utara dalam perjalanan spiritual, ditemani anak dan istri, serta diantar oleh seekor monyet dan burung.

  6. Sumur Gaib sebagai Sumbu Bumi
    Sumur di Pura Sakti disebut sebagai “sumbu bumi” yang dianggap mewakili energi kundalini. Menurut kepercayaan, orang yang mampu menyelaraskan energi kundalini dapat mencapai tingkat kesadaran yang tinggi, seperti yang dilambangkan oleh Dang Hyang Nirartha.

  7. Tempat Pengobatan Gaib Melalui Panglukatan
    Banyak pemedek yang datang ke Pura Sakti bukan hanya untuk bersembahyang, tetapi juga untuk nunas tamba (memohon kesembuhan), terutama bagi mereka yang terkena penyakit non-medis atau pengaruh ilmu hitam. Proses panglukatan di pura ini dipercaya memiliki kekuatan untuk menyembuhkan penyakit semacam itu.

  8. Perjalanan Panjang Mencari Lokasi
    Butuh tiga tahun bagi para penekun spiritual untuk menemukan titik tepat sesuai petunjuk pawisik. Bahkan, mereka harus meminta bantuan beberapa pemangku dari pura lain hingga akhirnya menemukan petunjuk niskala di tahun 2009.

  9. Pembangunan yang Didukung Donatur
    Pembangunan Pura Sakti dilakukan secara bertahap dan didukung oleh sumbangan dari para donatur dan pemedek yang semakin hari semakin banyak berkunjung ke sana, hingga terbentuklah pura seperti sekarang ini.

  10. Ramai Dikunjungi, Terutama Saat Kajeng Kliwon
    Pura ini sering ramai dikunjungi terutama pada hari-hari suci seperti Kajeng Kliwon, ketika masyarakat Bali melakukan ritual untuk membersihkan diri dari energi negatif.

 Baca Juga: Wadah dalam Upacara Ngaben Umat Hindu Bali Ada Tiga Jenis: Ini Perbedaannya

Editor : I Putu Suyatra
#melukat #bali #Pura Sakti #Dang Hyang Nirartha #gerokgak #hindu #buleleng