Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

SERING DISAKSIKAN, JARANG DIKETAHUI! Makna dan 10 Fakta Menarik Pohon Pisang dan Pepaya dalam Ritual Calonarang: Sebuah Ritual Pertunjukan Hindu Bali

I Putu Suyatra • Kamis, 14 November 2024 | 03:58 WIB
Pementasan Calonarang
Pementasan Calonarang

BALIEXPRESS.ID - Ritual Calonarang, yang merupakan pertunjukan seni Hindu Bali dengan unsur mistis yang kuat, menyimpan makna yang dalam di balik setiap perlengkapan yang digunakan, termasuk Wadah, Pohon Biu (pisang), dan Gedang (pepaya).

Tak hanya sekadar dekorasi, keberadaan sarana-sarana ini sangat penting, bahkan ritual tersebut tak bisa dilaksanakan jika komponen ini tidak terpenuhi.

Apa yang tersembunyi di balik penggunaan pohon-pohon tersebut? Simak penjelasan lengkapnya!

Calonarang, yang hingga kini sering dipentaskan baik sebagai pertunjukan hiburan maupun ritual keagamaan, mengangkat kisah legendaris Rangda Dirah.

Tarian dan drama yang memadukan unsur mistis ini menggambarkan perjuangan antara energi negatif dan positif.

Meskipun sering dihubungkan dengan ilmu kekebalan atau kejahatan, menurut Prof. Dr. I Nyoman Suarka, seorang dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, inti dari Calonarang sebenarnya adalah pembelajaran untuk mengubah energi negatif menjadi positif.

Simbolisme Pohon-Pohon dalam Calonarang

Dalam ritual ini, ada satu komponen yang menarik perhatian: pohon Pisang Saba dan Pepaya.

Suarka menjelaskan bahwa kedua pohon ini menyimbolkan tubuh dari Dewi Durga, yang dulunya adalah Dewi Uma sebelum berubah menjadi penguasa kuburan.

Kisah ini dimulai saat Dewi Uma dihukum oleh Dewa Siwa dan dikutuk untuk turun ke dunia sebagai Dewi Durga, di mana ia menjadi penguasa segala bentuk mala seperti bhuta dan memedi.

Keberadaan pohon-pohon tersebut dalam ritual ini diambil dari cerita mitologis, di mana tubuh Dewi Uma yang berubah menjadi Dewi Durga disimbolkan dengan berbagai tumbuhan, termasuk pohon pisang yang mewakili payudara Dewi Uma dan pepaya yang melambangkan tubuhnya.

Namun, ada lebih dari sekadar simbolisme fisik. Pohon-pohon ini juga menjadi sarana dalam proses penyucian dan pembebasan energi negatif.

Saat sang patih memotong pohon Biu Saba dan Gedang di depan Wadah dengan keris, hal ini menggambarkan bagaimana kita harus membuka pikiran dan hati untuk menerima kebaikan, meninggalkan pikiran yang buntu dan terbebani oleh mala dalam hidup.

Kitab Nircaya Lingga: Ilmu Tersembunyi dalam Calonarang

Selain pohon-pohon tersebut, pertunjukan Calonarang juga menggunakan Kitab Nircaya Lingga, yang berisi ilmu kawisesaan atau pengetahuan yang 'gelap', yang mengajarkan untuk membuka pikiran dalam mencari kebenaran.

Suarka menambahkan bahwa untuk memahami ritual ini, kita perlu melampaui sekadar fisik dan menggali makna yang lebih dalam.

Pertempuran Energi dalam Calonarang: Kehidupan dan Kematian

Pertunjukan ini mencapai puncaknya dengan pertempuran antara Dewi Durga dan Dewa Siwa, yang mewakili pertempuran antara energi positif dan negatif.

Setelah masa hukumannya selesai, Dewi Durga kembali menjadi Dewi Uma, yang kini menjadi simbol pencerahan setelah melalui proses panjang pembebasan dari segala energi negatif.

Calonarang bukan hanya sekadar ritual atau seni pertunjukan; ia merupakan metafora kehidupan yang mengajarkan kita bagaimana menghadapi dan mengubah segala bentuk energi negatif yang ada dalam diri kita.

Dengan simbolisme pohon dan filosofi yang terkandung dalam kisahnya, ritual ini terus dipentaskan untuk mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keseimbangan dalam hidup dan meresapi makna di balik setiap tindakan dan keputusan yang kita buat.

10 Fakta Menarik Seputar Ritual Calonarang serta Kaitannya dengan Pohon Pisang dan Pepaya 

1.  Simbolisme Pohon dalam Ritual Calonarang

Pohon Pisang Saba dan Pepaya bukan hanya sekadar hiasan, melainkan simbol tubuh Dewi Durga yang merupakan bentuk transformasi dari Dewi Uma.

Pohon pisang mewakili payudara Dewi Uma, sementara pohon pepaya melambangkan tubuhnya yang mengalami perubahan saat turun ke dunia.

2.  Cerita di Balik Dewi Durga

Ritual Calonarang mengisahkan perjalanan Dewi Uma yang dikutuk menjadi Dewi Durga setelah berbuat kebohongan kepada Dewa Siwa.

Sebagai Dewi Durga, ia berstana di kuburan bersama 108 Bhuta, yang bertugas menebar penyakit dan bencana di dunia.

3.  Makna Wadah dalam Calonarang

Wadah yang digunakan dalam ritual ini, yang dilengkapi dengan belasan anak tangga, menjadi tempat berstananya Rangda yang telah melalui ritual nedunin.

Wadah ini memiliki filosofi mendalam, mengajarkan kita untuk membuka pikiran dan mencapai pencerahan.

4.  Kitab Nircaya Lingga: Ilmu Kawisesaan yang Gelap

Calonarang menggunakan Kitab Nircaya Lingga, yang berisi pengetahuan "gelap" yang tidak bersinar.

Kitab ini mengajarkan para peserta ritual untuk membuka pikiran dan menyelami makna kehidupan yang lebih dalam.

5.  Peran Patih dalam Pertunjukan

Dalam cerita Calonarang, sebelum Rangda turun dari Wadah, patih akan memotong pohon Biu Saba dan Gedang di depan Wadah dengan keris.

Ini adalah simbol perjuangan untuk membuka pikiran dan mengatasi hambatan dalam hidup.

6.  Filsafat Kehidupan dalam Calonarang

Calonarang lebih dari sekadar kisah mistis; ritual ini mengandung banyak filsafat hidup. Ia mengajarkan bagaimana mengubah energi negatif menjadi positif, dan pentingnya keseimbangan dalam kehidupan melalui proses pembersihan spiritual.

7.  Perang Energi Antara Siwa dan Durga

Pertempuran antara Dewa Siwa dan Dewi Durga merupakan simbol pertempuran antara energi positif dan negatif.

Ketegangan ini menggambarkan perjuangan manusia untuk menemukan keseimbangan dalam diri mereka.

8.  Dewi Uma Kembali ke Nirwana

Setelah menjalani hukuman sebagai Dewi Durga, Dewi Uma kembali ke Nirwana setelah dilebur dengan mantram Panca Tirtha dan Panca Brahma Hredaya.

Sebagai hasilnya, tubuhnya berubah menjadi berbagai jenis tumbuhan, yang melambangkan transformasi spiritualnya.

9.  Kisah Legendaris yang Tetap Hidup

Meskipun Calonarang adalah cerita yang berasal dari zaman dahulu, ritual ini masih sering dipentaskan hingga hari ini sebagai pertunjukan seni dan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual dan filosofi hidup yang terkandung di dalamnya.

10.  Menghadirkan Energi Positif Melalui Simbolisme

Semua unsur dalam Calonarang, dari pohon-pohon hingga kitab yang digunakan, memiliki makna yang mengajarkan tentang pengelolaan energi dalam kehidupan, terutama dalam menghadapi tantangan dan konflik dalam hidup kita sehari-hari.

 ***
 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #pisang #calonarang #pepaya