Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Misteri Tempat Suci Hindu Bali, Pura Pucak Taman Sari: Tirta Ajaib yang Muncul dan Hilang di Sebongkah Batu Kuno

I Putu Suyatra • Sabtu, 16 November 2024 | 15:11 WIB
Pura Pucak Taman Sari di Desa Pakraman Bukit, Banjar Bukit, Gianyar, Bali.
Pura Pucak Taman Sari di Desa Pakraman Bukit, Banjar Bukit, Gianyar, Bali.

BALIEXPRESS.ID – Terletak di Desa Pakraman Bukit, Banjar Bukit, Gianyar, salah satu tempat suci Hindu Bali, Pura Pucak Taman Sari menyimpan misteri yang membuat siapa saja penasaran.

Kawasan suci ini tak hanya unik, tetapi juga dipercaya memiliki kaitan sejarah dengan letusan Gunung Mahameru berabad-abad lalu.

Namun, daya tarik utamanya adalah sebuah batu besar yang secara misterius mengeluarkan tirta (air suci), meski tak ada sumber air atau hujan di sekitarnya.

Tirta yang Muncul dan Menghilang Tanpa Penjelasan

Menurut Jero Mangku Ketut Sujendra, pemangku pura, fenomena tirta yang muncul di cekungan batu besar ini sungguh ajaib.

"Tirta itu bisa tiba-tiba penuh meskipun musim kemarau, dan sebaliknya sering kosong saat musim hujan," ujarnya.

Yang lebih mengejutkan, tirta ini kerap berubah warna—kadang keemasan, bening, atau seputih susu—dan dipercaya sebagai pemberian khusus dari Bhatara Bayu, dewa yang distanakan di pura ini.

Kaitan Sejarah dengan Gunung Mahameru

Pura Pucak Taman Sari merupakan satu dari tiga pura yang berada di puncak bukit kawasan ini.

Ketiganya, termasuk Pura Pucak Manik Ukir, diyakini menyimpan peninggalan puncak Gunung Mahameru yang jatuh ke Bali.

Prasasti dan artefak purbakala menjadi bukti adanya hubungan erat antara kawasan ini dengan letusan besar Gunung Mahameru di masa lalu.

"Ketika piodalan ageng di Purnama Kadasa, seluruh pratima dari Kahyangan Tiga akan dibawa ke Pura Pucak Manik untuk melaksanakan upacara Ngusaba," jelas Jero Mangku.

Dalam ritual ini, tirta dari Pura Pucak Taman Sari sering digunakan untuk muput karya besar, seperti ngenteg linggih.

Pantangan dan Keunikan yang Mengundang Penasaran

Pura ini dikenal sangat keramat dengan sejumlah pantangan. Wanita yang belum “ketus” (selesai menstruasi pertama) dan bayi dilarang masuk ke area inti.

“Pernah ada yang melanggar aturan ini, dan akhirnya tersesat, tidak bisa pulang," ungkap Jero Mangku.

Selain itu, hanya orang tertentu, seperti para balian atau pemegang ajian khusus, yang sering tangkil ke pura ini.

Bahkan, tirta ajaib sering tidak muncul jika ada pamedek (pengunjung) yang tidak mengikuti tata cara atau melanggar pantangan.

Misteri yang Belum Terpecahkan

Jero Mangku Ketut Sujendra menjelaskan bahwa tirta ini terbagi menjadi tiga jenis: Tirta Pingit (digunakan hanya untuk ritual tertentu), Tirta Pamuput Karya (untuk upacara penutup), dan Tirta Tanhana (tidak nyata secara fisik).

"Tirta Tanhana adalah fenomena yang sulit dijelaskan—tidak bersumber dari apapun, kadang ada, kadang tidak, dan warnanya sering berubah," tambahnya.

Bagi yang ingin bersembahyang, ada syarat khusus yang harus dipenuhi, seperti menggunakan pakaian serba putih dan menghaturkan pejati putih.

"Semua ini dilakukan demi menjaga kesucian pura," ujar Jero Mangku.

Pura Penuh Makna Spiritual

Piodalan Pura Pucak Taman Sari jatuh setiap Hari Raya Kuningan. Pura ini diempon oleh 78 marep atau 22 kepala keluarga, yang menjaga tradisi dan keunikannya hingga kini.

Misteri tirta ajaib serta sejarah yang melingkupinya terus menjadi daya tarik yang membuat pura ini istimewa.

Apakah Anda penasaran ingin melihat langsung keajaiban Pura Pucak Taman Sari?

Ingatlah, kunjungi dengan hati yang bersih dan hormati segala aturan yang ada. Siapa tahu, Anda menjadi saksi kehadiran tirta misterius ini! ***

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #Tirta #Pura Pucak Taman Sari