BALIEXPRESS.ID - Terletak di Desa Seraya, Karangasem, Pura Bhur Bwah Swah berdiri megah di atas bukit kembar, menjadi simbol tiga dunia yang suci.
Meski lokasinya terpencil dan membutuhkan perjuangan berat untuk mencapainya, pura ini tetap menarik hati pamedek yang rela menempuh medan berat demi bersembahyang.
Apa rahasia di balik daya tariknya yang magis ini?
Simbol Tiga Dunia: Bhur, Bwah, Swah
Pura Bhur Bwah Swah terdiri dari tiga lokasi berbeda yang melambangkan tiga dunia: Bhur (alam bawah), Bwah (alam tengah), dan Swah (alam atas).
Pura Bhur Loka, yang berstana Dewa Brahma, berada 1,2 km dari area parkir, sementara Pura Bwah Loka 1,5 km di atasnya.
Terakhir, Pura Swah Loka berada di puncak bukit, menjadi tempat tertinggi yang disucikan.
Jejak Sejarah dan Kisah Penemuan Misterius
Keberadaan pura ini disebut telah ada sejak zaman purba, tetapi sempat terlupakan selama satu dekade hingga ditemukan secara tak sengaja oleh seorang sesepuh Muslim di Desa Seraya.
Penemuan ini menjadi awal cerita kebersamaan masyarakat Hindu dan Muslim di wilayah tersebut.
Setiap tahun, tradisi Usaba Japra digelar, mempertemukan dua komunitas yang harmonis.
“Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun,” ujar Jero Mangku Made Kembar, pemangku pura.
Masyarakat Muslim datang membawa hasil panen sebagai wujud rasa syukur, sementara umat Hindu melanjutkan persembahyangan mereka.
Tradisi dan Pantangan yang Wajib Dijaga
Berziarah ke Pura Bhur Bwah Swah memerlukan kesiapan fisik dan ketaatan pada aturan adat.
Pemedek diwajibkan malukat terlebih dahulu di beji suci sebelum memulai perjalanan panjang.
Ada pantangan yang tak boleh dilanggar, seperti membawa daging babi, pindang, ikan laut, atau benda-benda terkait Ilmu Kawisesaan.
Pelanggaran aturan ini disebut dapat menimbulkan pengalaman mistis, seperti kehilangan arah atau merasa tubuh berat.
“Kami pernah menemui pemedek yang membawa benda kawisesan, mereka merasa panas dan tak sanggup melanjutkan perjalanan,” ungkap Mangku Made Kembar.
Perjalanan Berat yang Sarat Makna
Perjalanan menuju Pura Bhur hingga Pura Swah adalah tantangan tersendiri. Wayan Genta, seorang wanita berusia 69 tahun dari Denpasar, mengaku tetap semangat meski harus mendaki dengan membawa banten di atas kepala.
“Saya percaya Ida Bhatara akan membantu saya,” katanya.
Medan berat dengan tanjakan curam dan jalan setapak melintasi hutan menjadikan perjalanan ini penuh perjuangan, tetapi tak menyurutkan semangat pamedek.
“Ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga spiritual,” tambah Mangku Made Kembar.
Keindahan Akulturasi Budaya
Setiap 30 tahun, perayaan Usaba Japra bertepatan dengan Hari Raya Galungan. Harmoni budaya terlihat jelas saat umat Muslim berziarah ke arah barat, sementara umat Hindu bersembahyang menghadap timur.
"Meskipun bertepatan, semuanya berlangsung damai tanpa gangguan," ujar Mangku Kembar.
Dengan konsep Trimurti sebagai tonggak utama—Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara, dan Iswara sebagai pelebur—Pura Bhur Bwah Swah bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol kebersamaan, tradisi, dan sejarah yang abadi. ***
Editor : I Putu Suyatra