Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makam Misterius di Sebelah Pura Kepuh Kembar: Pohon Ajaib yang Tumbuh dari Jenazah Gusti Ayu Made Rai

I Putu Suyatra • Minggu, 17 November 2024 | 18:26 WIB
Gusti Ayu Made Rai, putri Raja Pemecutan
Gusti Ayu Made Rai, putri Raja Pemecutan

BALIEXPRESS.ID - Tahukah Anda tentang makam unik yang terletak tepat di sebelah Pura Kepuh Kembar, di kawasan Setra Badung, Denpasar, Bali?

Makam tersebut milik Gusti Ayu Made Rai, putri Raja Pemecutan, yang memiliki kisah penuh misteri, terutama mengenai pohon yang tumbuh dari jenazahnya.

Bagaimana bisa sebuah pohon tumbuh dari makamnya? Apa hubungan makam ini dengan akulturasi agama dan budaya Bali? Simak kisah lengkapnya yang penuh keajaiban ini!

Makam Gusti Ayu Made Rai, atau Raden Ayu Siti Khotijah, adalah satu-satunya makam muslim yang terletak di tengah pemakaman umat Hindu di Desa Pemecutan.

Setiap harinya, makam ini ramai dikunjungi peziarah, yang terpesona oleh cerita di baliknya. Setelah melewati gapura hijau toska, pengunjung akan disambut oleh pohon Kepuh yang dibalut kain poleng, yang tampaknya tumbuh langsung dari makam tersebut.

Menurut Jero Mangku I Made Puger, pemangku yang menjaga makam tersebut, makam ini menjadi simbol akulturasi antara agama Hindu dan Islam.

"Ini adalah bukti bahwa keberagaman dapat hidup berdampingan dengan damai," ujarnya saat ditemui oleh Bali Express.

Lalu, apa yang membuat makam ini begitu istimewa? Konon, pohon Kepuh yang tumbuh dari makam Gusti Ayu tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga mengandung pesan yang mendalam.

Seperti yang diceritakan oleh Jero Mangku, Gusti Ayu adalah putri Raja Pemecutan yang sangat cantik, namun menderita penyakit kuning yang parah. Berbagai upaya pengobatan dilakukan, namun tak ada yang berhasil.

Dalam keputusasaan, Raja Pemecutan mengadakan sayembara untuk siapa saja yang bisa menyembuhkan penyakit putrinya.

Dari Jawa, datanglah Pangeran Cakraningrat IV dari Bangkalan Madura, yang dengan ilmu spiritualnya berhasil menyembuhkan Gusti Ayu.

Sebagai tanda terima kasih, Raja Pemecutan memenuhi janji untuk menikahkan putrinya dengan Pangeran Cakraningrat, meskipun dia seorang Muslim.

Setelah menikah, Gusti Ayu kembali ke Bali, namun di tengah perjalanan, ia memutuskan untuk mengunjungi kampung halamannya.

Malangnya, ketika ia melakukan ibadah salat Maghrib di Puri Pemecutan, para pengawal istana yang tidak tahu bahwa Gusti Ayu telah memeluk agama Islam, mengira hal tersebut sebagai tanda 'ilmu hitam'.

Akibatnya, Gusti Ayu dibunuh atas perintah Raja Pemecutan.

Sebelum meninggal, Gusti Ayu berpesan agar ia dibunuh menggunakan tusuk konde, dan tubuhnya dimakamkan di dekat Pura Kepuh Kembar dengan permintaan khusus.

"Jika tubuhnya mengeluarkan bau harum, makamnya harus dijadikan tempat suci," kata Jero Mangku.

Keajaiban pun terjadi dua hari setelah pemakaman: sebuah pohon tumbuh dari kepala makamnya.

Pohon tersebut, yang konon tumbuh dari rambut sang putri, sempat ditebang dua kali, namun selalu tumbuh kembali.

Hingga kini, pohon tersebut menjadi saksi bisu dari kisah tragis Gusti Ayu, yang akhirnya dibuktikan bahwa ia bukanlah penganut 'Ilmu Pangleakan', seperti yang dituduhkan.

Mengapa makam ini tepat berada di sebelah Pura Kepuh Kembar?

Semua ini berhubungan dengan pesan terakhir Gusti Ayu yang ingin membuktikan kesucian dan ketulusan dirinya.

Misteri pohon yang terus tumbuh hingga kini masih memukau banyak orang yang datang untuk berziarah, memperdalam sejarah, serta merasakan aura keramat yang ada di makam tersebut. *** 

 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #makam #muslim #denpasar #setra badung