BALIEXPRESS ID - Desa Sayan Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar menggelar tradisi mapeed serangkaian piodalan di desa setempat.
Seperti yang dilaksanakan oleh Banjar Mas, Sayan, Minggu (17/11) melaksanakan tradisi mapeed menggunakan sarana banten prani.
Bandesa Adat Sayan, Anak Agung Rai Sugiartha, menjelaskan tradisi mapeed memang menjadi tradisi di desa setempat setiap piodalan di pura kahyangan tiga setempat.
"Namun beberapa terakhir ini mapeed biasanya menggunakan gebogan, kini diganti dengan banten prani. Itu isinya berupa makanan hasil bumi yang nantinya akan dihaturkan ke pemangku atau prajuru yang ada di pura, termasuk penganyah sekaa gong dan sebagainya," jelas Agung Rai.
Diungkapkan juga tentang definisi tentang banten, menurut lontar Yadnya Prakerti disebutkan bahwa, banten merupakan simbol dari tubuh manusia itu sendiri (Bhuwana Alit), wujud dari Ida Bhatara (Ida Sang Hyang Widhi) dan juga simbol alam semesta (Bhuwana Agung).
Banten juga sering disebut sebagai upakara, dimana upa artinya persembahan atau hasil dan kara artinya tangan.
"Maka upakara adalah hasil persembahan dari hasil karya tangan umat Hindu (banten). Banten juga berasal dari kata ‘bang’ artinya merah/ Brahma (Tuhan), dan enten yang berarti ingat. Maka Banten juga berarti ingat selalu dengan Tuhan," imbuhnya.
Setiap persembahan berupa banten berarti selalu ingat dengan kemahakuasaan Sang Pencipta. Sedangkan kata prani bermakna persembahan.
Jadi Banten Prani merupakan banten yang dipersembahkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi beserta manifestasiNya, sebagai ucapan puji syukur atas anugerah yang diberikan kepada umat manusia.
Dengan persembahan banten prani ini, umat mengharapkan agar energi-energi positif yang ada di alam semesta senantiasa memberikan kesucian dan kemuliaan kepada umat.
Prosesi mapeed tersebut, dilaksanakan oleh ibu-ibu PKK dan diiringi gambelan baleganjur. Selama piodalan 3 hari, setiap banjar melakukan tradisi mapeed tersebut dengan dua banjar per harinya. *
Editor : Putu Agus Adegrantika