BALIEXPRESS.ID - Nama Pura Batur tentu tak asing bagi masyarakat Hindu Bali. Namun, tahukah Anda bahwa Pura Batur di Desa Pakraman Galiukir, Kecamatan Pupuan, Tabanan, menyimpan kisah unik dan penuh misteri?
Berbeda dari Pura Batur yang identik dengan Kintamani, Bangli, Pura Batur Galiukir berdiri sendiri di luar Kahyangan Tiga dan memiliki palinggih utama berupa babaturan—tumpukan batu sakral yang dijaga ketat oleh masyarakat setempat.
Asal-Usul Babaturan: Jejak Sejarah yang Mengubah Nama Desa
Berdasarkan penuturan panglingsir desa, I Wayan Darya, babaturan ini ditemukan sekitar abad ke-17 atau 18 saat Galiukir masih berupa hutan belantara bernama Alas Ukir.
Kala itu, orang-orang Pasek membuka hutan untuk bercocok tanam dan bermukim.
Dari hasil panen beras padi gogo inilah nama desa berubah dari Alas Ukir menjadi Galih Ukir, sebelum akhirnya disingkat menjadi Galiukir.
Namun, perjalanan desa ini tidak selalu mulus. Wabah penyakit dan serangan hama sempat melanda, memporak-porandakan hasil panen dan menimbulkan penderitaan.
Dalam kondisi genting, para tokoh desa meminta petunjuk Cokorda Tabanan.
Jawaban beliau mengejutkan: "Sucikan babaturan di hulu desa, maka segala masalah akan sirna."
Keajaiban Babaturan: Batu yang Menolak Dipindahkan
Kesakralan babaturan ini semakin teruji saat masyarakat mencoba memindahkannya.
Dengan alasan khawatir terjadi erosi, mereka berencana memindahkan desa beserta pura ke lokasi baru.
Namun, babaturan ini tak bisa digerakkan. Meski telah dipikul beramai-ramai, batu tersebut selalu kembali ke tempat semula di malam hari.
“Mungkin itu tanda bahwa Desa Galiukir tetap aman di tempatnya,” ujar Gede Nyoman Sukarta, Jro Mangku Pura Batur.
Kejadian ini semakin menguatkan keyakinan masyarakat akan kesucian babaturan.
Mimpi Jro Mangku dan Makna Batu Keben
Kesakralan babaturan juga tercermin dalam mimpi Jro Mangku, yang melihat seorang anak kecil menunjukkan perhiasan mewah, simbol kesejahteraan dan kehidupan.
Hal ini selaras dengan sebutan Batu Keben, yang bermakna tempat menyimpan harta berharga.
Tradisi dan Ritual: Harmoni Purusha dan Pradhana
Pura Batur juga memiliki kaitan erat dengan Pura Batur Dayang di desa yang sama. Jika Pura Batur melambangkan purusha (kejantanan), maka Batur Dayang mewakili pradhana (keperempuanan).
Keduanya menjadi tempat utama untuk ritual besar seperti Purnama Kadasa dan Purnama Kapat, di mana hasil panen dipersembahkan sebagai ungkapan syukur.
Kepercayaan yang Mengakar Kuat
Hingga kini, masyarakat percaya bahwa doa di Pura Batur mampu membawa keberkahan, kesembuhan, dan petunjuk.
“Banyak yang mengaku permohonannya terkabul di pura ini. Namun, saya selalu ingatkan, bersyukurlah kepada Tuhan,” pesan Jro Mangku, yang setia menjaga tradisi di usianya yang ke-75 tahun.
Pura Batur Galiukir bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol kehidupan dan keajaiban yang mengakar kuat di hati masyarakat.
Apa rahasia lain yang mungkin tersembunyi di balik babaturan ini? Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan langsung keunikan pura ini, sebuah saksi bisu perjalanan sejarah dan spiritual Desa Galiukir. ***