Kata Ngulapin berasal dari bahasa Bali yaitu kata Ulap yang memiliki dua arti yaitu yang pertama berarti ’silau’ dan yang kedua berarti ’memanggil dengan lambaian tangan’ dan untuk kata Ngulapin dalam tahapan upacara Ngaben merujuk pada arti yang kedua yaitu memanggil dengan tangan,
Dikatakan Dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Wayan Murniti, hal ini disebabkan karena dalam proses ini memang bertujuan memanggil sang Roh yang telah meninggal dengan simbolisasi berupa menjumput tanah sebanyak tiga kali menggunakan daun Dadap.
Kemudian menaruhnya pada sarana upakara bernama Sangga urip yang sesuai namanya berfungsi sebagai penyangga (sangga) jiwa (urip) di pertigaan jalan, rumah, rumah sakit, perempatan jalan atau di kuburan yang menyesuaikan dengan adat setempat.
Tajapan selanjutnya adalah Ngeringkes. Secara harfiah, ngeringkes dapat diartikan sebagai kegiatan membungkus jenazah orang yang meninggal dunia.
Bagi tradisi Hindu Bali, Ngeringkes adalah proses paling kedua dari serangkaian upacara Ngaben.
Baca Juga: Kembali Digelar, Bazar UMKM BRILiaN Bantu Berdayakan dan Perluas Pasar Pelaku Usaha
Untuk tahapan ngeringkes sendiri dapat di bagi menjadi empat tahapan, yaitu Pabersihan idup (proses memandikan jenazah namun dalam keyakinan bahwa jenazah tersebut belumlah meninggal namun hanya tertidur),
Pabhaktian (Tahapan bagi sanak keluarga untuk menghaturkan bhakti atau sembah kepada sosok yang meninggal, hal ini diperbolehkan karena pasca proses pabersihan idup jenazah dinilai belumlah meninggal sehinggan proses bhakti masih boleh dilakukan).
Pabersihan mati (ngelelet) merupakan tahapan yang bertujuan agar semua bagian tubuh jenazah jika nantinya mengalami reinkarnasi akan berwujud lebih baik dari kelahirannya yang sekarang. Ngeringkes atau membungkus jenazah dengan kain putih, tali ketekung, benang tukelan dan tikar lalu diperciki Tirtha Pangringkes.
‘Ngajum Kajang merupakan Proses sakralisasi Kajang sebagai simbolisasi badan jasmani yang baru,” katanya.
Kajang biasanya berbentuk seperti tumpukan beberapa kain yang tersurat banyak aksara suci yaitu aksara Swalalita dan akasara Modre dan mengenai kata-kata serta gambarnya akan menyesuaikan dengan Bhisama atau fatwa dari masingmasing Soroh atau Klan.
Baca Juga: WASPADA! Aksi Keprok Kaca Ancam Keamanan Lalu Lintas di Tabanan, Begini Kronologinya
Singaskara/Ngaskara merupakan Upacara pangaskaran adalah suatu upacara penyucian bagi sang roh (siwatma) orang yang meninggal, agar sang pitara terlepas dari papa klesa yang membelenggunya dan dapat kembali menyatu dengan kawitannya.
Memeras merupakan Makna dari upacara pamerasan adalah sang pitra dengan sah mengangkat (meras) pratisentananya agar secara sah sang pitra (leluhur) memiliki pratisentana atau keturunan
Tahapan selanjutnya adalah Mapepegat. Papegatan berasal dari kata pegat, yang artinya putus, makna upacara ini adalah untuk memutuskan hubungan duniawi dan cinta dari kerabat mendiang, sebab kedua hal tersebut akan menghalangi perjalan sang roh menuju Tuhan. Dengan upacara ini pihak keluarga berarti telah secara ikhlas melepas kepergian mendiang ke tempat yang lebih baik
Pakiriman/Ngutang, Setelah upacara papegatan maka akan dilanjutkan dengan pakiriminan ke kuburan setempat, jenazah beserta kajangnya kemudian dinaikan ke atas Bade/Wadah, yaitu menara pengusung jenazah (hal ini tidak mutlak harus ada, dapat diganti dengan keranda biasa yang disebut Pepaga).
Dari rumah yang bersangkutan anggota masyarakat akan mengusung semua perlengkapan upacara beserta jenazah diiringi oleh suara Baleganjur (gong khas Bali) yang bertalu-talu dan bersemangat, atau suara angklung yang terkesan sedih.
Baca Juga: Truk Terjun ke Jurang di Tegallalang, Tiga Orang Terluka
Di perjalan menuju kuburan jenazah ini akan diarak berputar 3x berlawanan arah jarum jam yang bermakna sebagai simbol mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke tempatnya masing-masing.
Selain itu perputaran ini juga bermakna Berputar 3x di depan rumah mendiang sebagai simbol perpisahan dengan sanak keluarga. Berputar 3x di perempatan dan pertigaan desa sebagai simbol perpisahan dengan lingkungan masyarakat. Berputar 3x di muka kuburan sebagai simbol perpisahan dengan dunia ini.
Tahapan selanjutnya adalah Ngeseng adalah upacara pembakaran jenazah tersebut, jenazah dibaringkan di tempat yang telah disediakan, disertai sesaji dan banten dengan makna filosofis sendiri, kemudian diperciki oleh pendeta yang memimpin upacara dengan Tirta Pangentas yang bertindak sebagai api abstrak diiringi dengan Puja Mantra dari pendeta,
Setelah selesai kemudian barulah jenazah dibakar hingga hangus, tulang-tulang hasil pembakaran kemudian digilas dan dirangkai lagi dalam buah kelapa gading yang telah dikeluarkan airnya.
“Nganyud, bermakna sebagai ritual untuk menghanyutkan segala kekotoran yang masih tertinggal dalam roh mendiang dengan simbolisasi berupa menghanyutkan abu jenazah. Upacara ini biasanya dilaksakan di laut, atau Sungai,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika