BALIEXPRESS.ID - Pura Dalem Pingit di Desa Sebatu, Tegallalang, Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat suci Hindu Bali dari zaman purba yang penuh misteri.
Konon, keberadaannya sudah ada sejak era Mayadenawa, menjadikannya situs yang diselimuti aura magis.
Tidak hanya unik, pura ini juga memiliki sejumlah pantangan yang harus dipatuhi oleh siapa pun yang ingin bersembahyang di sana.
Pantangan yang Harus Dipatuhi
Sebagai tempat suci yang disungsung oleh 490 Kepala Keluarga, Pura Dalem Pingit memiliki aturan adat tak tertulis yang harus dihormati.
Salah satunya adalah larangan memakai alas kaki saat memasuki pura dan pantangan menggunakan perhiasan ketika bersembahyang.
Menurut Bendesa Adat Sebatu, Rio Wirawan, aturan ini diturunkan secara turun-temurun demi menjaga kesucian pura.
“Ini adalah bagian dari keyakinan yang sudah diwariskan sejak dahulu kala. Percaya atau tidak, semua ini dilakukan untuk menjaga kesakralan pura,” ungkap Rio.
Selain itu, aturan ini diyakini mencerminkan kesederhanaan Dewa Siwa dan Dewi Durga, penguasa Pura Dalem Pingit.
Bahkan, peralatan seperti bokor perak dilarang digunakan, digantikan dengan bahan sederhana seperti rotan atau bambu.
Keunikan Arsitektur dan Lokasi yang Terisolasi
Berada di tengah hutan di barat Desa Sebatu, Pura Dalem Pingit terkesan terisolasi dan misterius.
Kontur tanah yang menurun membuat arsitektur pura ini berbeda dari pura lainnya.
Utama Mandala, bagian paling suci, justru berada di dataran paling rendah, sementara Madya Mandala dan Jaba Mandala terletak lebih tinggi.
“Lokasi ini memang sudah seperti ini sejak dulu karena kontur perbukitan. Renovasi hanya dilakukan pada bagian yang rusak, tanpa mengubah struktur aslinya,” jelas Rio.
Pantangan dalam Bebantenan
Uniknya, aturan di Pura Dalem Pingit juga melarang penggunaan minyak dalam persembahan.
Semua jajan atau makanan harus direbus atau dikukus, seperti bolu, tanpa menggunakan metode menggoreng.
Bahkan, ayam yang dipersembahkan pun hanya boleh dibakar, tanpa tambahan minyak.
Tradisi Unik Tanpa Sulinggih dan Tetabuhan
Keunikan lain terletak pada prosesi upacara. Tidak seperti pura lainnya, Pura Dalem Pingit tidak menggunakan sulinggih atau rsi untuk memimpin upacara.
Pemangku pura menjadi tokoh utama dalam pelaksanaannya.
Selain itu, tetabuhan seperti gong, genta, atau bajra tidak diperkenankan, menjadikan suasana upacara penuh dengan keheningan yang khusyuk.
“Di sini, segala hal yang berhubungan dengan tembaga juga dilarang masuk ke pura. Itu sebabnya suasana begitu hening saat upacara berlangsung,” tambah Rio.
Pantangan untuk Masyarakat yang Belum Melaksanakan Upacara Perebuan
Menariknya, tidak semua orang, bahkan warga asli Desa Sebatu, diperbolehkan memasuki pelataran Pura Dalem Pingit.
Hanya mereka yang telah melaksanakan Upacara Perebuan—upacara kedewasaan—yang diizinkan untuk sembahyang di dalam.
“Bagi yang belum melaksanakan upacara ini, mereka hanya diperbolehkan sembahyang dari luar area pura,” ujar Rio.
Piodalan dan Tradisi Usaba Dalem
Piodalan di Pura Dalem Pingit dirayakan setiap Tilem Sasih Karo, berlangsung selama 12 hari dan berurutan dengan Upacara Walin Carik.
Tradisi ini melibatkan rangkaian prosesi unik, seperti Nyacin Galungan dan Nuncep Memedi, yang menambah daya tarik pura ini.
Keunikan dan kesakralan Pura Dalem Pingit Sebatu menjadikannya bukan hanya tempat suci, tetapi juga destinasi spiritual yang penuh daya tarik dan misteri.
Siapa pun yang datang ke sini pasti akan terpesona oleh keheningan dan kearifan lokal yang mengelilinginya.
11 Fakta Unik Pura Dalem Pingit Sebatu yang Menarik dan Penuh Misteri
-
Pura Purba dari Zaman Mayadenawa
Konon, Pura Dalem Pingit sudah ada sejak era Mayadenawa, menjadikannya salah satu pura purba yang menyimpan jejak sejarah panjang. -
Pantangan Menggunakan Alas Kaki dan Perhiasan
Tidak seperti pura lainnya, di sini pengunjung dilarang menggunakan alas kaki dan perhiasan saat memasuki area suci. Larangan ini dimaksudkan untuk menjaga kesederhanaan dan kesucian tempat. -
Lokasi yang Terisolasi dan Magis
Terletak di tengah hutan barat Desa Sebatu, pura ini jauh dari pemukiman warga. Minimnya penerangan dan keberadaan setra (kuburan) di sebelah tenggara membuat suasana pura terasa mistis dan tenget. -
Utama Mandala di Dataran Paling Rendah
Berbeda dari pura lainnya, struktur utama Pura Dalem Pingit berada di dataran paling rendah, mengikuti kontur tanah perbukitan Desa Sebatu. -
Larangan Menggunakan Perak
Segala benda berbahan perak, termasuk bokor, tidak diperbolehkan digunakan dalam persembahan di pura ini. Sebagai gantinya, warga menggunakan bahan seperti rotan atau bambu. -
Pantangan Menggunakan Minyak dalam Persembahan
Semua makanan dalam bebantenan harus direbus atau dikukus. Jajanan goreng atau makanan berminyak tidak diperkenankan, termasuk ayam yang hanya boleh dibakar. -
Tanpa Sulinggih atau Tetabuhan
Upacara di Pura Dalem Pingit tidak menggunakan sulinggih atau rsi sebagai pemimpin. Bahkan, alat musik seperti gong, genta, atau bajra tidak digunakan, menciptakan suasana upacara yang hening dan khidmat. -
Hanya untuk Warga yang Telah Melaksanakan Upacara Perebuan
Tidak semua warga Desa Sebatu boleh memasuki area pelataran pura. Hanya mereka yang sudah menek kelih (dewasa) dan melaksanakan Upacara Perebuan yang diizinkan sembahyang di dalam. -
Tradisi Usaba Dalem yang Unik
Piodalan pura ini berlangsung setiap Tilem Sasih Karo selama 12 hari. Rangkaian tradisi, seperti Nyacin Galungan dan Nuncep Memedi, menjadi daya tarik tersendiri. -
Bale Pingit sebagai Tempat Pasucian
Tidak seperti pura lain yang mengarak pratima ke laut untuk Melasti, di sini pratima disucikan langsung di Bale Pingit menggunakan tirta dari Beji Pura Dalem Pingit. -
Peringatan Kesederhanaan dari Dewa Siwa dan Dewi Durga
Aturan unik di Pura Dalem Pingit dipercaya mencerminkan kesederhanaan Dewa Siwa dan Dewi Durga sebagai pertapa, sekaligus mengingatkan umat untuk hidup sederhana.
Pura Dalem Pingit Sebatu tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga destinasi spiritual yang penuh kearifan lokal dan nilai sejarah.
Fakta-fakta unik ini menjadikannya salah satu pura yang patut dikunjungi di Bali! ***
Editor : I Putu Suyatra