Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Hutan Tenganan jadi Sumber Tanaman Pewarna Kain Geringsing Sumber Pemasok Kemiri, Jadi Pewarna Alami  

I Putu Mardika • Kamis, 21 November 2024 | 05:47 WIB

 

Proses mewarnai kain Tenun Geringsing
Proses mewarnai kain Tenun Geringsing
BALIEXPRESS.ID-Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem terkenal dengan hasil kerajinan tenun kain gringsing. Kain gringsing adalah satu-satunya kain tenun di Bali bahkan di Indonesia yang cukup unik karena menggunakan teknik dobel ikat.

Waktu penyelesainnya pun cukup lama, bisa memerlukan waktu dua hingga lima tahun.

Masyarakat Desa Adat Tenganan semuanya memiliki kain tenun tradisional ini karena dipakai dalam aktivitas upacara keagamaan.

Kain tenun gringsing ini merupakan hasil produksi perumahan yang bernilai tinggi.

Perbekel Desa Tenganan Pegringsingan, Ketut Sudiastika mengatakan, proses pewarnaan tenun Geringsing bersumber dari tumbuhan yang diambil dari hutan di Desa Adat Tenganan Pegringsingan.

Khusus untuk pewarna merah diambil dari kulit kayu kepundung dan sunti (mengkudu). Sedangkan untuk pewarna kuning diambil dari minyak tingkih (kemiri) sedangkan pewarna biru atau hitam diambil dari daun taum.

Baca Juga: Inilah Daftar Tempat Wisata Yogyakarta yang Paling Banyak Menarik Wisatawan

Di hutan Desa Adat Tenganan Pegringsingan terdapat jenis-jenis tumbuhan penghasil pewrana tekstil atau tenun gringsing yang terdiri atas buah tingkih, kulit kayu kepundung, kulit kayu sunti dan daun taum.

Pohon tingkih banyak tumbuh di hutan Desa Adat Tenganan Pegringsingan. Buah tingkih tersebut dipungut oleh warga masyarakat di dalam hutan.

Buah tingkih ini diproduksi atau diolah diambil minyaknya, sebagai bahan pewarna kuning.

Buah tingkih melebihi kebutuhan bahan pewarna tekstil, oleh karena itu buah tingkih itu bisa digunakan untuk bahan upakara yadnya, untuk bumbu, dan selebihnya dijual untuk menambah penghasilan warga desa

Ia menyebut, jenis-jenis tanaman penghasil warna tekstil itu tidak dapat diambil secara maksimal di hutan desa setempat. Karena selain jumlahnya tidak memadai juga tingkat kualitas warna juga kurang bagus.

Baca Juga: VIRAL Pria Bunuh Anjing Bernama Badai di Kuta Utara, Pemilik Lapor Polisi, Aktivis Hewan Kecam Pelaku

Sudiastika menyebut, pewarna tekstil atau kain tenun gringsing memang diperoleh dari hutan di Desa Adat Tenganan Pegringsingan. Sedangkan untuk minyak tingkih (kemiri) memang di di hutan Tenganan pusatnya.

“Tetapi kalau taum biasanya tumbuh di daerah-daerah kering sepeti Bukit Gumang Desa Bugbug, ini yang dipakai karena tumbuhan di tempat lahan kering konsentrasi airnya relatif lebih sedikit sehingga warnanya lebih pekat,” imbuhnya.

Sedangkan untuk sunti (mengkudu) diambil dari Nusa Penida Klungkung. Di Nusa Penida sunti itu tumbuh di batu kapur

Bahan pewarna tekstil khususnya kain tenun gringsing yang diambil dari hutan desa yaitu buah kemiri, dari buah ini diambil minyaknya sebagai pewarna kuning. Kemiri di hutan desa adat ini sangat banyak jumlahnya dan kualitasnya sangat bagus.

Sedangkan, bahan pewarna merah seperti yang diambil dari kulit kayu kepundung dan sunti (mengkudu) walaupun cukup banyak ada tetapi kualitas warnanya kurang bagus. Demikian pula bahan pewarna biru diambil dari daun taum yang tumbuh di perbukitan Desa Bugbug.

Bahan kain gringsing di Desa Adat Tenganan Pegringsingan umumnya berasal dari hasil alam di desa setempat. Akan tetapi sekarang ini bahan-bahan tersebut sudah terbatas keadaannya, maka diambil dari luar desa.

Untuk motif warna kain gringsing adalah terdiri atas tiga warna, yakni  kulit pohon kepundung (baccaurea racemosa) dicampur dengan kulit akar mengkudu (morinda citrifolia) untuk pewarna merah.

Kemudian minyak buah kemiri dicampur dengan air abu kayu untuk pewarna kuning, dan daun taum untuk pewarna hitam atau biru.

Baca Juga: Pantau Gudang Bulog, TPID Denpasar Pastikan Stok Beras Aman Jelang Natal dan Tahun Baru 2025

Proses pewarnaan kain tenun gringsing sangat rumit dan memerlukan waktu yang sangat lama yaitu lebih dari satu tahun, melalui tiga kali proses pewarnaan.

“Oleh karena itu, waktu yang dibutuhkan untuk membuat sehelai kain gringsing sekitar tiga tahun, tergantung lebar kain gringsing tersebut,” ungkapnya.

Untuk proses pengerjaan kain tenun gringsing adalah dengan keterampilan tangan. Benang yang digunakan dipintal menggunakan alat pintal tradisional dengan bahan kapas.

Setelah usai dipintal, benang direndam selama lebih satu setengah bulan bahkan bisa hingga satu tahun memakai minyak kemiri. Minyaknya diganti setiap kurang lebih satu bulan. Semakin lama benang direndam maka semakin lembut dan kuat struktur benangnya.

Setelah selesai proses perendamannya, maka proses selanjutnya adalah pemintalan dengan teknik dobel ikat. “Maksudnya, proses penataan benang, pengikatan, dan pewarnaan dilakukan pada sisi panjang dan lebar,” paparnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Manggis #hutan #mengkudu #Tenganan #kemiri #karangasem