BALIEXPRESS.ID- Bagi peternak babi, mengembangbiakkan hewan ternak sering kali menjadi bisnis yang menjanjikan.
Namun, di Desa Adat Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, terdapat keyakinan unik.
Tidak ada satu pun warga Desa Besakih yang berani memelihara indukan babi betina (bangkung) untuk dikembangbiakkan.
Mitos setempat menyebutkan bahwa siapa pun yang mencoba memelihara indukan babi betina akan mengalami kesialan.
Salah satu pihak akan kalah, entah peternaknya yang dirundung nasib buruk, atau babinya yang tidak dapat berkembang biak.
Bendesa Adat Besakih Jero Mangku Widiartha mengungkapkan bahwa larangan ini tidak diatur dalam perarem atau awig-awig desa adat.
Meski demikian, keyakinan tersebut telah menjadi kepercayaan turun-temurun yang dipegang erat oleh masyarakat.
“Kalau berani memuuk, bangkung (indukan babi) tersebut akan kalah sepihak. Yang memelihara bisa sengsara, atau kadang-kadang babi yang kita pelihara tidak berhasil. Itu tidak diatur di perarem tetapi menjadi berita turun temurun, karena juman jebag istilahnya,” ujarnya, pada Jumat (22/11/2024).
Tradisi ini diyakini telah ada sejak zaman dahulu. Generasi demi generasi terus mematuhi keyakinan tersebut karena dianggap sudah terbukti.
“Seingat saya, tidak ada krama saya memelihara bangkung. Itu karena cerita orang tua,” lanjut Widiartha yang baru saja terpilih kembali sebagai Bendesa Adat Besakih.
Namun, Widiartha menegaskan bahwa penggemukan babi di Desa Besakih tidak berbahaya dan justru banyak dilakukan.
“Kalau penggemukan luar biasa, banyak disini,” pungkasnya. (*)
Editor : I Made Mertawan