Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rahasia di Balik Tradisi Banten Kopi dan Ajengan bagi Umat Hindu Bali: Untuk Siapa Persembahan Ini?

I Putu Suyatra • Minggu, 24 November 2024 | 18:01 WIB
Banten Pawedangan
Banten Pawedangan

BALIEXPRESS.ID - Pernahkah Anda memperhatikan tradisi umat Hindu di Bali yang setiap hari menghaturkan banten kopi atau ajengan di Bale Delod atau Sanggah?

Kebiasaan ini dilakukan tak hanya pada hari-hari tertentu, tetapi hampir setiap hari. Namun, pertanyaannya, untuk apa dan kepada siapa persembahan ini ditujukan?

Nitya Karma: Tradisi Yadnya Sehari-Hari

Kebiasaan menghaturkan banten kopi atau ajengan merupakan bagian dari Nitya Karma, yang juga dikenal sebagai Nitya Yadnya.

Menurut Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Yaska Charya Manuaba, Nitya Karma adalah bentuk yadnya yang dilakukan sehari-hari dengan sederhana.

Salah satu contohnya adalah banten Pawedangan berupa kopi, roti, atau sajian lainnya yang dihaturkan di berbagai tempat suci seperti Sanggah Kemulan, Rong Telu, Panunggun Karang, dapur, dan sumur.

"Nitya berarti sehari-hari, dan yadnya berasal dari kata ‘yaj’ yang artinya memuja. Jadi, Nitya Yadnya adalah pengorbanan tulus yang dilakukan setiap hari untuk menghubungkan Atman dengan Sang Pencipta," jelas Ida Pandita.

Makna dan Tujuan Banten Pawedangan

Banten Pawedangan memiliki makna mendalam sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan.

Dalam kitab Manawa Dharmasastra, disebutkan bahwa tempat-tempat seperti dapur (stana Dewa Brahma), sumur (simbol Dewa Wisnu), dan Panunggun Karang merupakan lokasi penting untuk pelaksanaan yadnya ini.

Banten Pawedangan di Rong Telu, misalnya, biasanya berisi kopi, air, roti, dan nasi saur.

Sementara itu, di Panunggun Karang, persembahan ditambah dengan rokok. Tradisi ini juga selaras dengan ajaran Bhagavad Gita III.12-13, yang menekankan pentingnya yadnya sebagai bentuk kewajiban manusia.

“Mereka yang tidak melaksanakan yadnya sesungguhnya adalah pencuri, dan mereka yang hanya memasak untuk diri sendiri sejatinya berdosa,” kutip Ida Pandita.

Apakah Banten Pawedangan untuk Leluhur?

Terkait kepercayaan bahwa banten Pawedangan ditujukan kepada leluhur, Ida Pandita menjelaskan hal ini bersifat fleksibel, tergantung pada kepercayaan personal dan desa kala patra masing-masing.

Namun, secara umum, banten Pawedangan adalah simbol rasa syukur kepada Tuhan. 

"Sama seperti banten Saiban, banten Pawedangan adalah bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta, meski bentuk dan cara pelaksanaannya berbeda," ungkapnya.

Mengembalikan Esensi Yadnya yang Sederhana

Ida Pandita menyoroti fenomena masyarakat yang kini lebih berorientasi pada yadnya yang megah dan mahal.

Padahal, esensi yadnya sederhana seperti banten Pawedangan, Saiban, atau Ajengan justru lebih mendalam dan bermakna. 

“Kita sering terjebak gengsi, ingin terlihat wah dengan banten yang mewah, padahal inti dari yadnya adalah kesucian hati dan ketulusan," ujarnya.

Tradisi Nitya Yadnya ini mengajarkan bahwa yadnya tak harus mahal atau berlebihan.

Kesederhanaan dalam menjalankan yadnya sejatinya adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada Sang Pencipta.

Mengapa tradisi sederhana seperti ini justru sangat penting bagi keseharian umat Hindu?

Apa lagi nilai-nilai mendalam yang terkandung di dalamnya? Temukan jawabannya di pembahasan berikutnya! ***

Editor : I Putu Suyatra
#bali #kopi #Pawedangan #hindu