BALIEXPRESS.ID - Di sudut timur Pasar Kreneng, Denpasar, Bali, terdapat sebuah pura yang penuh makna dan cerita mistis—Pura Melanting.
Pura ini tidak hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga dikenal sebagai kediaman Bhatara Melanting, yang dipercaya sebagai Dewi Uang atau Dewi Rejeki.
Mungkin belum banyak yang tahu, tetapi Pura Melanting memiliki kekuatan magis yang erat kaitannya dengan transaksi keuangan dan keberkahan bagi para pedagang.
Mengapa Pura Melanting Dibangun di Pasar?
Pura ini dibangun di pasar karena pasar dianggap sebagai tempat yang memiliki aktivitas transaksi paling tinggi, tempat di mana uang dan rejeki dapat diperoleh oleh siapa saja.
Bhatara Melanting, yang juga dikenal sebagai Bhatara Rambut Sedana, dipuja sebagai penguasa rejeki dan kekayaan, menjadikannya sangat cocok untuk distanakan di pasar.
"Pasar adalah tempat bertransaksi uang, jadi tidak mengherankan jika Dewi Melanting tinggal di sini," ujar Mangku Wayan Darni, Pemangku Pura Melanting Pasar Kreneng.
Asal Usul Nama "Melanting" dan Kisah Legendaris Dewi Melanting
Nama "Melanting" berasal dari dua kata, yaitu "Mel" yang berarti perhiasan, dan "Anting" yang berarti batu.
Secara simbolis, ini menggambarkan perhiasan yang terbuat dari batu, dengan makna bahwa Pura Melanting adalah tempat persembahan untuk Dewi Melanting, yang terkait dengan kekayaan dan hasil bumi.
Namun, kisah yang lebih menarik berasal dari legenda Dewi Melanting, yang dikaitkan dengan perjalanan Dang Hyang Nirarta, seorang pendeta sakti yang tiba di Bali pada abad ke-16.
Dalam perjalanan menuju Bali, istri Dang Hyang Nirarta, Dang Hyang Biyang Ketut, yang sedang hamil tua, meminta izin untuk beristirahat karena kelelahan.
Dalam momen ini, Dewi Melanting, yang bernama asli Ida Dyah Ayu Swabawa, ditugaskan untuk menjaga ibunya.
Dewi Melanting: Cerdas dalam Berniaga
Dewi Melanting dikenal sangat cerdas dalam berniaga dan membantu masyarakat sekitar. Keahliannya mengajarkan cara berjualan dengan baik dan jujur menjadikannya dihormati dan disayangi oleh banyak orang.
"Ia sangat mahir berniaga, mengajarkan cara menawarkan barang dengan baik. Kecerdasannya membuat semua orang mencintainya," tambah Jero Kamboja, pemangku yang lebih akrab dipanggil Jero Kamboja.
Namun, perjalanan hidup Dewi Melanting tidak selalu mulus.
Setelah bertahun-tahun menunggu ayahnya yang belum kembali, kecemasan pun merundung.
Dalam keadaan cemas, Dewi Melanting meminta agar dirinya dan keluarganya diberi umur panjang dan hidup abadi, dengan harapan mereka tidak akan meninggal sebelum ayahnya kembali.
Keinginan tersebut terkabulkan, namun dengan konsekuensi bahwa mereka akan hidup sebagai "wong samar" atau orang yang tak terlihat oleh orang lain.
Peringatan Dewi Melanting bagi Pedagang
Di Pura Melanting, para pedagang sering datang untuk memohon keselamatan, rejeki, dan ketentraman lahir batin.
Namun, ada satu ajaran penting yang harus diingat oleh setiap pedagang yang datang ke pura ini: jangan berbuat curang.
"Pedagang yang curang, seperti menggunakan timbangan yang dimodifikasi atau menjual barang tidak layak, tidak akan pernah mendapatkan keuntungan yang berkah," ungkap Jero Kamboja.
Ada cerita dari beberapa pedagang yang pernah datang dengan harapan dagangannya laris, namun akibat cara curang yang digunakan, mereka justru merugi.
Timbangan yang diberi magnet atau barang yang dijual tidak sesuai dengan yang dijanjikan, membuat keuntungan mereka hilang begitu saja.
"Keuntungan itu bisa diambil oleh Dewi Melanting sebagai konsekuensi dari ketidakjujuran," tambahnya.
Harapan untuk Pura Melanting
Jero Kamboja juga berharap agar pemerintah semakin memperhatikan keberadaan pura-pura kecil di Bali, termasuk Pura Melanting.
"Pura-pura seperti ini memiliki nilai spiritual dan budaya yang sangat penting bagi masyarakat Bali," ujar Jero Kamboja.
Pura Melanting, sebagai tempat suci yang menghormati Dewi Melanting, bukan hanya sebuah situs keagamaan, tetapi juga simbol keberkahan dan rejeki yang dapat diperoleh melalui kejujuran dan kerja keras.
Sebuah tempat yang mengingatkan kita untuk selalu menjaga integritas dalam berbisnis dan hidup dengan penuh berkah. ***
Editor : I Putu Suyatra