BALIEXPRESS.ID - Dalam budaya Hindu di Bali, Tirta memiliki peran sakral dan tidak pernah absen dalam berbagai upacara keagamaan. Namun, bagaimana sebenarnya proses pembuatannya, dan siapa yang berhak membuat Tirta?
Rektor UHN Sugriwa Denpasar, Prof. I Gusti Ngurah Sudiana, menjelaskan bahwa Tirta bukan sekadar air biasa.
Tirta melalui proses spiritual yang menjadikannya sakral dan memiliki fungsi pembersihan diri secara lahir maupun batin.
"Secara etimologi, Tirta berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti air suci. Tirta dibuat melalui mantra dan doa yang mengubahnya dari air biasa menjadi sarana spiritual," ujar Sudiana kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Dua Klasifikasi Air dalam Hindu
Dalam ajaran Hindu, air dibedakan menjadi dua jenis: air untuk pembersihan fisik dan Tirta yang digunakan sebagai sarana spiritual setelah melewati proses khusus.
Sudiana menambahkan, "Dalam upacara manusia yadnya, Tirta berperan sebagai pembuka dan penutup. Upacara dimulai dengan Tirta Panglukatan dan diakhiri dengan Tirta Wangsuhpada."
Siapa yang Berhak Membuat Tirta?
Pembuatan Tirta tidak boleh dilakukan sembarangan. Hanya sulinggih atau nak lingsir yang dapat membuatnya melalui ritual khusus.
"Kita yang belum madwijati tidak boleh membuat Tirta. Namun, kita boleh memohon Tirta saat melaksanakan upacara keagamaan," jelas Sudiana.
Makna Filosofis Tirta dalam Lontar Kusuma Dewa
Menurut Lontar Kusuma Dewa Gong Wesi, semua sesaji akan kehilangan makna tanpa Tirta yang dibuat oleh pendeta utama.
“Perhatikan saja, di setiap Merajan atau Sanggah pasti ada Tirta dari griya. Tirta ini biasanya dicampur dengan Tirta lain untuk digunakan dalam persembahyangan,” ujarnya.
Beragam Jenis Tirta dan Fungsinya
Tirta memiliki berbagai jenis, seperti Tirta Panglukatan, Tirta Wangsuhpada, hingga Tirta Pangentas, yang semuanya memiliki fungsi masing-masing.
"Misalnya, Tirta Pembersih digunakan untuk menyucikan sesaji sebelum dipersembahkan. Tanpa itu, sesaji hanya dianggap sebagai rangkaian bunga dan daun biasa," ungkap Sudiana.
Tata Cara Memohon Tirta yang Benar
Meski siapa saja boleh memohon Tirta, ada aturan yang harus diikuti. Pemohon harus dalam keadaan suci lahir dan batin, berpakaian sopan, serta membawa wadah khusus untuk air suci.
Dengan dupa yang menyala, pemohon mengucapkan mantra dan berdoa dengan tulus. Salah satu mantra yang digunakan adalah:
Om Anantasanaya Namah
Om Gangga Saraswati Sindhu
Om Gangga Mahadewi Namo’stute
Sudiana menegaskan, Tirta bukan sekadar air, melainkan simbol keberkahan dan kesucian.
“Ketika memohon Tirta, lakukan dengan hati yang bersih dan doa yang tulus agar manfaatnya terasa secara lahir dan batin,” tutupnya. ***
Editor : I Putu Suyatra