BALIEXPRESS.ID - Dalam tradisi Hindu Bali, upacara kematian bayi yang belum meketus gigi memiliki keistimewaan tersendiri.
Bayi yang meninggal pada usia tertentu dianggap sangat suci, sehingga upacara Pitra Yadnya yang dilakukan berbeda dari prosesi untuk orang dewasa.
Salah satu ritual unik yang dilakukan adalah Ngelungah, yang penuh dengan makna spiritual dan aturan sakral.
Bayi Suci dan Kerentanan yang Menyertainya
Menurut Lontar Yama Purana Tatwa, bayi yang belum ketus gigi memiliki kesucian yang tinggi.
Jro Mangku Dharma Wisesa, anggota Paguyuban Widya Swara, menjelaskan bahwa jenazah bayi yang belum meketus giginya harus segera dikuburkan, berbeda dengan orang dewasa yang jenazahnya dapat diinapkan di rumah duka.
“Bayi yang belum ketus gigi sangat rentan dimanfaatkan oleh oknum tertentu. Oleh karena itu, upacara khusus seperti Ngelungah dilakukan untuk menjaga kesucian dan menghantarkan atman bayi ke alam suargan,” ungkapnya.
Tahapan Ritual Berdasarkan Usia Bayi
Ada beberapa aturan dalam upacara Pitra Yadnya untuk bayi, tergantung pada usianya:
- Kurang dari 42 hari: Dilakukan upacara Nyapuh Gumukan.
- Lebih dari 42 hari dan belum meketus gigi: Dilakukan upacara Ngelungah.
- Sudah meketus gigi: Bayi baru bisa diaben jika telah melalui prosesi upacara 3 bulanan, tanda atman sudah menyatu dengan ragha sarira.
Pada upacara Ngelungah, terdapat tahapan penting seperti Ngencuk Don Bingin, yang serupa dengan prosesi Ngerorasin pada orang dewasa.
Prasarana dan Lokasi Pelaksanaan
Prosesi Ngelungah umumnya dilaksanakan di pantai (segara), dengan prasarana sederhana seperti:
- Kasturi merajah dasa bayu
- Nyuh bungkak (kelapa muda) yang dirajah
- Dukut padang dan Don Bingin
Sebelum ritual dimulai, keluarga wajib matur piuning di Pura Dalem dan Pura Prajapati, serta menghaturkan banten di gumuk tempat bayi dikuburkan.
Banten tersebut terdiri dari berbagai persembahan seperti pejati, peras, daksina, hingga segehan dengan tetabuhan khas.
Makna Spiritual Ngelungah
Usai prosesi di gumuk, atman bayi di-ayengkan sementara di bale dangin, sebelum keesokan harinya dibawa ke segara untuk melaksanakan ritual utama.
Prosesi ini dipimpin oleh Ida Nak Lingsir, yang bertugas sebagai pemuput upacara.
“Ngelungah bertujuan untuk menghantarkan atman sang bayi kembali ke alam suargan, dengan prosesi yang hampir serupa dengan Ngerorasin pada orang dewasa,” jelas Jro Mangku Dharma Wisesa.
Keistimewaan dalam Kesederhanaan
Ritual Ngelungah menunjukkan keindahan tradisi Hindu Bali dalam menghormati kesucian atman bayi.
Meskipun sederhana, setiap tahapannya mengandung nilai spiritual mendalam, menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Hyang Widhi.
Bagaimana tradisi unik ini terus dijaga? Apakah Anda pernah menyaksikan prosesi Ngelungah secara langsung? ***
Editor : I Putu Suyatra