BALIEXPRESS.ID - Tempat suci Hindu Bali, Pura Agung Manik Batu di kawasan Subak Kerdung, Pemogan, Denpasar, menyimpan kisah unik sekaligus mistis yang melibatkan seekor sapi putih yang kini dianggap sebagai duwe pura atau hewan suci.
Perjalanan sapi ini penuh liku dan mengundang banyak tanya, termasuk momen dramatis ketika sapi tersebut sempat dijual untuk dijadikan hewan kurban tetapi tiba-tiba dikembalikan oleh pembelinya.
Jero Mangku Istri Ni Nyoman Rapen, pengempon pura, mengisahkan bahwa sapi putih ini awalnya adalah milik salah satu anggota Subak Kerdung.
Menjelang Hari Raya Idul Adha, sapi tersebut dijual kepada seorang warga Muslim di desa tersebut untuk disembelih.
Namun, saat akan disembelih, pembeli yang disebut sebagai Pak Haji itu merasa tidak berani melanjutkan niatnya.
"Ketika akan disembelih, tiba-tiba Pak Haji merasa takut dan memutuskan untuk mengembalikan sapi tersebut kepada pemiliknya," ujar Jero Mangku Rapen kepada Bali Express.
Misteri Terungkap Melalui Balian
Setelah sapi dikembalikan, pemiliknya memutuskan bertanya kepada seorang balian (orang pintar) mengenai keberadaan sapi yang telah dipeliharanya selama bertahun-tahun.
Dari hasil konsultasi tersebut, diketahui bahwa sapi tersebut bukan sapi biasa. Sapi putih itu diyakini sebagai hewan yang akan ngayah (mengabdi) di Pura Agung Manik Batu.
Setelah mendapat penjelasan itu, pemilik sapi segera menghaturkan hewan tersebut ke pura untuk disucikan.
"Sekitar seminggu setelah dihaturkan, kami mengadakan upacara penyucian dengan banten agar sapi ini dapat digunakan untuk keperluan ritual," tambah Jero Mangku Rapen.
Sapi ini kemudian dimanfaatkan untuk berbagai upacara penting, seperti Murwa Daksina dan Ngasti setelah prosesi ngaben.
Kini, sapi tersebut memiliki kandang khusus yang terletak di sebelah timur Pura Agung Manik Batu. Perawatan sehari-harinya dilakukan oleh para krama subak dan pangayah yang bergiliran.
Sapi yang "Tidak Laku Dijual"
Pekaseh Subak Kerdung, I Wayan Tama, juga menceritakan pengalaman unik lainnya terkait sapi ini. Sebelum dihaturkan ke pura, sapi tersebut sempat dijual dengan harga murah.
Namun, tidak ada satu pun orang yang berani menawarnya.
"Mungkin karena dilihat berbeda dari sapi biasa, sehingga tidak ada yang mau membelinya," ungkap Tama.
Kisah menjadi semakin menarik ketika pemilik sapi dilaporkan sempat mengalami karauhan (trance).
Dalam kondisi itu, pemiliknya menyampaikan pesan bahwa sapi putih tersebut adalah duwe pura yang "luntang-lantung" di Subak Kerdung dan harus segera dihaturkan ke Pura Agung Manik Batu.
"Karena pesan itu, pemiliknya langsung membawa sapi ke pura untuk dijadikan duwe pura," tambah Tama.
Kini Jadi Bagian Ritual Suci
Hingga saat ini, sapi putih tersebut kerap digunakan dalam berbagai upacara di Denpasar, terutama yadnya seperti Murwa Daksina dan Ngasti.
Kehadirannya tidak hanya dianggap sakral, tetapi juga menjadi simbol pengabdian spiritual di Pura Agung Manik Batu.
Kisah sapi putih ini menjadi bukti bagaimana tradisi, kepercayaan, dan kisah mistis masih hidup di tengah masyarakat Bali, khususnya dalam menjaga harmoni dengan alam dan keyakinan leluhur. ***
Editor : I Putu Suyatra