Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Ngelawar Intaran di Desa Suwug, Gunakan Intaran sebagai Pengganti Daging, dilaksanakan sejak Tahun 1600 an

I Putu Mardika • Jumat, 13 Desember 2024 | 04:58 WIB

Lawar Intaran di Desa Suwug yang dijadikan sebagai simbol desa petangdasa
Lawar Intaran di Desa Suwug yang dijadikan sebagai simbol desa petangdasa
BALIEXPRESS.ID-Ngelawar Intaran menjadi ritual rutin yang diselenggarakan krama Desa Adat Suwug, Kecamatan Sawan, Buleleng. Tradisi yang menggunakan bahan daun intaran (nimba) ini menjadi simbol desa petangdasa yang diyakini menjadi pendiri Desa Suwug.

Tidak ada sejarah tertulis sejak kapan tradisi ini dilaksanakan. Namun, krama Suwug meyakini jika tradisi ngelawar intaran sudah dijalankan dari generasi ke generasi secara turun temurun.

Krama Suwug meyakini jika tradisi ini berkaitan erat dengan sejarah adanya Desa Suwug. Bahkan diperkirakan dilaksanakan pada tahun 1600 an sejalan dengan masa pemerintahan Raja Dalem Agung Maruti yang bergelar menjadi raja pada saat itu.

Pada masa pemerintahannya terjadi peperangan yang yang menyebabkan Ki Intaran dihukum oleh Ki Anglurah Beraban, sehingga pasukan sebanyak 40 orang diutus untuk mencincang tubuh Ki Intaran seperti lawar di bawah pohon besar.

Dari sinilah dilaksanakannya tradisi ngelawar intaran dan menjadi sebuah kewajiban yang harus dijalankan oleh masyarakat Desa Suwug yang menjadi manggala petang dasa dan selalu dijalankan setiap rahina purnama di Pura Desa Suwug.

Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Maut Nyalip Truk dari Kiri: Ibu Tewas Terlindas Truk Setelah Motor Terjatuh Disaksikan Sang Suami

Kelian Desa Adat Suwug, Wayan Mudita, tradisi ngelawar intaran juga tidak terlepas dari proses terbentuknya Pura Desa Suwug atau yang disebut juga Pura Bale Agung.

“Tradisi ngelawar intaran ini dilaksanakan oleh seluruh masyarakat Desa Suwug, namun tidak bersamaan melainkan orang-orangnya ditunjuk secara bergantian berdasarkan awig-awig. Desa Suwug berdasarkan awig-awig yang telah ditetapkan memiliki 4 banjar dalam satu desa dinas yang terdiri dari Banjar Kajanan, Banjar Sabi, Banjar Kelodan dan Banjar Lebah,” katanya.

Giliran untuk mendapat tugas menjadi manggala petang dasa yaitu sebanyak 40 orang ini dimulai dari Banjar Kajanan begitupun seterusnya hingga sampai ke Banjar Kelodan. Pertimbangannya, agar seluruh masyarakat dapat mengikuti proses pelaksanaan tradisi ngelawar intaran ini.

Tradisi ngelawar intaran dilaksanakan setengah hari pada rahina purnama dimulai dari pukul 6 (enam) pagi sampai dengan selesai. Lokasi yang digunakan dalam pelaksanaan tradisi ngelawar intaran yaitu di Pura Desa karena terkait dengan sejarah desa dan hanya di Pura Desa terdapat bale panjang yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan tradisi ini

Sarana upacara yang digunakan pada pelaksanaan tradisi ngelawar intaran pada setiap rahina purnama di Pura Desa Suwug yaitu hanya menggunakan banten berupa canang meraka saja dan disediakan cane oleh istri manggala petang dasa.

Namun ada banten lengkap yang digunakan pada saat dimana manggala petang dasa ini akan digantikan dengan yang baru. Banten yang digunakan berupa banten pawintenan saraswati. Selain itu, ada beberapa sarana lain yang digunakan oleh manggala petang dasa di hari pelaksanaan tradisi ngelawar intaran seperti, bunga pucuk merah, saput poleng dan keris.

Canang Meraka dan Cane Banten yang digunakan pada pelaksanaan tradisi ngelawar intaran menggunakan banten berupa canang meraka.

Baca Juga: Catatan Rekor Kiper Bali United, Adilson Maringa setelah Kekalahan ke-4 Berturut-turut!

Canang meraka disajikan menggunakan bokor berisi pisang, buah-buahan, jajanan Bali berupa jaje apem, jaje uli, dan berisi sebuah sampian yang dibuat dari bahan janur berbentuk kojong diisi pelawa, porosan serta bunga.

Sedangkan sarana berupa cane menjadi sarana yang digunakan untuk memohon agar pertemuan yang dilakukan berjalan dengan lancar. Selain itu juga untuk mendapatkan hasil yang diharapkan serta segala keputusan yang sudah diambil dapat ditaati dengan penuh kesadaran.

“Oleh karena itu, kedua sarana ini digunakan pada pelaksanaan tradisi ngelawar intaran yang digunakan setiap purnama,” paparnya.

Ada juga penggunaann Banten Pawintenan Saraswati pada hari khusus, tepatnya saat pergantian manggala petang dasa ke giliran yang baru, maka yang akan mendapat giliran sebagai manggala petang dasa akan diupacarai untuk dapat melaksanakan tugasnya dalam waktu 1 tahun.

Upacara pawintenan saraswati merupakan upacara penyucian diri secara lahir batin yang dilakukan dengan memuja Dewi Saraswati sebagai saktinya Dewa Brahma merupakan pencipta ilmu pengetahuan.

Baca Juga: Proses Evakuasi Dramatis Saat Pohon Raksasa Tumbang di Pura Bukit Jati, Sepeda Motor Rusak Parah di Bali

“Pawintenan saraswati tujuannya untuk menyucikan seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam hal ini yaitu pembersihan diri bagi para manggala petang dasa,” imbuhnya.

Bunga pucuk merah merupakan bunga yang memiliki berbagai makna tersendiri yang seringkali dijadikan sebagai tanaman yang baru tumbuh atau menunjukkan awal siklus kehidupan.

Pucuk merah dapat diartikan sebagai pertumbuhan, perubahan. Karena warna merah sering dikaitkan dengan energi, keberanian, semangat dan dapat dianggap sebagai simbol kemampuan untuk menghadap tantangan, keberanian untuk maju dan semangat untuk mencapai tujuan.

Bunga pucuk merah digunakan pada pelaksanaan tradisi ngelawar intaran sebagai keagungan dari manggala petang dasa yang diletakkan di udeng (destar) bagian depan

Sarana lainnya adalah keris. Keris atau danganan merupakan sarana yang digunakan dalam pelaksanaan tradisi ngelawar intaran. Pengunaan keris pada pelaksanaan tradisi ngelawar intaran menjadi makna tersendiri yang melambangkan sebuah kekuasaan dan perlindungan.

Keris digunakan dan diyakini oleh masyarakat sebagai senjata yang memiliki simbol untuk dapat menetralisir hal-hal negatif. Kepercayaan masyarakat terhadap senjata keris, sehingga senjata ini digunakan sebagai sarana pelengkap dalam melaksanakan tradisi ngelawar intaran.

Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Maut yang Membuat Pelatih Sepak Bola Meninggal Dunia Saat Perjalanan Menuju Lokasi Manajer Meeting

Penggunaan Saput Saput Poleng poleng menjadi sarana yang digunakan dalam melaksanakan tradisi ngelawar intaran. Sebuah tradisi tentunya memiliki berbagai jenis ragam pakaian yang digunakan pada pelaksanaan tradisi.

Pada tradisi ngelawar intaran ini pakaian yang digunakan yaitu menggunakan udeng, baju putih lengan panjang dan menggunakan saput poleng. “Saput poleng yang digunakan yaitu jenis saput poleng dengan warna hitam dan putih (rwabhineda),” sebutnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#desa suwug #petangdasa #sawan #ngelawar intaran #buleleng