Sejarah Panjang Suci Hindu Bali, Pura Luhur Pekendungan: Pusat Kemakmuran dan Misteri Keris Ki Baru Gajah di Tabanan
I Putu Suyatra• Selasa, 17 Desember 2024 | 22:11 WIB
Pura Luhur Pekendungan di kawasan Tanah Lot, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, pura ini berada tak jauh dari Pura Luhur Tanah Lot yang terkenal.
BALIEXPRESS.ID - Pura Luhur Pekendungan, salah satu Pura Kahyangan Jagat bagi umat Hindu Bali, menyimpan sejarah panjang dan kaitan erat dengan kemakmuran serta sistem pertanian masyarakat Tabanan.
Terletak di kawasan Tanah Lot, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, pura ini berada tak jauh dari Pura Luhur Tanah Lot yang terkenal.
Namun, tahukah Anda bahwa pura ini juga menyimpan cerita mistis tentang keris sakti Ki Baru Gajah dan kepercayaan turun-temurun sebagai penjaga kesejahteraan?
Asal-Usul Pura Luhur Pekendungan
Berdasarkan Purana Pura Luhur Pekendungan, cerita bermula pada masa pemerintahan Dalem Ketut Ngulesir di Balidwipa Puri Gelgel.
Kala itu, seorang tokoh spiritual bernama Ki Kaki Twa mendapat pawisik (petunjuk) dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk mendirikan pura di kawasan tepi laut perbukitan Let.
“Ki Kaki Twa menemukan tanda-tanda suci di lokasi tersebut, berupa batu rata seperti tikar yang dinaungi pohon kendung. Ketika pohon itu hendak ditebang, muncul sabda bahwa lokasi ini adalah dasar pura yang harus dibangun,” ungkap Pemucuk Pengempon Pura Luhur Pekendungan, I Gusti Made Bagus Damara.
Nama ‘Pekendungan’ sendiri berasal dari pohon kendung tersebut, yang dipercaya menjadi penanda sakral pembangunan pura.
Sejak saat itu, Pura Luhur Pekendungan menjadi pusat pemujaan yang dipercaya menjaga kemakmuran wilayah, menolak hama, dan menstabilkan kehidupan masyarakat.
Keris Ki Baru Gajah: Senjata Sakti Penolak Hama
Salah satu kisah paling menarik dari Pura Luhur Pekendungan adalah tentang keris sakti bernama Ki Baru Gajah.
Keris ini merupakan pemberian dari Dang Hyang Dwijendra (Pedanda Sakti Wawu Rauh) kepada Ki Bendesa Beraban pada tahun Isaka 1411.
Menurut cerita, Dang Hyang Dwijendra tiba di kawasan Tanah Lot dan disambut para nelayan.
Setelah itu, beliau menuju Pura Luhur Pekendungan, di mana Ki Bendesa Beraban datang menghadap dan diberi anugerah keris sakti.
Keris ini dikenal memiliki kekuatan luar biasa untuk menumpas hama dan penyakit tanaman yang mengganggu kehidupan petani.
Keris Ki Baru Gajah dinamakan demikian karena pernah digunakan untuk membinasakan makhluk mistis bernama I Bhuta Babuhung, yang berkepala gajah dan berbadan manusia.
Sosok ini sempat meresahkan masyarakat Desa Pekraman Beraban sebelum akhirnya ditaklukkan.
“Keris ini hingga sekarang masih dihormati. Setiap pujawali atau upacara besar, keris tersebut dipendak dari Puri Kediri untuk kemudian diaturkan sesaji di Pura Luhur Pekendungan. Keris ini diyakini mampu menolak segala jenis hama tanaman petani di Tabanan,” tambah Damara.
Pura Penjaga Kemakmuran Pertanian
Kepercayaan masyarakat tentang kekuatan sakral Pura Luhur Pekendungan sangat erat kaitannya dengan pertanian.
Subak-subak di Tabanan sering menggelar upacara khusus di pura ini ketika sawah mereka terserang hama atau merana.
Tirta yang diambil dari pura ini dipercaya memiliki kemampuan mengusir hama dan menjaga kesuburan tanah.
“Pura ini menjadi stana Ida Bhatara yang menjaga Swi Prakerti. Swi artinya sawah, dan Prakerti berarti sifat bawaan yang berkaitan dengan kemakmuran.
Itulah sebabnya Pura Luhur Pekendungan menjadi pusat spiritual dalam menjaga keseimbangan pangan,” jelas Damara.
Arsitektur Pura Luhur Pekendungan
Selain nilai sejarah dan spiritualnya, Pura Luhur Pekendungan memiliki keindahan arsitektur khas pura-pura Bali. Pura ini terbagi menjadi tiga mandala:
Utama Mandala: Area paling suci yang dilengkapi dengan Meru Tumpang Pitu, Padmasana, dan sejumlah palinggih penting seperti stana Hyang Widhi, Hyang Sadhana Tra, dan pasimpangan dari pura-pura lainnya, termasuk Tanah Lot.
Madya Mandala: Terdapat Penyawangan Pekendungan, Bale Gong, dan Bale Saka Kutus.
Nista Mandala: Area paling luar yang terdiri dari Pasraman, Padmasari, Beji, serta beberapa bale untuk upacara dan persiapan ritual.
Upacara Besar dan Tradisi Sakral
Pujawali utama di Pura Luhur Pekendungan jatuh pada Hari Raya Kuningan setiap Saniscara Kliwon Wuku Kuningan.
Selain itu, upacara besar terakhir yang digelar di pura ini adalah Karya Agung Mamungkah, Mupuk Pedagingan, dan Nangkluk Merana pada tahun 2006. Upacara tersebut melibatkan 22 desa adat yang bekerja sama bahu-membahu dengan penuh semangat.
Misteri yang Terus Hidup
Hingga kini, Pura Luhur Pekendungan tetap menjadi pusat spiritual yang diyakini mampu menjaga kemakmuran, ketentraman, dan keseimbangan alam di Tabanan.
Kisah keris Ki Baru Gajah serta pawisik sakral yang melatarbelakangi berdirinya pura ini menjadikannya salah satu pura paling menarik dan penuh misteri di Bali.
Jika Anda berkunjung ke kawasan Tanah Lot, sempatkanlah datang ke Pura Luhur Pekendungan.
Selain menikmati keindahan alamnya, Anda bisa merasakan aura spiritual yang kental dan memahami bagaimana tradisi leluhur tetap hidup hingga sekarang.
Dengan sejarah yang begitu kaya dan kepercayaan turun-temurun yang terus dijaga, Pura Luhur Pekendungan tak hanya menjadi pura biasa, tetapi simbol kemakmuran dan keharmonisan kehidupan di Pulau Dewata. ***