BALIEXPRESS.ID - Di Desa Sukawana, Kintamani, Bangli, terdapat tradisi Hindu Bali yang sakral bernama Masegeh Ngelamuin.
Upacara yang dipercaya mampu membersihkan jagat atau alam semesta secara niskala ini telah diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad.
Tak hanya sebagai ritual spiritual, Masegeh Ngelamuin juga menjadi sarana mempererat kerukunan umat.
Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun, tepat setelah berakhirnya rangkaian upacara Ngusaba Dalem di Bale Agung Desa Sukawana.
Uniknya, rangkaian upacara dimulai secara bertahap sejak sasih keenam hingga sasih kedasa dalam kalender Bali.
Selama periode tersebut, masyarakat secara bergotong-royong menghaturkan aneka bahan persembahan suci atau yadnya, termasuk tujuh ekor sapi yang disembelih sebagai bagian dari ritual.
Makna dan Tujuan Masegeh Ngelamuin
Menurut Tokoh Adat Sukawana, I Made Tresna, Masegeh Ngelamuin adalah simbol pembersihan desa dari energi negatif sekaligus cara menjaga keseimbangan alam.
“Upacara ini adalah kewajiban masyarakat kami untuk menghaturkan sesaji kepada Hyang Bhuta. Dengan tradisi ini, kami percaya desa menjadi kuat, sejahtera, dan terlindungi seperti benteng,” ujarnya.
Setelah sesaji dihaturkan, masyarakat melakukan magibung—tradisi makan bersama dengan alas daun pisang.
Dalam suasana penuh kebersamaan, aneka lauk dan nasi yang telah dipersembahkan dinikmati bersama-sama.
“Tidak ada batasan siapa yang boleh ikut. Pria, wanita, bahkan orang luar desa yang tahu tradisi ini boleh mencicipi. Ini juga menjadi momen untuk memohon berkah,” tambahnya.
Ritual Sakral di Banjar Kute Dalem
Rangkaian upacara diawali dengan menghaturkan banten caru dan sesaji berupa potongan daging sapi, yang dilengkapi dengan telur, nasi, dan lauk-pauk lainnya.
Semua sarana upacara dijejer sepanjang beberapa meter di Banjar Kute Dalem, wilayah yang diyakini sebagai gerbang besar menuju alam niskala.
“Banjar Kute Dalem ini dipercaya sebagai pusat benteng pertahanan secara niskala. Seluruh ritual penting selalu dilakukan di sini,” ungkap Made Tresna.
Warga Desa Sukawana juga memiliki pantangan untuk tidak melaksanakan ritual keagamaan tertentu sejak sasih jiyestha hingga sasih mala sadha.
Tradisi upacara seperti dewa yadnya dan bhuta yadnya baru dimulai sejak sasih kasa.
Keberlanjutan Tradisi Turun-Temurun
Memasuki sasih kasa hingga sasih karo, berbagai ritual mulai digelar, termasuk upacara tajen yang melibatkan tujuh banjar adat.
Dalam waktu yang bersamaan, prosesi penyembelihan sapi berlangsung di pelataran Bale Agung Pura Desa.
Daging sapi yang disembelih kemudian diolah menjadi sesaji dan disantap dalam tradisi magibung.
“Kami tidak pernah meniadakan tradisi ini. Masegeh Ngelamuin sudah menjadi kepercayaan sejak zaman leluhur, meski secara tertulis tidak ada dalam sastra. Kami tetap teguh melaksanakannya karena yakin tradisi ini membawa berkah,” tegas Made Tresna.
Kepercayaan yang Teguh Tanpa Paksaan
Khusus untuk upacara Masegeh Ngelamuin, ritual ini selalu dipimpin oleh Jero Kubayan Sukawana. Pelaksanaannya melibatkan seluruh warga desa tanpa terkecuali.
Meskipun tidak ada ancaman hukuman bagi mereka yang melanggar, masyarakat percaya teguh bahwa tradisi ini adalah kunci hidup makmur dan harmonis.
“Boleh percaya atau tidak, tapi kami yakin Masegeh Ngelamuin membawa berkah dan kemakmuran. Inilah warisan leluhur yang terus kami jaga hingga kini,” pungkas Made Tresna.
Tradisi unik ini bukan sekadar ritual, tetapi juga cerminan kekuatan spiritual dan kebersamaan masyarakat Desa Sukawana yang patut dipertahankan dan dilestarikan. ***
Editor : I Putu Suyatra