Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Keajaiban Desa Trunyan: Tempat Pemakaman Unik Tanpa Ditanam dan Bau Busuk di Bali, Ada Pohon Berusia Seribu Tahun Lebih

I Putu Suyatra • Sabtu, 21 Desember 2024 | 22:23 WIB
Pemakaman Desa Trunyan di Bangli, Bali.
Pemakaman Desa Trunyan di Bangli, Bali.

BALIEXPRESS.ID – Desa Trunyan, yang terletak di tepi timur Danau Batur, Kintamani, Bangli, Bali, bukan hanya sebuah desa adat biasa.

Dengan tradisi pemakaman uniknya yang telah terkenal hingga ke mancanegara, desa ini menawarkan pengalaman wisata yang tak dapat ditemukan di tempat lain.

Sejak zaman dahulu hingga sekarang, adat dan tradisi Desa Trunyan tetap lestari tanpa perubahan berarti.

Legenda Pohon Taru Menyan, Ikon Desa Trunyan

Nama Desa Trunyan berasal dari pohon taru menyan, sebuah pohon yang tumbuh di tengah area pemakaman desa.

Pohon ini bukan sekadar tanaman biasa—usianya dipercaya mencapai 1.100 tahun atau 11 abad.

Yang membuatnya istimewa adalah kemampuannya menghilangkan bau busuk dari jenazah yang diletakkan di sekitarnya.

Setiap jenazah di Desa Trunyan tidak dikuburkan seperti tradisi pemakaman pada umumnya.

Jenazah hanya direbahkan di atas tanah dan ditutupi dengan anyaman bambu.

Namun, kehadiran pohon taru menyan membuat area pemakaman ini bebas dari bau busuk, meskipun jenazah dibiarkan terbuka.

"Uniknya, bau harum dari pohon ini tidak tercium dengan jelas oleh hidung manusia, tetapi efeknya terasa," ungkap I Ketut Mandra, salah satu warga setempat.

Pemakaman Ajaib yang Menarik Wisatawan

Wisatawan yang berkunjung ke pemakaman Desa Trunyan seringkali takjub dengan keajaiban ini.

Bahkan, saat ada jenazah baru yang masih utuh setelah dimakamkan selama sepekan, tak sedikit pun bau busuk tercium.

"Cepat atau lambatnya pembusukan jenazah tergantung cuaca. Saat musim kemarau, jenazah bisa tetap utuh hingga satu tahun," jelas Mandra.

Tradisi Pemakaman yang Tak Berubah

Desa Trunyan memiliki aturan ketat mengenai pemakaman.

Terdapat 11 kapling pemakaman yang hanya diperuntukkan bagi warga yang meninggal secara wajar dan sudah berumah tangga.

Untuk jenazah orang suci, disediakan lahan khusus di utara area pemakaman. Sementara, mereka yang meninggal karena ulah pati (bunuh diri atau kecelakaan) dimakamkan di lokasi terpisah.

Jika ada jenazah baru, prosesnya melibatkan pemindahan jenazah yang paling lama ke sebuah tempat penampungan khusus.

Pemindahan ini dilakukan melalui ritual bernama Angkep Taji, dengan menggunakan uang kepeng dan sesaji.

"Proses ini sudah dilakukan secara turun-temurun tanpa perubahan," tambah Mandra.

Pesona Tradisi yang Mendunia

Desa Trunyan telah lama menjadi destinasi wisata yang unik dan mistis.

Keberadaan pohon taru menyan serta tradisi pemakaman tanpa bau busuk menjadikannya daya tarik luar biasa bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. *** 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#desa trunyan #bali #Kintamani #bangli #pemakaman