Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Mistis Kongco Hok Tik Kong di Kawasan Pemakaman Warga Tiongkok di Carangsari: Fungsinya seperti Pura Prajapati bagi Umat Hindu Bali

I Putu Suyatra • Sabtu, 21 Desember 2024 | 22:40 WIB

Kongco Hok Tik Kong atau Toa Pekong di Desa Carangsari, Badung, Bali.
Kongco Hok Tik Kong atau Toa Pekong di Desa Carangsari, Badung, Bali.
 

BALIEXPRESS.ID – Di Desa Carangsari, Petang, Badung, Bali, terdapat sebuah situs budaya unik yang memadukan tradisi Hindu Bali dan Tiongkok, yaitu Kongco Hok Tik Kong atau Toa Pekong.

Terletak di kawasan pemakaman warga keturunan Tiongkok, tempat ini menjadi simbol akulturasi budaya sekaligus menyimpan cerita mistis yang menarik perhatian.

Jejak Akulturasi: Dari Padmasana Hingga Dewa Langit

Menurut Putu Sudiatmi, penjaga Kongco, bangunan ini memiliki kesamaan fungsi dengan Pura Prajapati dalam tradisi Hindu Bali.

Salah satu palinggihnya menyerupai padmasana dengan ukiran teratai dan Badawang Nala di bagian bawah.

Bedanya, di atasnya terdapat tulisan "Tuhan Yang Maha Esa."

Di dalam kongco, distanakan Dewa Bumi yang dalam kepercayaan Hindu dikenal sebagai Sang Hyang Jogormanik, dewa yang menyambut roh orang yang meninggal.

“Kongco ini seperti Prajapati di Bali, tapi dengan sentuhan budaya Tiongkok,” ungkap Sudiatmi kepada Bali Express.

Kisah Mistis di Balik Berdirinya Kongco

Awal mula pendirian Kongco Hok Tik Kong dipenuhi cerita mistis.

Sudiatmi menceritakan bahwa tempat ini dulunya hanya kuburan biasa.

Namun, suatu hari seorang warga yang sedang mencari rumput menemukan sebuah kepala patung kecil mirip gantungan kunci di bawah pohon jepun.

“Setelah dibawa pulang, orang tersebut tiba-tiba kesurupan dan menangis. Akhirnya patung itu dikembalikan ke tempat semula,” ujarnya.

Kejadian serupa kembali terulang hingga akhirnya ada petunjuk untuk mendirikan tempat suci.

Pada 3 April 1992, Kongco Hok Tik Kong resmi berdiri. Patung kecil tersebut kemudian dibuatkan badan hingga berbentuk patung togog yang kini menjadi simbol utama kongco.

Pesan dari Alam Kematian

Selain keberadaan Dewa Bumi dan Hyang Jogormanik, kongco ini menarik perhatian karena ornamen-ornamen di temboknya.

Lukisan-lukisan tersebut menggambarkan alam kematian, di mana roh-roh menjalani hukuman atas perbuatan buruk selama hidup.

“Lukisan ini untuk mengingatkan agar kita selalu berbuat baik,” jelas Putu Ferry Suriadi (32), locu di kongco.

Tradisi Tahunan dan Persembahan untuk Leluhur

Layaknya pura, Kongco Hok Tik Kong juga memiliki tradisi piodalan yang digelar setiap 3 April, bertepatan dengan hari pendiriannya.

Pada hari itu, persembahan dilakukan untuk Dewa Bumi serta leluhur yang dimakamkan di sana.

Untuk kuburan yang masih memiliki keturunan, keluarga langsung memberikan persembahan.

Sementara bagi makam tanpa keturunan, persembahan dilakukan di tempat khusus bernama Ho Ping, lengkap dengan undangan simbolis kepada arwah.

“Kami memanggil mereka seperti layaknya masih hidup. Persembahan disediakan di Ho Ping sebagai bentuk penghormatan,” tandas Ferry.

Kongco Hok Tik Kong: Simbol Harmoni Budaya

Kongco ini menjadi salah satu peninggalan penting dari akulturasi budaya Hindu-Buddha masa lampau yang masih lestari hingga kini.

Selain berhubungan erat dengan Pura Dalem Puri Carangsari, kongco ini juga menjadi pengingat bahwa harmoni budaya dapat menghasilkan tradisi yang kaya dan penuh makna. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #tiongkok #pura prajapati #Kongco Hok Tik Kong #hindu #carangsari #pemakaman #badung