BALIEXPRESS.ID - Pura Penataran Agung Klungkung menjadi salah satu situs spiritual penting bagi umat Hindu Bali yang menyimpan cerita sejarah menarik.
Diperkirakan dibangun pada abad ke-18 saat era Kerajaan Klungkung, pura ini berlokasi di Jalan Gunung Semeru, Banjar Sengguan, Desa Adat Semarapura, Klungkung.
Selain diempon oleh 14 banjar di wilayah Kota Semarapura, pura ini juga memiliki kaitan erat dengan Pura Besakih.
Apa yang membuatnya begitu istimewa?
Kaitan Pura Besakih dan Penataran Agung Klungkung: Sebuah Tradisi Sakral
Kaitan Pura Penataran Agung Klungkung dengan Pura Besakih kembali mencuat saat prosesi melasti Ida Bhatara Pura Besakih ke segara Watu Klotok, Desa Tojan, Klungkung.
Dalam perjalanan tersebut, Ida Bhatara sempat singgah dan bermalam di Pura Penataran Agung Klungkung sebelum kembali ke Besakih.
Menurut Tjokorda Bagus Oka, pangeling Pura Penataran Agung Klungkung, tradisi ini bukan hal baru.
Pura Penataran Agung Klungkung sejak lama menjadi pengayengan Ida Bhatara di Pura Besakih.
Setiap prosesi melasti ke Watu Klotok, khususnya dalam rangka Karya Tawur Agung Panca Wali Krama yang berlangsung setiap 10 tahun, atau Karya Eka Dasa Rudra setiap 100 tahun, pasti disertai singgah di pura ini.
Sejarah Pendirian: Konflik Kerajaan dan Peran Strategis Pura
Konon, pendirian pura ini bermula dari konflik antara Kerajaan Klungkung dan Karangasem.
Ketegangan ini membuat warga Klungkung enggan tangkil ke Pura Besakih yang berada di wilayah Karangasem.
Untuk mengakomodasi kebutuhan spiritual rakyatnya, Raja Klungkung memutuskan membangun Pura Penataran Agung sebagai tempat pengayengan Ida Bhatara Besakih.
Pembangunan dilakukan secara bertahap, dengan berbagai palinggih yang melambangkan Ida Bhatara dari Besakih, seperti meru tumpang solas untuk Ida Bhatara Penataran Agung Besakih, hingga paling anyar, palinggih pasimpangan Ida Ratu Subandar.
Tragedi Kebakaran 2009: Pura yang Bangkit dari Abu
Kebakaran hebat pada 30 Juli 2009 menjadi salah satu titik balik penting dalam sejarah pura ini.
Insiden yang diduga akibat pembakaran sampah menghanguskan seluruh palinggih, kecuali bale gong dan bale pesandekan.
Kebakaran terjadi hanya beberapa bulan setelah pelaksanaan Karya Tawur Agung Panca Wali Krama.
“Syukurnya, pembangunan besar-besaran dapat selesai sebelum Panca Wali Krama 2019,” ungkap Tjokorda Bagus.
Arsitektur pura direnovasi dengan tata ruang yang disesuaikan seperti sebelum kebakaran, termasuk pelebaran gelung kori agar pralingga Ida Bhatara Pura Besakih bisa masuk dengan mudah.
Keunikan Pura: Tradisi, Pemangku, dan Piodalan
Sebagai pura pengayengan, Pura Penataran Agung Klungkung memiliki tradisi unik. Pemangkunya harus berasal dari keturunan pemangku Pura Besakih.
Menurut Jro Mangku Wayan Dunia, tradisi ini sudah ada sejak leluhurnya dipindahkan ke Klungkung untuk ngayah di pura tersebut.
Piodalan pura ini dilaksanakan setiap enam bulan pada hari Tumpek Wayang.
Tradisi ini menjadi momen penting bagi para pamedek yang tangkil untuk memanjatkan doa.
Pesona Sejarah dan Spiritual Pura Penataran Agung Klungkung
Pura Penataran Agung Klungkung tidak hanya menjadi simbol spiritual, tetapi juga saksi bisu perjalanan sejarah Bali.
Dari perseteruan kerajaan hingga tragedi kebakaran, pura ini menunjukkan bagaimana tradisi dan kepercayaan mampu bertahan di tengah berbagai tantangan.
Dengan nilai sejarah dan spiritual yang begitu kental, tidak heran jika Pura Penataran Agung Klungkung terus menjadi daya tarik bagi para pamedek dan pencinta budaya.
Apakah Anda tertarik untuk mendalami lebih jauh kisahnya? ***