Sejarah berdirinya Pura Dalem Ped sangat unik dan sarat dengan nilai-nilai spiritual. Informasi mengenai asal-usulnya diperoleh melalui sumber lisan, artefak, dan berbagai media. Hal ini disebabkan oleh minimnya catatan tertulis yang dapat menjadi referensi.
Seperti diceritakan I Wayan Manca, Tokoh Adat Ped, Nusa Penida ada Tiga buah tapel sakti yang ada di pura ini menjadi peninggalan penting dalam sejarahnya. Tapel-tapel tersebut dipercaya memiliki kesaktian luar biasa yang menjadikannya sebagai inti dari cerita asal-usul pura.
Nama “Ped” diambil dari kesaktian tiga tapel yang sempat menjadi perbincangan di seluruh Bali. Kabar mengenai tapel ini bahkan sampai ke telinga Ida Pedanda Abiansemal, yang memutuskan untuk menyaksikan langsung kesaktian tersebut.
Ida Pedanda Abiansemal bersama rombongan melakukan perjalanan ritual yang dikenal dengan istilah mapeed menuju Nusa Penida. Perjalanan ini kemudian menjadi bagian penting dari sejarah Pura Dalem Ped.
Awalnya, pura ini dikenal dengan nama Pura Dalem Nusa. Namun, setelah kunjungan Ida Pedanda Abiansemal, namanya diubah oleh seorang tokoh Puri Klungkung menjadi Pura Dalem Ped.
Perubahan nama ini sempat menjadi bahan perdebatan di kalangan tokoh spiritual dan masyarakat.
“Ada yang menyebut pura ini sebagai Pura Penataran Ped, sementara yang lain tetap menggunakan nama Pura Dalem Ped,” jelasnya.
Istilah “Dalem” dan “Penataran” sebenarnya saling melengkapi dan merujuk pada satu tempat yang sama. Kesaktian tiga tapel di Pura Dalem Ped telah dikenal luas.
Tapel-tapel ini dikisahkan mampu menyembuhkan berbagai penyakit, baik yang menyerang manusia maupun tumbuhan.
Kisah kesaktian ini juga menarik perhatian warga Subak Sampalan yang tengah menghadapi serangan hama.
Setelah memohon anugerah kepada tapel tersebut, serangan hama pun hilang, dan panen mereka menjadi melimpah.
Keberhasilan tersebut dirayakan melalui upacara mapeed yang dilakukan oleh warga Subak Sampalan. Tradisi ini kemudian menyebar luas ke berbagai wilayah di Nusa Penida.
Nama “Dalem” dalam Pura Dalem Ped tidak mengacu pada bagian Tri Kahyangan, melainkan pada gelar penguasa sakti zaman dahulu, yaitu Ratu Gede Nusa atau Ratu Gede Mecaling.
Pura Dalem Ped memiliki lima lokasi persembahyangan utama. Yang pertama adalah Pura Segara, yang terletak di dekat pantai dan menjadi tempat berstana Bhatara Baruna.
Lokasi kedua adalah Pura Taman, yang dikelilingi kolam suci untuk ritual penyucian. Lokasi ini berada di sebelah selatan Pura Segara.
Persembahyangan utama dilakukan di Pura Penataran Ratu Gede Mecaling, yang menjadi simbol kesaktian penguasa Nusa pada masa lalu.
Selain itu, terdapat Pura Ratu Mas di sebelah timur dan Bale Agung di jaba tengah, tempat persembahyangan bagi para Dewa saat ritual ngusaba.
Di bagian jaba, terdapat wantilan dengan arsitektur khas Badung yang digunakan untuk pertunjukan seni dan kegiatan masyarakat lainnya. Tempat ini menjadi pusat aktivitas budaya di pura.
Sebagian besar bangunan di Pura Dalem Ped telah mengalami pemugaran, kecuali bangunan-bangunan keramat seperti area Ratu Gede Mecaling dan Ratu Mas.
Bangunan keramat ini tidak pernah disentuh oleh manusia. Jika diperlukan perbaikan, replika bangunan serupa dibuat di lokasi terdekat tanpa mengganggu bangunan aslinya.
Pura Dalem Ped tidak hanya menjadi pusat persembahyangan, tetapi juga saksi bisu perjalanan sejarah, spiritual, dan budaya masyarakat Nusa Penida. Hingga kini, tradisi dan nilai-nilai sakral yang ada di pura ini tetap dilestarikan.
“Saat pujawali pada Buda Cemeng Kelawu selalu ramai pemedek yang nangkil. Tidak hanya dari Nusa Penida saja. Tetapi juga dari seluruh Bali,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika