Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Kongco di Tempat Suci Hindu Bali, Pura Penyagjagan, Bukti Harmoni Budaya Bali dan Tionghoa di Dusun Lampu

I Putu Suyatra • Rabu, 25 Desember 2024 | 14:19 WIB

Kongco Pura Penyagjagan; Saksi Lahirnya Dusun Lampu, Desa Catur
Kongco Pura Penyagjagan; Saksi Lahirnya Dusun Lampu, Desa Catur

BALIEXPRESS.ID - Di Dusun Lampu, Desa Catur, Kintamani, Bangli, Bali, akulturasi budaya dan agama terasa begitu kental. Keberagaman itu terwujud di Pura Penyagjagan, di mana sebuah kongco berdiri berdampingan dengan palinggih yang dipuja umat Hindu Bali.

Mengapa kongco dan palinggih bisa bersanding di satu tempat suci?

Jejak Sejarah Koloni Tionghoa di Perbatasan Kerajaan Bangli

Kongco yang berada di utama mandala Pura Penyagjagan ternyata menyimpan kisah sejarah yang unik.

Menurut Ayusta Wijaya, Tokoh Perkumpulan Tionghoa Banjar Lampu, kongco itu adalah saksi bisu kehadiran koloni warga Tionghoa yang menjadi penjaga perbatasan antara Kerajaan Bangli, Badung, dan Buleleng ratusan tahun lalu.

“Kami datang untuk menjaga perbatasan. Ini adalah tugas leluhur kami yang diwariskan turun-temurun,” ujar Ayusta.

Meski tidak ada catatan tertulis, masyarakat percaya keberadaan komunitas Tionghoa di Dusun Lampu sudah lebih dari 300 tahun.

Kongco tersebut, lanjut Ayusta, dibangun berdasarkan sabda leluhur sebagai tempat pemujaan para dewa kepercayaan umat Tionghoa.

Hal ini erat kaitannya dengan upaya Kerajaan Badung untuk berekspansi ke dataran tinggi Bangli.

Asal-usul Nama “Lampu” yang Sarat Makna

Nama Dusun Lampu sendiri tak lepas dari peran obor yang dibawa warga Tionghoa saat menghadapi pasukan musuh.

“Leluhur kami diperintahkan membawa obor sebagai sumber cahaya. Obor itu juga menjadi strategi, membuat musuh mengira ada pasukan besar yang berjaga,” ungkap Ayusta.

Uniknya, lokasi dusun ini ditentukan melalui sebuah sabda leluhur. Obor yang menyala hingga padam di tempat tertentu menjadi penanda wilayah yang layak dijadikan permukiman.

Di tempat itu pula dibangun kongco dan Pura Penyagjagan sebagai simbol harmoni.

Ritual yang Satukan Dua Budaya

Hingga kini, Pura Penyagjagan menjadi pusat harmoni antara umat Hindu dan Tionghoa.

Pada perayaan Imlek dan Chem Beng, umat Tionghoa menggelar pemujaan leluhur yang diwarnai dengan sesaji buah, kue, dan makanan, mirip tradisi umat Hindu.

Ritual Chem Beng biasanya dimulai pukul 10.00 WITA dan dilanjutkan persembahyangan di tiap palinggih di utama mandala.

Yang tak kalah menarik, usai sembahyang, umat Hindu dan Tionghoa memasak bersama dari bahan sesaji yang dihaturkan, lalu menyantapnya bersama di area pura.

“Kami memang beragama Buddha, tapi kami mengikuti semua ritual Hindu, mulai lahir hingga meninggal. Kami berpakaian adat Hindu dan sembahyang ala Hindu,” tutur Ayusta.

Harmoni yang Terpancar dari Arsitektur dan Tradisi

Arsitektur Pura Penyagjagan tetap mempertahankan keaslian desainnya, memadukan elemen khas Bali dan Tionghoa.

Di area utama mandala, meru tumpang solas berdiri berdampingan dengan kongco, menjadi simbol kuat dari penyatuan dua budaya.

Harmoni ini juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Warga keturunan Tionghoa di Dusun Lampu aktif dalam berbagai kegiatan adat, seperti menjadi pecalang hingga anggota sekaa gong.

“Pura Penyagjagan menjadi saksi dua umat berbeda darah yang hidup sebagai saudara,” pungkas Ayusta. *** 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Kongco #Kintamani #tionghoa #bangli #Pura Penyagjagan #hindu #budaya