Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Unik Hindu Bali di Desa Adat Besakih: Ngaben Tanpa Pembakaran Mayat, Begini Prosesi Sakralnya

I Wayan Adi Prabawa • Sabtu, 28 Desember 2024 | 22:29 WIB
BENDESA ADAT BESAKIH: Jero Mangku Widiartha
BENDESA ADAT BESAKIH: Jero Mangku Widiartha

BALIEXPRESS.ID – Desa Adat Besakih di Kecamatan Rendang, Karangasem, memiliki tradisi Hindu Bali yang unik dalam menjalankan prosesi Ngaben.

Tidak seperti pada umumnya yang melibatkan pembakaran jenazah dan bade, di desa ini, warga yang meninggal justru diwajibkan untuk dikubur.

Hal ini berkaitan dengan kedekatan lokasi desa dengan Pura Agung Besakih, yang menjadi pusat spiritual umat Hindu di Bali.

Bendesa Adat Besakih, Jero Mangku Widiartha, mengungkapkan bahwa larangan membakar jenazah di desa ini didasari oleh penghormatan terhadap kesucian pura.

“Kalau ngeseng (membakar) mayat kan ada asapnya yang naik, dan itu tidak sesuai dengan aturan di sini,” jelasnya saat diwawancarai belum lama ini.

Prosesi Sakral Ngebugin Sebelum Ngaben

Meskipun tanpa prosesi pembakaran, tradisi Ngaben di Desa Adat Besakih tetap berlangsung dengan keunikan tersendiri.

Salah satunya adalah ritual Ngebugin, yang dilakukan tiga hari sebelum Ngaben. Dalam prosesi ini, roh almarhum yang telah dimakamkan di setra (kuburan) diundang kembali melalui rangkaian upacara menggunakan pelepah pohon kelapa gading.

“Ngebugin ini sangat sakral, dilakukan dengan berbagai tahapan upacara. Ini menggantikan pengebetan yang biasa dilakukan di tempat lain,” tambah Widiartha.

Desa Adat Besakih sendiri memiliki tiga setra yang cukup luas, sehingga tidak pernah mengalami kesulitan dalam proses pemakaman warganya.

Boleh Kremasi, Tapi Ada Syarat

Namun, tradisi di Desa Adat Besakih tidak sepenuhnya menutup pintu untuk prosesi kremasi.

Widiartha menjelaskan, warga yang meninggal di luar wilayah desa, seperti di rumah sakit, boleh dikremasi atas permintaan keluarga.

Meski demikian, keputusan tersebut harus dikomunikasikan terlebih dahulu dengan Bendesa Adat.

“Kaitannya dengan kremasi, kami tetap memberikan permakluman jika itu di luar desa. Namun, adat tidak memberikan penentuan hari baik,” jelasnya.

Tradisi unik di Desa Adat Besakih ini mencerminkan penghormatan yang tinggi terhadap nilai spiritual dan budaya lokal.

Bagi masyarakat sekitar, ini bukan hanya sebuah ritual, tetapi juga wujud ketaatan pada adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Bagaimana menurut Anda, tradisi ini semakin memperkaya keunikan Bali, bukan? *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #setra #besakih #ngaben #hindu #tradisi