Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Nyepi di Desa Adat Lebu, Sidemen Ada Peran Sekaa Roras, Dilaksanakan Setengah Hari

I Putu Mardika • Selasa, 31 Desember 2024 | 03:59 WIB

 

Tradisi ngusaba di Desa Adat Lebu serangkaian Nyepi Desa
Tradisi ngusaba di Desa Adat Lebu serangkaian Nyepi Desa
BALIEXPRESS.ID-Desa Adat Lebu, yang terletak di Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem, dikenal memiliki tradisi unik bernama Nyepi Desa. Hingga kini, tradisi ini tetap dipertahankan sebagai bagian dari sistem religi yang erat kaitannya dengan kegiatan pertanian, terutama setelah panen raya.

Nyepi Desa dilakukan sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah. Namun, dalam perkembangannya, tradisi ini juga diintegrasikan dengan upacara Ngusaba di Pura Puseh dan Pura Dalem, yang menjadi rangkaian utama dalam pelaksanaan Nyepi Desa.

Ciri khas tradisi ini adalah adanya kelompok sekaa roras, sebuah kelompok yang terdiri dari 12 laki-laki.

Kelompok ini diberi tanggung jawab untuk mengelola seluruh prosesi upacara, mulai dari Ngusaba Desa hingga puncak perayaan Nyepi Desa yang berlangsung empat hari kemudian.

Persiapan tradisi dimulai dengan Sangkep atau rapat adat yang diadakan oleh bendesa adat setelah menerima laporan dari kelian subak bahwa panen telah selesai.

Dalam rapat ini, ditentukan hari pelaksanaan Ngusaba Desa di Pura Puseh dan Pura Dalem, sekaligus menunjuk anggota sekaa roras.

Setelah ditunjuk, sekaa roras mengumumkan jadwal dan persiapan kegiatan kepada warga desa. Mereka kemudian melakukan ritual nunas tirta di Pura Puseh untuk mendapatkan berkah sebelum menjalankan tugas mereka.

Baca Juga: Tumpahan Minyak Ganggu Aktivitas Wisatawan di Pantai Candidasa, Kepala DLH Karangasem Bilang Begini

Salah satu tugas utama sekaa roras adalah Ngerampak, yaitu mencari bahan upacara berupa pala gantung (buah-buahan seperti kelapa, pisang, dan mangga) serta pala bungkah (umbi-umbian seperti ubi dan talas).

Bahan-bahan ini disusun menjadi delapan rampagan yang kemudian ditempatkan di berbagai pelinggih, termasuk Pejenengan, Sapta Petala, dan Bale Agung.

Tokoh Desa Adat Lebu, Wayan Darmanata menjelaskan, Sekaa roras juga bertanggung jawab membuat cron, bangunan menyerupai candi dari bambu dan daun beringin yang ditempatkan di pintu masuk Pura Puseh. Cron ini menjadi tanda dimulainya tradisi Nyepi Desa.

Tiga hari sebelum upacara utama, sekaa roras menjalani ritual pungkusan atau pergantian nama. Masing-masing anggota meminta nama baru dari orang tua mereka, yang kemudian diumumkan oleh bendesa adat.

Persyaratan menjadi anggota sekaa roras cukup ketat.

Mereka harus berstatus menikah, telah melaksanakan upacara potong rambut, dan potong gigi. Persyaratan serupa juga berlaku bagi istri mereka.

Prosesi Ngusaba Desa dimulai di Pura Puseh pada siang hari. Pada pagi harinya, sekaa roras melakukan pemotongan babi untuk kebutuhan upacara.

Daging babi ini harus ditimbang menggunakan timbangan khusus yang disebut betara timbangan.

Setelah pemotongan, warga desa melaksanakan matur piuning di pelinggih Pura Puseh.

Pada pukul 12 siang, sekaa roras mendak Betara ke Sukat, membawa banten penuur yang meliputi suci, pejati, dan pelayuan.

Baca Juga: Realisasi Anggaran Pilkada Hanya 50 Persen, Sisa Dana Mesti Segera Dikembalikan

Di Sukat, sekaa roras melakukan penghormatan sebelum kembali ke Pura Puseh.

Dalam perjalanan pulang, mereka berputar tiga kali di perempatan jalan, depan Pura Puseh, dan Bale Agung. Ritual ini melambangkan penghormatan terhadap manifestasi Dewa-Dewi.

“Setelah tiba di Pura Puseh, Betara Dewa-Dewi distanakan. Selanjutnya dilakukan pecaruan dua manca dan ritual pungkusan, di mana sekaa roras resmi berganti nama. Mereka mengenakan pakaian adat khusus, termasuk udeng dari daun alang-alang,” katanya.

Pada sore harinya, prosesi berpindah ke Pura Dalem. Lingkungan pura dibersihkan sebelum dilakukan pecaruan dengan bahan utama seperti sapi, ayam, dan anjing berwarna tertentu. Ritual ini ditutup dengan pembakaran bekas pecaruan untuk membersihkan lingkungan pura.

Malam hari, sekaa roras menampilkan tarian Sang Hyang Jaran sebagai simbol pengabdian spiritual. Tarian ini menjadi salah satu daya tarik utama dari tradisi Nyepi Desa.

Hari berikutnya, Nyepi Desa dimulai. Seluruh aktivitas desa, termasuk memasak dan berdagang, dihentikan. Brata penyepian mencakup amati geni, amati karya, amati lelanguan, dan amati lelungan.

Penyepian berlangsung sejak pukul 06.00 WITA dan berakhir pada pukul 12.00 siang, ditandai dengan suara kentongan. Setelah itu, warga kembali beraktivitas seperti biasa.

Baca Juga: Pemprov Bali akan Terima Hibah 10 Unit Bus Listrik Trans Sarbagita, Diperkirakan Beroperasi 2026

Tradisi Nyepi Desa tidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap Tuhan, tetapi juga mencerminkan harmoni sosial dan spiritual di Desa Pakraman Lebu. Keunikan dan keindahan tradisi ini diharapkan terus dilestarikan sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi.

“Dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat, Nyepi Desa menjadi bukti nyata bagaimana tradisi lokal dapat memperkuat identitas komunitas sekaligus menjaga keseimbangan dengan alam dan spiritualitas,” tutupnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#Nyepi Desa #Sidemen #ngusaba #karangasem #Desa Adat Lebu #Pura Dalem #sekaa roras #pura puseh