Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Kesetiaan Kera yang Abadi dan Keunikan Pura Pulaki: Tempat Suci Hindu Bali dengan Kawanan Kera dan Ritual Wanara Laba

I Putu Suyatra • Kamis, 2 Januari 2025 | 02:12 WIB
Pura Pulaki, Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali
Pura Pulaki, Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali

BALIEXPRESS.ID – Setiap kunjungan ke Pura Pulaki, Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, selalu meninggalkan kenangan spiritual yang mendalam.

Terletak di pinggir pantai, tempat suci Hindu Bali, ini tak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kawanan kera yang sering mengganggu para pamedek yang datang untuk tangkil.

Sesajen yang dibawa oleh pamedek sering menjadi sasaran kawanan kera nakal ini.

Kera Nakal yang ‘Mencuri’ Sesajen

Begitu pamedek melangkah masuk ke area pura, kawanan kera (wanara) yang berada di sekeliling pura langsung mendekati.

Mereka seolah mengawasi setiap langkah pamedek yang hendak memasuki jeroan pura. Tanpa waspada, sesajen seperti canang bisa saja "dibegal" oleh kera-kera tersebut.

Pamedek yang tak sengaja lengah hanya bisa menyesal karena sesajen yang sudah dipersiapkan untuk haturkan sembahyang justru dibawa lari oleh kawanan kera.

Pemagaran untuk Kenyamanan Pamedek

Untuk mengatasi gangguan ini, sejak dua tahun lalu, area Utama Mandala di Pura Pulaki dipagari dengan pagar besi.

Upaya ini bertujuan memberikan kenyamanan bagi pamedek yang datang untuk bersembahyang.

"Pemagaran di area Jaba Pura dilakukan dua tahun lalu untuk mengurangi gangguan dari kawanan kera yang sering mencuri sesajen," ujar Jro Mangku Made Putra, Pemangku Pura Pulaki.

Tips Menghindari Gangguan Kera

Jro Mangku Made Putra juga memberikan tips bagi pamedek yang ingin datang ke Pura Pulaki.

Agar terhindar dari gangguan kera, disarankan untuk tidak membawa sesajen menggunakan kantong plastik.

Kera sangat sensitif terhadap bau makanan yang terdapat dalam kantong plastik, terutama bunga gemitir yang disukai mereka. Sebagai alternatif, sesajen bisa dirangkul agar kawanan kera tidak terpancing untuk merebutnya.

Ritual Wanara Laba dan Kisah Legendaris

Di balik keberadaan kawanan kera di Pura Pulaki, terdapat sebuah tradisi unik yang disebut Wanara Laba, yang dilaksanakan setiap tahun bertepatan dengan pujawali pada Sasih Kapat.

Upacara ini merupakan bentuk penghormatan kepada kera yang telah menjaga kesucian pura.

Tradisi ini berasal dari kisah perjalanan spiritual Danghyang Nirartha, yang pada abad ke-15 berjanji dengan seekor kera untuk saling menjaga satu sama lain.

Menurut cerita, ketika Danghyang Nirartha kebingungan mencari arah, ia bertemu dengan kawanan kera yang membantunya.

Dalam pertemuan itu, terjadi perjanjian antara Danghyang Nirartha dan kera bahwa keturunan beliau tidak akan menyakiti kera, sementara kera akan selalu setia menjaga beliau.

Kisah ini pun menjadi dasar dari tradisi Wanara Laba, di mana pamedek memberikan sesajen kepada kera sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih.

Kisah Kesetiaan Kera yang Abadi

Tradisi ini mencerminkan kesetiaan kera terhadap Danghyang Nirartha, yang juga dipercaya menjaga istri dan anak beliau di Pura Pulaki.

Pura ini pun menjadi simbol kesetiaan dan perlindungan, dengan kawanan kera yang terus menjaga tempat suci ini.

Pada Purnamaning Sasih Kapat, upacara Wanara Laba digelar untuk memberikan makanan kepada kera, sekaligus merayakan perjanjian suci antara manusia dan kera yang telah berlangsung ratusan tahun.

Dengan segala keunikan dan misterinya, Pura Pulaki bukan hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga sebuah destinasi spiritual yang penuh dengan kisah legendaris dan tradisi yang membuat setiap kunjungan tak terlupakan. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #pura pulaki #kera #tradisi #Danghyang Nirartha #buleleng