Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Karakter Kelahiran Menurut Sapta Wara, Redite Dipengarui Sanghyang Bhaskara, Saniscara Dipengaruhi Durga

I Putu Mardika • Sabtu, 4 Januari 2025 | 03:44 WIB

Kalender Tika Pangalantaka karya Gede Marayana
Kalender Tika Pangalantaka karya Gede Marayana
BALIEXPRESS.ID-Sapta Wara adalah bagian dari wewaran dalam sistem kalender tradisional Bali yang terdiri atas tujuh hari, yaitu Redite, Soma, Anggara, Bhuda, Wraspati, Sukra, dan Saniscara.

Setiap hari memiliki makna filosofis mendalam yang berkaitan dengan Bhuwana Agung (alam semesta) dan Bhuwana Alit (manusia).

Sistem ini tidak hanya digunakan untuk menentukan waktu, tetapi juga untuk memahami fungsi diri dalam kehidupan.

Hari pertama dalam Sapta Wara, Redite, mendapatkan pengaruh dari Sanghyang Bhaskara dan Hyang Banu. Redite atau Minggu melambangkan matahari dan sinarnya yang memasuki Bhuwana Alit.

Dalam kehidupan manusia, kelahiran di hari ini memengaruhi mata, memberikan kecerdasan, dan kemampuan berbicara.

Karakteristik utama adalah kecenderungan untuk memberikan pencerahan dan solusi terhadap masalah di masyarakat.

Simbolis memotong taring saat potong gigi melambangkan pengurangan kekerasan dalam diri manusia. Namun, tanpa pertimbangan matang, kecenderungan salah pandang bisa muncul.

Soma atau Senin dipengaruhi oleh Sanghyang Candra. Orang yang lahir pada hari ini memiliki sifat damai di luar, tetapi keras di dalam. Mereka cenderung sabar dan baik dalam bercocok tanam.

Namun, jika kurang menguasai pengetahuan, mereka mudah terjebak dalam kesedihan.

Pengaruh Sarwa Bungkah (umbi-umbian) mencerminkan potensi tersembunyi yang perlu didemonstrasikan ke publik. Kesabaran adalah kunci utama bagi mereka.

Hari Anggara atau Selasa dipengaruhi oleh Sanghyang Angkara dan Sanghyang Manggala. Kelahiran di hari ini mencerminkan energi kreatif dan keberanian dalam menghadapi tantangan.

Namun, sifat keras dan mudah naik darah menjadi tantangan. Solusi terbaik adalah belajar pengendalian diri melalui pranayama dan pengembangan kecerdasan emosional.

Karakter ini juga melibatkan pengaruh Sarwa Godong (daun-daunan), yang mencerminkan proses transformasi.

Bhuda atau Rabu mendapat pengaruh dari Sanghyang Udaka dan Hyang Budha. Hari ini dikaitkan dengan air, simbol etika dan moralitas.

Orang yang lahir di hari ini memiliki pikiran bersih, polos, dan cenderung suka menyimpan.

Namun, sifat maya dan kenyataan dalam diri mereka membutuhkan keseimbangan. Pengaruh Sarwa Bunga (bunga-bungaan) menekankan pentingnya penghormatan dan martabat.

Wraspati atau Kamis dipengaruhi oleh Sanghyang Sukra dan Hyang Guru. Hari ini melambangkan kebijaksanaan dan kemampuan mendidik. Orang yang lahir di hari ini cenderung dermawan tetapi perlu berhati-hati terhadap pemborosan harta.

Guru Swadiaya, Guru Waya, dan Guru Dyatmika menjadi pilar penting dalam pengembangan diri mereka. Profesi sebagai pendidik sangat cocok bagi mereka, dengan syarat memahami kebutuhan peserta didik.

Hari Sukra atau Jumat dipengaruhi oleh Bhagawan Sukra dan Sanghyang Breghu. Kelahiran pada hari ini mencerminkan kemampuan bercocok tanam, etika baik, dan kecenderungan meditasi.

Sukra memiliki dua jenis, yakni Sukra Biasa dan Sukra Ketu. Sukra Ketu lebih fokus pada kesejahteraan masyarakat, sementara Sukra Biasa lebih individualistis.

Sarwa Buah (buah-buahan) mencerminkan hasil dari usaha yang dilakukan dengan tekun.

Saniscara atau Sabtu dipengaruhi oleh Sanghyang Wasurama dan Dewi Durga. Hari ini mencerminkan dualitas sifat yakni kasih sayang dan kemarahan.

Orang dengan kelahiran di hari ini perlu belajar rasa simpati, empati, dan pengendalian pikiran.

Pengaruh Sarwa Turus (akar-akaran) menunjukkan pentingnya pendidikan dan perawatan diri untuk mencapai potensi terbaik mereka.

Sapta Wara mengajarkan pentingnya memahami fungsi diri berdasarkan hari kelahiran. Setiap hari memiliki karakteristik unik yang berkontribusi pada pembentukan kepribadian dan jalan hidup seseorang.

Dengan memahami filosofi ini, umat Hindu Bali dapat menjalani kehidupan yang selaras dengan Gunaning Urip lan Panujuning Urip, yaitu kegunaan dan orientasi hidup yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#buda #WEWARAN #redite #anggara #saniscara #sukra #Soma #Sapta Wara #wraspati