Ada lima jenis kayu yang memiliki nilai magis dan sakral dalam bahan dasar topeng sehingga semakin metaksu saat disolahkan.
Seniman sekaligus budayawan asal Batan Buah, Desa Kesiman, Denpasar, Gede Anom Ranuara menjelaskan secara istilah panca datu dalam konteks bahan dasar pembuatan tapel dapat diarikan sebagai lima warna.
“Warna juga ke ragam atau macam. Jadi kalau berbicara tentang topeng, maka kita harus mengetahui bahan-bahan dasar dalam pembuatan topeng, utamanya jenis kayu yang digunakan,” ungkap Ranuara.
Berdasarkan penuturan para pendahulunya, ada lima jenis kayu sebagai bahan dasar dalam pembuatan tapel. Diantaranya kayu Dadap Wong.
Baca Juga: Kronologi Ditemukannya Pria Petani Jagung di Jurang Bikin Miris: Tewas dengan Wajah Terluka Parah
Kayu ini terkenal teksturnya berair, seratnya kasar, tetapi berduri. Kayu tersebut digunakan untuk topeng Sida Karya.
“Kenapa digunakan dalam Topeng Sidakarya? Karena Kayu Dapdap Wong itu adalah kayu sakti,” imbuhnya.
Ia juga mendapat petunjuk dari pendahulunya bahwa kayu dapdap wong juga bisa digunakan untuk topeng yang paling sering diperankan. Maka topeng itu hendaknya digunakan dari kayu dapdap wong.
“Wong itu artinya manusia. Jiwanya menjadi satu kesatuan dengan manusia. Sakti itu adalah kekuatannya. Sehingga terciptanya taksu,” paparnya.
Kayu kedua yang digunakan sebagai bahan dasar tapel adalah Kayu Bintaruh. Kayu ini sifatnta sudah bergetah. Kemudian kayu ketiga yang bisa digunakan adalah Jepun Bali. Kayu ini juga memiliki sifat bergetah.
Kayu keempat yang bisa dijadikan sebagai bahan dasar tapel adalah Kayu Jaran. Namun, kayu ini sifatnya tanpa getah.
Selama ini ada banyak seniman tapel yang mengunakan kayu jaran atau kayu kapal dalam Bahasa Jawa Kuno untuk diukir menjadi tapel.
Bahkan, di Sanur kayu ini dikenal dengan kayu Kapal. Teksturnya sangat halus, alot atau ngales.
Tapi kalau sudah dibuat jadi topeng maka tapel akan sangat ringan saat digunakan. Tentu ini sangat menguntungkan pragina.
Kayu kelima adalah kayu pule. Kayu Pule menurutnya paling banyak digunakan sebagai tapel. Inilah disebut dengan panca datu.
Namun, kayu-kayu ini digunakan untuk beragam jenis topeng sesuai dengan karakternya.
Selain lima kayu tersebut, ada pula Kayu Timbul yang bisa menjadi bahan dasar pembuatan Tapel. Menurutnya, kalau membuat tapel celuluk, usahakan agar dapat kayu Timbul.
Bukan pule. Karena yang berstana di Pohon Timbul yaitu Hyang Kalika yang merupakan berbentuk Celuluk.
Baca Juga: Hindari Pemotor, Mobil Wuling Tabrak Pagar Rumah Warga hingga Terguling: Begini Kondisi Pengemudinya
Ia menambahkan, khusus untuk kayu pule disebutkan dalam wit tiga sakti. Yaitu kayu yang di kuburan itu minimal ada tiga jenis kayu.
Biasanya kayu tersebut diantaranya jenis Kepah, Kepuh, Rangdu. Kemudian bisa juga kayu timbul, dapdap wong ditanam di setra.
Kalau kayu pule ini statusnya sebagai kayu transisi. Sehingga pule dianggap netral dan bisa difungsikan ke seluruh tapel.
“Berbagai topeng bisa memakainya. Karena mudah dikerjakan, dan kekuatan bisa dijamin. Kalau memang dewasa menebang pohonnya juga sudah benar,” ungkapnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika