Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Sri Tumpuk di Pura Luhur Batukaru, Tabanan Simbol Kemakmuran, Sutri Bertumpuk hingga Dua Meter

I Putu Mardika • Sabtu, 11 Januari 2025 | 04:41 WIB

 

Pura Luhur Batukau
Pura Luhur Batukau
BALIEXPRESS.ID-Pura Batukaru, yang terletak di Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Tabanan merupakan pura kahyangan yang erat kaitnnya dengan subak dan pertanian.

Uniknya, di Pura ini juga dilaksanakan tradisi Sri Tumpuk yang rutin dilaksanakan setiap enam bulan sekali.

Pura Batukaru diempon oleh delapan Desa Adat. Kedelapan Desa Adat selaku Panjak Pekandelan Ida Bhatara Batukaru tersebut, yaitu terdiri atas Desa Wongaye Gde, Desa Adat Tengkudak, Desa Adat Kloncing, Desa Adat Batu Kambing, Desa Adat Bengkel, Desa Adat Penganggahan, Desa Adat Amplas, dan Desa Adat Sandan.

Pura Kahyangan Jagat Batukaru erat kaitannya dengan stana dewata nawa sanga. Di pura ini berstana Dewa Mahadewa di arah pascima (barat) yang juga diyakini menjaga jagat Pulau Dewata.

Baca Juga: Sakit Tiwang, Bisa Obati dengan Boreh hingga Loloh, Begini Bahannya

Salah satu tradisi yang dilaksanakan adalah Sri Tumpuk. Upacara Sri Tumpuk yang di laksanakan setiap enam bulan sekali, yaitu pada saat akhir dari piodalan di Pura Luhur Batukaru yang jatuh pada Rahina Redite Wuku Kuningan.

Upacara Sri Tumpuk yang di laksanakan di Pura Luhur Batukau terlihat sangat unik. Karena dalam upacara tersebut sarana inti yang di persembahkan harus memakai padi.

Padi menurut kepercayaan masyarakat Desa Wongaya Gede adalah simbol Dewi Sri. Sarana utama yang digunakan adalah padi.

Tokoh Adat Wongaya I Ketut Sucipta menjelaskan Ritual Sri Tumpuk dilaksanakan setelah upacara Nyanjan.

Semua sarana yang sudah di rangkai sedemikian halnya siap dipergunakan dengan munggahang upakara pada palinggih Padma Tapasana.

Pelaksanaan munggahang upakara dilakukan oleh serathi yang dibantu oleh ancangan istri. Setelah semua banten munggah di palinggih Padma Tapasana dilanjutkan dengan Metabuh Enak yang diringi Tarian Rejang Pemendak.

Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Maut yang Mengakibatkan Dua Pelajar Tewas Tertimpa Truk Trailer, Ini Penyebabnya

Tarian Rejang Pemendak mengelilingi ayam dan bebek yang ada didalamnya. Ayam dan bebek sebagai simbol satwam dan rajas, dengan mengelilingi 3 (tiga) kali dan memberikan tetabuhan.

Hal ini sebagai suatu simbol pengembalian kepada unsur Panca Maha Butha ke asalnya. Dengan harapan agar piodalan bisa berlangsung secara lancar.

Sebelum nedunang Ida Bhatara terlebih dahulu dihaturkan upakara berupa daksina pejati, pengulapan, ajuman, pengambean, pabersihan, suci sari, segehang agung sambleh bebek bulu sikep beserta sarin tahun, manik galih dan rambut sedana.

Upakara dihaturkan oleh pamangku pangakan pasek yang menjadi pemimpin dalam upacara Sri Tumpuk.

“Upacara Sri Tumpuk diyakini oleh umat setempat sebagai rasa syukur dan terima kasih kepada Bhatari Sri dalam wujud persayan-persayan Beliau. Karena Dimana telah memberikan hasil panen yang melimpah, serta untuk memohon keselamatan dan kerahayuan,” katanya.

Ketinggian dari pada para sutri yang bertumpuk pada prosesi upacara sri tumpuk bisa mencapai lebih dari 2 (dua) meter dan jumlah para sutri yang bertumpuk tidak dapat diperkirakan atau tak terbatas.

Sehingga anugrah Beliau juga tak terhingga selain itu juga para sutri berasal dari berbagai kalangan yaitu seperti anak-anak, remaja, maupun orang tua serta merta ngayah.

“Sri Tumpuk juga sebagai implementasi dari manusia yang bertumpuk-tumpuk. Sehingga sangat sama memilik kesamaan dengan padi yang ditumpuk di sawah,” singkatnya. (dik)

Keterangan foto

Pura Batukaru, Tabanan menjadi tempat pelaksanaan tradisii Sri Tumpuk (ist)

Editor : I Putu Mardika
#wongaya #Sri Tumpuk #pura #Batukaru #tabanan