BALIEXPRESS.ID - Pura Dalem Pengerubungan yang terletak di Banjar Yoh, Desa Pengotan, Bangli, menyimpan kisah perjuangan pahlawan bangsa, Kapten AA Gede Anom Mudita, dan para pejuang Bali Timur dalam merancang strategi pertempuran melawan penjajah.
Pura yang kini menjadi tempat bersejarah ini dulunya dibangun saat pejuang dari berbagai kabupaten berkumpul, membentuk ikatan, dan menyusun rencana perang.
Namun, seperti apa kondisi pura ini sekarang? Mari kita telusuri lebih lanjut.
Di tengah hamparan kebun jeruk yang menenangkan, suasana pedesaan yang sejuk dan jauh dari hiruk-pikuk kota, Banjar Yoh menyambut kedatangan siapa saja yang ingin mengenang masa perjuangan.
Berjarak hanya dua kilometer dari Jalan Raya Bangli-Kintamani, Banjar Yoh menyimpan cerita luar biasa.
Sebelumnya, wilayah ini menjadi tempat berlindung bagi para pejuang Bali Timur, termasuk Kapten Mudita, yang berjuang menyusun taktik perlawanan terhadap penjajah.
Pura Dalem Pengerubungan diperkirakan dibangun pada tahun 1940-an.
Jero Mangku Sofa, Pemangku Pura Dalem Pengerubungan, mengungkapkan bahwa pada masa itu, pejuang yang melintas di daerah tersebut menggunakan pura sebagai tempat berlindung sementara.
Bahkan, mereka ikut berpartisipasi dalam pembangunan pura ini.
"Dulu pura ini bernama Pura Penghubung. Namun, karena pelafalan yang cepat, akhirnya disebut Pengerubungan. Nama ini mencerminkan peran tempat ini sebagai penghubung bagi pejuang dari berbagai daerah," kata Mangku Sofa kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Situs ini menjadi lokasi yang aman bagi para pejuang, karena terletak di tengah hutan belantara.
Pejuang dari Buleleng Timur, Gianyar, hingga Karangasem berkumpul dan beristirahat di sini sebelum bertempur.
Keberadaan mereka di tempat ini bahkan membuat musuh kesulitan untuk menemukan keberadaan mereka.
Meski pura ini memiliki kisah heroik, sebuah goa yang terletak 60 meter dari pura, yang dulunya berfungsi sebagai tempat persembunyian para pejuang, masih menyimpan misteri.
Goa tersebut kini sulit dijangkau, dan Mangku Sofa mengungkapkan bahwa hanya sedikit orang yang dapat mengakses tempat itu, yang penuh dengan semak belukar.
Kapten Mudita, yang dianggap sebagai pionir bagi pejuang Desa Pengotan, turut membantu dalam pembangunan pura ini.
"Saat beliau tinggal di sini, kami memberikan makanan kepada beliau untuk sementara berteduh di hutan," ujar Mangku Sofa mengenang.
Namun, setelah perjalanannya kembali ke Bangli, Kapten Mudita gugur dalam pertempuran melawan tentara Belanda, dan kisah kepahlawanannya tetap dikenang.
Sebagai bentuk penghormatan, warga Desa Pengotan, khususnya Banjar Yoh, mengusulkan pembangunan monumen pahlawan di depan Pura Dalem Pengerubungan.
Monumen setinggi tujuh meter itu menampilkan foto Kapten Mudita yang masih muda, mengenakan pakaian kebesaran.
Meskipun rumput liar tumbuh di sekitar monumen, namun kisah perjuangannya tetap hidup.
Tak hanya sekadar monumen, cerita mistis juga melingkupi perayaan di desa ini.
Mangku Sofa mengungkapkan bahwa Kapten Mudita pernah berpesan agar setiap 17 Agustus, warga Desa Pengotan melaksanakan upacara bendera sebagai bentuk penghormatan.
Setiap HUT RI, warga juga melaksanakan upacara agama yang diiringi sesaji sebagai bentuk rasa syukur.
Monumen ini bukan hanya sekadar simbol, melainkan juga pengingat perjuangan keras yang telah dilalui oleh para pejuang Bali Timur untuk meraih kemerdekaan.
Keberadaan pura ini menjadi saksi bisu bagaimana para pejuang, termasuk Kapten Mudita, melawan penjajah dan mewariskan semangat perjuangan kepada generasi berikutnya. ***
Editor : I Putu Suyatra