Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bhakti Penganyar di Pura Gunung Raung, Taro, Tegallalang

Putu Agus Adegrantika • Minggu, 19 Januari 2025 | 18:25 WIB
SEMBAHYANG : Persembahyangan pada bhakti penganyar di Pura Gunung Raung, Taro, Tegallalang Gianyar.
SEMBAHYANG : Persembahyangan pada bhakti penganyar di Pura Gunung Raung, Taro, Tegallalang Gianyar.

BALIEXPRESS.ID – Bhakti penganyar serangkaian pujawali di Pura Gunung Raung, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Gianyar digelar oleh Pemerintah Kabupaten Gianyar bersama Pemerintah Kabupaten Tabanan, Jumat (17/1). Pura Gunung Raung adalah salah satu pura yang terletak di Bali, dan memiliki kaitan erat dengan Pura Gunung Raung di Pulau Jawa.

Pura tersebut memiliki nilai spiritual dan budaya penting bagi masyarakat Bali. Pura ini memiliki fungsi sebagai tempat untuk beribadah dan melakukan kegiatan keagamaan, khususnya dalam tradisi Hindu Bali. Gunung Raung sendiri dikenal oleh masyarakat Bali sebagai tempat yang memiliki kekuatan spiritual.

Pura Gunung Raung juga sering dikaitkan dengan kegiatan ritual yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam dan kehidupan masyarakat. Sehingga kegiatan bhakti penganyar tersebut digelar sebagai persembahan yadnya, khususnya dewa yadnya.

Kepala Kementerian Agama Kantor Kabupaten Gianyar, I Gusti Ngurah Agung Wardhita, memaparkan yadnya adalah istilah dalam agama Hindu yang merujuk pada berbagai bentuk upacara atau persembahan. Khususnya yang dilakukan sebagai bentuk pengabdian, rasa syukur, dan permohonan kepada Tuhan, para dewa, serta roh leluhur.

“Kata yadnya berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti pengorbanan atau persembahan. Dalam konteks agama Hindu, yadnya dilakukan untuk memperoleh kesejahteraan, kedamaian, dan keberkahan,” jelas Agung Wardhita.

Sementara Dewa Yadnya adalah salah satu bentuk upacara atau persembahan dalam agama Hindu yang dilakukan untuk menghormati dan memuja Tuhan atau para dewa. Dalam konsep Hindu, Tuhan sebagai manifestasi dari berbagai bentuk kekuatan dan energi alam semesta diwakili oleh berbagai dewa.

Upacara ini bertujuan untuk menjaga hubungan yang harmonis antara umat manusia dengan Tuhan dan para dewa, serta memohon berkah dan kesejahteraan. Dewa Yadnya  pada umumnya dilakukan dengan cara menyajikan berbagai jenis persembahan, seperti bunga, air, makanan, dupa, serta sesajen lainnya.

“Selain itu, doa-doa dan mantra yang khusus juga dibacakan selama upacara berlangsung untuk memohon anugerah dari Tuhan dan para dewa. Persembahan ini biasanya dilakukan dalam rangka merayakan hari-hari suci,  termasuk dalam bhakti penganyar ini,” pungkas Agung Wardhita.

Dalam Dewa Yadnya, pengorbanan yang dimaksud bukan berarti pengorbanan yang bersifat fisik atau merugikan.  Melainkan sebagai pengorbanan simbolis berupa persembahan sebagai tanda syukur dan penghormatan kepada Tuhan *

Editor : Putu Agus Adegrantika
#Pura Agung Gunung Raung Taro